Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Manusia Papua dan tanah Papua ada bukan kebetulan. Keberadaan manusia Papua dan tanah Papua tidak terjadi seperti ibaratnya seorang anak kecil melempar batu lalu membekas pada tempat di mana baru itu jatuh atau terkena. Artinya, tanah dan manusia Papua ada bukan tanpa alasan, bukan tanpa renca dan kehendak Pencipta. Pencipta pun tidak mungkin pergi tanpa merawatnya, seperti ibarat anak kecil yang melempar batu yang tidak mungkin melihat kembali bekas batu yang dilemparkannya. Pencipta pasti turut hadir dalam keberadaan, pertumbuhan dan perkembangan ciptaan-Nya. Tentu karena Pencipta melebur dalam ciptaan dan secara jasmani tidak terlihat maka dirasa (dianggap), Pencipta alpa dan pergi meninggalkan ciptaan-Nya, dan tidak tahu entah di mana Pencipta itu sedang berada. Dari sini orang Papua membangun “iman tempelan” dan “iman ikut-ikutan”. Iman yang selama ini dibangun masih tempel-tempel dan belum mandiri atau belum asli. Saatnya, bangun iman yang lebih akurat berdasarnya kenyataan hidup yang dialami.
Membongkar “Iman Tempelan” Orang Papua
Orang Papua saat ini ibarat sedang berada di padang pasir atau padang gurun. Mereka tengah pengalaman “ambang batas” kehidupan, bingung antara melanjutkan perjalanan atau menyerah dan mati di situ.
Kenyataannya, orang Papua memiliki modal dan kekuatan berupa tanah, bahkan tanah itu subur, berlimpah-limpah susu dan madu, tapi dalam kelimpahan ini tercipta bathin “rasa kurang, terbatas dan tidak berdaya.” Orang Papua lapar dan mati rasa dalam kelimpahan rahmat. Orang Papua mati banyak dalam iming-iming kemewahan dan kekayaan buatan manusia. Dirasa kurang dan ketinggalan tanpa memiliki alat canggih buatan manusia, karenanya demi memilikinya hak sulung digadaikan.
Orang Papua telah masuk dalam perlombaan sengit dunia dan tengah berkompetisi hingga lupa pulang kembali ke akar dan dasar. Mereka menemukan oase palsu di tengah dunia tipu-tipu dan semu dan mereka keenakan di sana. Secara biblis, anak sulung pergi menghabiskan kekayaan dan berfoya-foya dengan para pelacur hingga jatuh miskin, namun ia ingat kembali ayah dan pulang (bdk., Luk. 15:11-32). Berbeda dengan orang Papua, mereka bahkan berfoya-foya dan keenakan sampai mati dalam kepalsuan dunia.
Percaturan yang sedang dipermainkan orang Papua makin berat dan rumit, terhimpit dalam kepalsuan iman. Krisis iman sedang dialami orang Papua. Harapan akan kehidupan, keselamatan dan kemerdekaan pun makin meredup dalam rutinitas dan kebohongan. Orang Papua mudah percaya pada tipu daya muslihat. Tidak mau berkata seperti Tomas, “sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukan tanganku pada lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya, “(bdk., Yoh. 20:25). Orang Papua butuh daya nalar kritis seperti Santo Tomas supaya tidak mudah dipermainkan. Nalar yang kritis butuh studi kritis dan teori kritis, supaya tidak langsung percaya pada “kata orang”, tetapi sebaliknya karena “mengalami sendiri dan melihat sendiri.”
Hingga saat ini orang Papua percaya penuh pada perkataan orang. Sering percaya juga pada “rancangan jahat” untuk mau merusak kehidupannya. Mereka percaya pada rayuan, penipuan dan pembohongan dengan iming-iming akan mendapatkan uang, kekayaan dan kemewahan palsu, termasuk pemerintah setempat, hingga mengizinkan atau membuat MoU untuk memasukan aneka perusahaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mulai dari pejabat hingga masyarakat kecil Papua telah beralih pada cara pikir “hedonis, konsumtif dan sekuler.” Ibarat, “menjual sebuah perusahaan mobil untuk membeli satu mobil.”
Cara pikir kerdil ini tumbuh dalam orang Papua, bahkan pejabat Papua sekalipun. Hal ini menandakan bahwa iman orang Papua masih kerdil, ikut-ikutan, tempelan dan bahkan tidak ada iman. Beriman secara terpaksa dan supaya dilihat orang. Orang Papua beriman KTP (Kartu Tanda Penduduk), beragama tanpa beriman dan berTuhan. Di sini, orang Papua kehilangan kekayaan rohani, kekayaan yang tidak dapat diambil orang.
Di Papua banyak gereja didirikan di mana-mana, bahkan hampir satu keluarga satu gereja, namun belum terlihat penghayatan iman yang mengakar dalam kehidupan nyata, iman yang kontekstual tidak tertampak dan bahkan belum berdampak. Pewartaan dan permenungan, juga pengetahuan iman yang dirayakan dapat saja bertolak belakang dengan kenyataan real. Membawa orang ke Surga, padahal sedang ada dalam duka dan kecemasan, isak dan tatap tangis. Dalam kenyataan ini, orang tidak akan sampai kepada kenyataan penderitaan sesungguhnya dan usaha perbaikan pun tidak akan terlaksana.
Membangun “Iman Akurat” di Papua
Papua dikatakan Surga, namun kenyataan yang tercipta adalah neraka. Orang Papua tengah mengalami nasib hidupnya seperti di dalam neraka. Misalnya, banyak tempat di Papua yang sedang ada di dalam perang bersenjata, sedangkan tempat lainnya sedang ada dalam perang dingin. Banyak tempat dan banyak orang Papua yang sedang ada dalam pengungsian. Geopolitik yang makin meningkat dan memanas berpengaruh pula dalam pewartaan juga melakukan perayaan dan penghayatan iman.
Para Gembala di Papua harus berputar otak untuk mewartakan Allah yang penuh belas kasih, Allah yang Maharahim dan Allah yang penuh cinta ketika diperhadapkan pada wajah-wajah bengis yang tidak memiliki belas kasih dan penghormatan pada kemanusiaan. Demi ideologi Papua Merdeka harga mati dan NKRI harga mati, telah membuat warga kehilangan sumber-sumber kehidupan.
Situasi hidup yang sedang tercipta di Papua membuat kehidupan manjadi penuh pertanyaan, hidup menjadi penuh absurd dan tidak pasti. Orang Papua kehilangam harapan dan iman karena memang iman tempelan dan bukan asli. Beriman pada Allah menurut pandangan dan pemahaman orang lain, Allah menurut pengetahuan dan pengalaman orang lain, bukan berdasarkan pengalaman dan pencarian sendiri sesuai kenyataan yang dihadapi.
Iman orang Papua harus bersandar dan berdasarkan pada pengalaman hidup sendiri dalam kesejarahan dan kebudayaan sendiri. Maka, ketika orang Papua beriman akurat, orang Papua harus kembali menggali akar keberadaan manusia Papua, dan beriman pada Pencipta manusia pertama Papua. Allah yang menciptakan manusia pertama Papua tidak mungkin pergi meninggalkannya: Ia terus menjaga, menuntun, merawat, memperbaiki jika rusak, membaharui jika lupa dan kehilangan, membebaskan jika terperangkap dan menyelamatkan jika tersesat.
Allah orang Papua sedih melihat kemalangan orang Papua. Allah orang Papua tidak suka kepada Orang Papua yang hidup tidak sesuai dengan kehendak-Nya, orang Papua yang hidup seperti binatang, orang Papua yang tidak menjadi manusia yang beriman, orang Papua yang gampang ditipu, dll. Ia mengharapkan orang Papua hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan untuk itulah Allah senantiasa hadir bersama orang Papua, tinggal bersama orang Papua di tanah Papua, kalau pun orang Papua sendiri melupakan Allah dan membangkang.
Penutup
Allah setelah menciptakan tanah Papua dan manusia Papua tidak pergi jauh. Allah tidak pernah meninggalkan orang Papua. Allah tidak pernah terlambat menolong orang Papua. Hanya orang Papua yang telah pergi jauh dari Allah. Telah pergi jauh dari diri dan tanahnya sendiri. Orang Papua telah kehilangan iman asli dan asali, Allah asli yang selalu ada bersama: Allah yang memberikan pertumbuhan dan kehidupan, Allah yang memberikan perlindungan dan tuntunan di setiap waktu. Allah itu ada sejak awal hingga saat ini, di tanah ini dalam kesuburan dan kekayaan, hanya manusia Papua yang menggadaikannya demi uang, demi jabatan dan demi harta duniawi.
Penulis adalah Dosen STK “TP” Deiyai, Keuskupan Timika