DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Sejumlah pemuda di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, menyampaikan penolakan terhadap masuknya pasokan sayur-sayuran dari Nabire. Penolakan tersebut rencananya akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2026.
Menurut keterangan yang diterima jelatapapuanews.com, langkah ini diambil karena melimpahnya hasil pertanian lokal di Kabupaten Dogiyai yang tidak terserap pasar. Akibatnya, sayur-sayuran milik mama-mama penjual di pasar setempat dilaporkan banyak yang membusuk karena tidak laku terjual.
“Di Dogiyai ini sebenarnya gudang sayur. Mama-mama sudah tanam dan bawa ke pasar, tapi tidak laku karena sayur dari luar terus masuk,” ujar salah satu pemuda Dogiyai, Selasa, (31/12) di Terminal Moanemani.
Para pemuda tersebut meminta agar pedagang maupun sopir angkutan dari Nabire tidak lagi membawa sayur-sayuran ke Kabupaten Dogiyai mulai awal tahun depan. Mereka berharap kebijakan ini dapat memberi ruang bagi hasil pertanian lokal untuk diprioritaskan dan meningkatkan pendapatan mama-mama penjual sayur di pasar.

Namun demikian, para pemuda juga menyampaikan peringatan bahwa akan ada tindakan tegas jika masih ditemukan kendaraan yang membawa sayur dari luar daerah masuk ke Dogiyai setelah tanggal tersebut. Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi gesekan di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, jelatanewspapua.com masih berupaya meminta klarifikasi dari pemerintah daerah Kabupaten Dogiyai, aparat keamanan, serta dinas terkait untuk mengetahui sikap resmi dan langkah yang akan diambil guna menjaga ketertiban serta melindungi perekonomian masyarakat lokal.
Pemerintah diharapkan dapat memfasilitasi dialog antara pemuda, pedagang lokal, sopir angkutan, dan distributor dari Nabire agar persoalan distribusi pangan ini dapat diselesaikan secara damai dan berkeadilan