NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM –Pastor Theodorus V. E. Makai, Pr., imam pertama dari Suku Mee sekaligus imam kedua dari Orang Asli Papua, merayakan ulang tahun ke-76 di Lapangan Wanggar, Kaladiri II, Nabire, Rabu (14/08).
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Perayaan, Paskalis Dogomo, mengatakan momen ini adalah bentuk penghormatan atas dedikasi panjang Pastor Theo. Lanjutnya, “Beliau menerima obor misionaris dan menjunjung nilai-nilai dasar sejak hari tahbisannya.”
Paskalis menyebut semangat pelayanan Pastor Theo tidak pernah padam meski usia telah senja. Bagi umat Mee, beliau adalah teladan yang patut diwarisi generasi muda.
Pastor Theo lahir di Apogomakida pada 14 Agustus 1949, meskipun beberapa catatan menyebut 1953. Sejak muda ia dikenal tekun belajar dan aktif dalam kegiatan gereja.
Pendidikan dasar ia tempuh di kampung halaman, lalu melanjutkan ke seminari menengah di Papua. Studi filsafat dan teologi ia jalani di seminari tinggi sebelum ditahbiskan menjadi imam.
Ia ditahbiskan pada 24 April 1980 di Lapangan Sepak Bola Moanemani, Dogiyai, oleh Uskup Jayapura Mgr. Herman Ferdinand Maria Münninghoff, O.F.M. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah bagi Gereja Katolik di wilayah Meeuwodide.
Nama “Magep” yang melekat padanya berasal dari organisasi yang ia dirikan di SGB Kokonau. Awalnya itu hanyalah singkatan, namun kemudian menjadi panggilan akrabnya hingga kini.
Setelah tahbisan, ia memulai pelayanan di Paroki Enarotali, Paniai, pada 1980–1982. Ia kemudian pindah ke SGB Kokonau, Kabupaten Mimika, dari 1982–1985 untuk membina kaum muda.
Pada 1985–1988, ia melayani di Paroki St. Yosef Waghete, Deiyai. Di sana ia memperkenalkan katekismus dalam bahasa Mee agar mudah dipahami umat.
Tahun 1988–1992, ia bertugas di Paroki St. Petrus & Paulus Madi, Dogiyai. Ia rutin berjalan kaki mengunjungi kampung terpencil seperti Mauwa, Bomomani, dan Ekemanida.
Dari 1992–1997, ia berkarya di Paroki Katedral Kristus Raja, Jayapura. Ia mendampingi umat urban dan membina komunitas Mee perantauan.
Periode 1997–2004, ia melayani di Paroki St. Maria Bunda Allah, Timika. Saat itu ia menghadapi tantangan sosial akibat dinamika tambang Freeport.
Pada 2004–2010, ia memimpin Paroki St. Yohanes Pemandi, Nabire. Ia membina Orang Muda Katolik dan menginisiasi kegiatan belajar budaya Mee.
Sejak 2010 hingga kini, Pastor Theo menjadi imam senior dan pengajar budaya Mee. Pada 2016, ia menulis diktat Seri Gali Nilai Positif Budaya Papua yang menegaskan istilah “Meeuwoo” sebagai identitas resmi Suku Mee.
Bagi Pastor Theo, iman dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ia selalu mengajak umat mencintai bahasa dan tradisi leluhur sambil terbuka pada nilai-nilai universal Gereja Katolik.
Selain memimpin liturgi, ia dikenal sebagai guru dan penulis. Ia mengumpulkan cerita rakyat, pepatah, dan filosofi hidup Suku Mee untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Perayaan ulang tahun kali ini dihadiri umat dari berbagai wilayah Papua. Mereka membawa hasil kebun, ukiran, dan tenunan sebagai tanda kasih.
Acara ditutup dengan doa syukur dan tarian adat khas Meeuwodide. Dalam sambutannya, Pastor Theo berterima kasih atas doa dan dukungan semua pihak.
Ia berpesan agar pelayanan dan budaya berjalan bersama demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat. Bagi masyarakat Mee, Pastor Theo adalah simbol kebanggaan dan teladan hidup.
Ulang tahun ke-76 ini menjadi pengingat bahwa panggilan mulia dapat tumbuh dari tanah pedalaman Papua. Nilai-nilai yang ia tanamkan akan terus berbuah demi generasi mendatang.