DOGIYAI,JELATANEWSPAPUA.COM-Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kabupaten Dogiyai menggelar kegiatan penanaman 500 pohon pada Jumat (12/09). Kegiatan ini berlangsung di kawasan kaki Gunung Mago, tepatnya di Kampung Kimupugidan sekitarnya. Aksi tersebut melibatkan organisasi kepemudaan (OKP), Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta pihak Gereja Katolik.
Acara penanaman pohon dimulai sejak pagi pukul 09.00 WIT dengan doa pembukaan. Pemerintah Kabupaten Dogiyai hadir melalui Asisten III Setda, Wilem Tagi, yang juga dikenal aktif dalam pelayanan Gereja Katolik Santa Maria Immaculata Moanemani. Ia membuka kegiatan dengan memberikan sambutan apresiatif.
“Kami pemerintah berterima kasih kepada Pemuda Katolik yang menggagas kegiatan penting ini,” ujar Wilem Tagi. Menurutnya, penanaman pohon bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk kehidupan generasi mendatang.
“Apa yang kita tanam akan menjadi warisan bagi anak cucu,” tambahnya.
Ketua Pemuda Katolik Komcab Dogiyai, Beny Goo, menyampaikan rasa bangga kepada seluruh peserta. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan komitmen anak muda menjaga lingkungan.
“Hari ini kita tanam bukan hanya pohon, tetapi juga harapan dan kehidupan,” katanya.
Beny Goo juga menjelaskan jenis pohon yang ditanam bervariasi. Ada cemara (Uwa), jambu, geyawas, dan beberapa pohon lokal seperti Kopaa serta Mai. Semua bibit pohon dikumpulkan secara swadaya melalui inisiatif para pemuda.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari partisipasi berbagai pihak. OKP, OPD, dan pihak gereja hadir memberikan dukungan penuh.
“Terima kasih kepada saudara Redi Dogomo yang mengusahakan 500 bibit, juga Osea Petege yang ikut menggerakkan,” ujarnya.
Pastor Paroki Santo Petrus Mauwa, Pastor Benyamin Magai, Pr., ikut hadir memberi refleksi. Ia menekankan pentingnya menjaga ciptaan Tuhan melalui aksi nyata. “Menanam pohon adalah wujud iman kita. Alam ini rumah kita bersama,” ucapnya.
Pelaksana kegiatan, Osea Petege, yang juga anggota Satpol PP Kabupaten Dogiyai, menegaskan kegiatan diarahkan ke lokasi rawan longsor. Ia mengatakan aksi ini sekaligus menjadi langkah pencegahan bencana.
“Kami fokus menanam di titik strategis agar masyarakat terlindungi,” jelasnya.
Mewakili organisasi kepemudaan, Melky Tebai menyebut kegiatan ini sebagai bukti nyata persatuan lintas kelompok. Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi kunci keberhasilan kegiatan.
“Pemuda Katolik mengajak semua untuk bergerak, dan kami bangga bisa terlibat,” katanya.
Selain itu, Frater Martinus Tenouye yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Idakebo turut hadir. Ia menyebut bahwa cinta kepada alam harus diwujudkan dalam tindakan konkret.
“Kalau kita merawat alam, maka alam pun akan merawat kita,” ujarnya.
Partisipasi masyarakat terlihat sangat antusias. Ratusan orang, mulai dari pemuda, tokoh masyarakat, hingga mama-mama Papua, terlibat dalam kegiatan ini. Mereka membawa alat sederhana untuk membantu penanaman.
Suasana penuh semangat terasa sejak awal hingga akhir acara. Setiap peserta mengambil bagian menanam bibit di lokasi yang sudah ditentukan panitia. Meski kondisi tanah lembab, mereka tetap bekerja penuh sukacita.
Kegiatan berlangsung sekitar tiga jam dan ditutup pada pukul 11.00 WIT. Menariknya, hujan turun tepat di akhir penanaman pohon. Peserta menganggap hujan tersebut sebagai tanda berkat alam atas gerakan penghijauan.
Fransiska Agapa, pengurus Pemuda Katolik Komcab Dogiyai, menekankan bahwa penanaman pohon ini mendesak dilakukan. Ia mengingatkan ancaman erosi, banjir, dan longsor di wilayah Dogiyai.
“Pohon adalah benteng yang melindungi kehidupan manusia,” tegasnya.
Gunung Mago yang menjadi lokasi kegiatan dipandang memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat Mee. Menanam pohon di wilayah tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan pada tanah leluhur. Kegiatan ini sekaligus memperkuat ikatan masyarakat dengan alamnya.
Panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini akan menjadi program berkelanjutan. Mereka merencanakan pemantauan berkala untuk memastikan pohon tumbuh dengan baik. Komitmen ini diharapkan memberi dampak jangka panjang bagi lingkungan.
Bagi Pemuda Katolik Dogiyai, reboisasi bukan sekadar agenda sekali jadi. Gerakan ini akan dijadikan tradisi tahunan dengan melibatkan lebih banyak pihak. Mereka juga mendorong sekolah dan komunitas di Dogiyai untuk melakukan aksi serupa.
Kegiatan ini menjadi simbol persatuan antara pemerintah, gereja, pemuda, dan masyarakat. Penanaman 500 pohon tidak hanya menghasilkan bibit baru di tanah, tetapi juga menanam semangat baru di hati setiap peserta. Dogiyai menunjukkan teladan menjaga alam dengan kebersamaan.
Pada akhirnya, kegiatan penanaman pohon di kaki Gunung Mago meninggalkan pesan kuat. Dalam era perubahan iklim, gerakan kecil ini menjadi cahaya harapan besar.
Dari Dogiyai, tumbuh gerakan hijau yang memberi inspirasi bagi Papua, Indonesia dan Dunia.