NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM- Pemerintah Provinsi Papua Tengah menyelenggarakan Seminar dan Workshop Inisiasi Pendirian Universitas Negeri selama dua hari, Rabu-Kamis, (30–31/07). Kegiatan ini berlangsung di Ballroom Kantor Gubernur sementara Papua Tengah, Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Morgo, Distrik Nabire, mulai pukul 10.00 WIT.
Forum penting ini melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan dari berbagai wilayah di Papua Tengah. Tujuannya untuk merancang secara konkret pendirian perguruan tinggi negeri pertama di provinsi baru ini.
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, SH., membuka acara dengan sambutan dan menyampaikan visi besar. Ia menegaskan bahwa kampus negeri di Papua Tengah bukan sekadar proyek pembangunan biasa.
Menurutnya, universitas negeri adalah simbol perjuangan membuka akses pendidikan tinggi yang adil dan merata. Kehadirannya sangat dibutuhkan oleh anak-anak asli Papua Tengah yang selama ini menghadapi kesulitan untuk kuliah di luar daerah.
“Kalau universitas negeri hadir di sini, anak-anak yang tidak mampu tetap bisa kuliah di kampungnya sendiri,” kata Nawipa. “Itulah tujuan besar kita,” lanjutnya menekankan.
Ia menyoroti kesenjangan pendidikan antara keluarga mampu dan tidak mampu di Papua Tengah. Anak-anak dari keluarga mapan bisa studi ke luar daerah bahkan luar negeri, sementara sebagian besar lainnya tertinggal.
Menurut Gubernur, mendirikan kampus negeri adalah langkah nyata menjembatani ketimpangan tersebut. Kampus ini harus hadir sebagai jalan keluar, bukan sekadar simbol.
Nawipa menginginkan kampus yang akan dibangun menjawab kebutuhan riil masyarakat Papua Tengah. Ia menyebut kampus harus berbasis pada potensi lokal dan budaya setempat.
Ia menyarankan agar dibuka jurusan seperti kopi, pertanian dataran tinggi, perikanan, manajemen pendidikan, keperawatan, dan kedokteran. Jurusan-jurusan ini langsung menyentuh sektor penting di wilayah tersebut.
“Kalau kita buka jurusan kopi, kita bisa kerja sama dengan IPB,” katanya. “Kalau kedokteran, kita bisa gandeng UI atau kampus lain,” tambahnya.
Gubernur juga memastikan bahwa sistem negara mendukung proses pendirian universitas ini. Kemendikbudristek, LLDIKTI, dan berbagai kampus mitra akan dilibatkan.
Ia ingin universitas negeri di Papua Tengah bukan hanya tempat belajar, tapi juga pusat pemberdayaan masyarakat. Kampus ini harus mendorong kemandirian dan kemajuan daerah.
Dalam sambutannya, Meki juga menyampaikan refleksi filosofis tentang peran pejabat publik. Menurutnya, jabatan hanyalah alat untuk memberi warisan terbaik bagi rakyat.
“Hidup ini akan berlalu,” ujarnya dengan suara tenang. “Lebih baik kita isi waktu dengan memberi berkat,” lanjutnya memberi pesan mendalam.
Ia ingin agar universitas negeri yang dibangun menjadi warisan abadi bagi anak-anak Papua Tengah. Warisan ini akan mencetak pemimpin masa depan yang lahir dari tanahnya sendiri.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemprov Papua Tengah telah menyiapkan lahan seluas 40 hektar. Lahan ini akan digunakan untuk lokasi pembangunan kampus negeri.
“Kami siap lahan 40 hektar,” ujar Gubernur Nawipa. “Apalagi ini untuk SDM dan untuk banyak orang, karena saya hadir untuk banyak orang,” tegasnya.
Inisiatif ini disambut antusias oleh masyarakat, terutama generasi muda Papua Tengah. Selama ini, mereka merindukan adanya kampus negeri di wilayahnya sendiri.
Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat otonomi dan keadilan pendidikan di Papua Tengah. Ini bukan hanya soal pembangunan, tapi juga soal harga diri.
Universitas negeri di Papua Tengah akan menjadi tonggak sejarah baru. Sebuah batu karang kokoh bagi generasi masa depan untuk berdiri tegak di atas tanahnya sendiri.