Harian Pengantara adalah salah satu media bersejarah yang terbit di Papua pada masa transisi dari administrasi Belanda menuju pemerintahan sendiri bagi bangsa Papua. Edisi khusus yang memuat “Manifesto Politik Komite Nasional Papua” pada awal 1960-an menjadi bukti otentik tentang aspirasi politik rakyat Papua untuk menentukan nasibnya sendiri. Menurut Pieter Drooglever, naskah-naskah di media ini memberikan jejak penting mengenai gagasan Papua sebagai bangsa yang berbeda dari Indonesia (Drooglever, Een Daad van Vrije Keuze, 2005).
Tulisan utama dalam edisi tersebut menampilkan judul besar “Komite Nasional Papoea” yang menegaskan peran organisasi ini sebagai wadah representasi rakyat Papua. Komite ini dibentuk untuk merumuskan cita-cita politik, menyusun agenda pembangunan, serta mempersiapkan transisi menuju pemerintahan sendiri. Menurut Pusat Arsip Nasional Belanda, Komite Nasional Papua dibentuk tahun 1961 dengan anggota yang mewakili berbagai wilayah dan kelompok masyarakat (Nationaal Archief, 1961).
Di bagian tengah surat kabar ini, tampak teks manifesto politik yang dikenal sebagai “Manifesto Papua.” Isinya menegaskan tekad bangsa Papua untuk membentuk negara merdeka di tanah leluhur. Manifesto tersebut menekankan kebebasan, martabat, dan hak menentukan nasib sendiri. Richard Chauvel mencatat bahwa manifesto ini adalah dokumen pertama yang secara resmi mengartikulasikan konsep Papua sebagai bangsa modern (Chauvel, Constructing Papuan Nationalism, 2005).
Selain manifesto, Pengantara menampilkan bendera “Bintang Kejora” dengan warna merah, putih, biru, dan hitam, yang kini dikenal luas sebagai simbol perjuangan Papua. Bendera ini dirancang oleh Marcus Kaisiepo dan diresmikan oleh Komite Nasional Papua pada 1 Desember 1961 di Hollandia, kini Jayapura. Arsip Het Nieuwsblad voor Nederlands-Nieuw-Guinea mencatat bahwa pengibaran pertama Bintang Kejora disaksikan ribuan orang Papua (Het Nieuwsblad, 1961).
Surat kabar ini juga menampilkan foto tokoh Papua seperti Nicolaas Jouwe, Willem Inury, Herman Womsiwor, dan beberapa lainnya. Mereka dianggap sebagai generasi awal elit politik Papua yang menyuarakan identitas kebangsaan secara modern. Van Baal, administrator Belanda saat itu, menyebut bahwa tokoh-tokoh ini mendapat dukungan luas dari masyarakat yang mulai sadar politik (Van Baal, Ontwikkelingswerk in Nieuw-Guinea, 1962).
Manifesto Papua sebagaimana tertulis dalam Pengantara bukan hanya simbol politik, tetapi juga mengandung janji pembangunan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Dokumen ini menekankan bahwa kemerdekaan berarti kesejahteraan rakyat. Benny Giay menilai aspirasi ini lahir dari pengalaman ketidakadilan kolonial dan harapan akan masa depan yang lebih baik (Giay, Menuju Papua Baru, 2000).
Edisi ini menunjukkan bagaimana Belanda berupaya menyiapkan Papua menuju pemerintahan sendiri. Pers Belanda kala itu mendorong lahirnya identitas nasional Papua. Arsip Belanda menyebut bahwa pada 19 Oktober 1961, Dewan Nugini Barat secara resmi mengakui Komite Nasional Papua sebagai representasi rakyat Papua (Nationaal Archief, 1961).
Kehadiran Pengantara juga mencerminkan perkembangan pers di Papua pada masa transisi. Media ini tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga membentuk opini politik. UNESCO tahun 1961 melaporkan bahwa media lokal berperan penting dalam pendidikan politik masyarakat (UNESCO Report, 1961).
Manifesto dalam edisi ini menegaskan cita-cita Papua untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Hal ini menjadi dasar moral perjuangan Papua hingga kini. Drooglever menyebut bahwa isi manifesto dipengaruhi arus dekolonisasi global pasca-Perang Dunia II (Drooglever, 2005).
Simbol-simbol seperti bendera, lagu kebangsaan, dan manifesto merupakan bagian penting dalam pembentukan identitas bangsa. Antropolog Gerrit Jan Held menyebut simbol-simbol itu memperkuat rasa kebersamaan masyarakat Papua yang beragam (Held, Papua: A Cultural History, 1962).
Edisi ini juga menunjukkan bagaimana rakyat Papua mulai menempatkan dirinya sebagai bagian dari bangsa modern. Tokoh-tokoh terdidik tampil sebagai figur publik yang berani bicara di forum internasional. Chauvel menyebut elit-elit Papua sudah berinteraksi dengan Belanda dan PBB (Chauvel, 2005).
Isi manifesto menggarisbawahi hak asasi manusia, termasuk hak merdeka dan hidup bermartabat. Pandangan ini sejalan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB tahun 1948 (UN General Assembly, 1948).
Keberanian Komite Nasional Papua mendeklarasikan simbol-simbol kebangsaan merupakan langkah bersejarah. Meskipun Papua masih di bawah Belanda, aspirasi rakyatnya sudah jelas. Van Baal mencatat hal ini memicu perdebatan di Den Haag mengenai arah politik Belanda (Van Baal, 1962).
Namun, langkah ini juga menimbulkan ketegangan dengan Indonesia, yang menolak gagasan Papua merdeka. Indonesia mengklaim Papua sebagai bagian dari wilayahnya berdasarkan warisan Hindia Belanda. Subandrio dalam catatan diplomasi menegaskan sikap Indonesia tersebut (Subandrio, Diplomasi Indonesia, 1969).
Meski penuh tekanan, Pengantara mencerminkan optimisme rakyat Papua. Keyakinan bahwa Papua mampu membangun dirinya tercermin dalam setiap artikel. Arsip Belanda menunjukkan bahwa Belanda mendukung pendidikan dan administrasi untuk masyarakat lokal (Nationaal Archief, 1961).
Peran media seperti Pengantara sangat penting dalam membentuk identitas bangsa. Dengan menuliskan manifesto, media ini memberi ruang bagi rakyat Papua untuk melihat cita-cita bersama. Benedict Anderson menyebut peran media sebagai pengikat “komunitas terbayang” (Anderson, Imagined Communities, 1983).
Foto-foto tokoh Papua dalam surat kabar ini memberi pesan kuat bahwa bangsa ini sudah memiliki pemimpin. Mereka adalah simbol kesiapan Papua menjadi bangsa merdeka. Chauvel menilai generasi awal pemimpin Papua ini menjadi inspirasi perlawanan politik berikutnya (Chauvel, 2005).
Bendera Bintang Kejora dalam edisi ini dihubungkan dengan tanah, laut, dan rakyat Papua. Warna-warnanya memiliki makna mendalam sebagai identitas kolektif. Marcus Kaisiepo mencatat desain ini dirancang untuk mewakili seluruh Papua (Kaisiepo Papers, 1961).
Manifesto juga menyoroti pentingnya pembangunan manusia melalui pendidikan. Pendidikan dianggap pilar utama menuju kemerdekaan. Benny Giay menyebut gagasan pendidikan ini krusial karena mayoritas rakyat Papua masih minim akses sekolah (Giay, 2000).
Isu kesehatan menjadi perhatian penting manifesto. Disebutkan perlunya layanan kesehatan bagi rakyat Papua. WHO tahun 1961 melaporkan angka kematian bayi di Papua sangat tinggi, menegaskan relevansi manifesto (WHO Report, 1961).
Selain itu, manifesto menekankan persatuan di tengah keragaman bahasa dan suku di Papua. Papua memiliki lebih dari 250 bahasa lokal yang berbeda. Antropolog Silas Papare menilai semangat persatuan ini adalah upaya strategis (Papare Papers, 1961).
Tanah dan sumber daya alam disebut sebagai warisan leluhur yang harus dijaga. Manifesto menegaskan kedaulatan Papua atas tanahnya. John Ondawame menulis bahwa konsep tanah adalah identitas bangsa Papua (Ondawame, One People, One Soul, 2009).
Aspirasi dalam manifesto ini kemudian dibungkam setelah Papua diserahkan kepada Indonesia lewat Perjanjian New York 1962. Drooglever menilai inilah awal konflik panjang Papua-Indonesia (Drooglever, 2005).
Meskipun tidak terealisasi penuh, dokumen Pengantara tetap menjadi sumber sejarah penting. Generasi baru Papua melihatnya sebagai bukti bahwa cita-cita merdeka sudah pernah tertulis. Elmslie menyebut arsip ini sebagai landasan legitimasi perjuangan Papua (Elmslie, West Papua: The History of a Struggle, 1999).
Selain isi, keberadaan Pengantara itu sendiri adalah simbol bahwa Papua pernah memiliki media nasional. Dalam keterbatasan sarana cetak, surat kabar ini muncul sebagai suara resmi rakyat Papua. UNESCO mencatat media ini adalah bukti kesiapan Papua membangun institusi modern (UNESCO, 1961).
Komite Nasional Papua memahami pentingnya simbol, dokumen, dan media. Mereka sadar bahwa perjuangan bangsa modern harus tertulis dan terdokumentasi. Anderson menilai langkah ini ciri khas bangsa yang sedang membangun identitas (Anderson, 1983).
Kini, arsip Pengantara yang masih tersisa menjadi artefak sejarah berharga. Arsip ini tersimpan di Belanda, Australia, dan koleksi pribadi aktivis Papua. Chauvel menyebut keberadaan arsip ini memperkuat klaim Papua di forum internasional (Chauvel, 2005).
Pengantara dengan manifestonya adalah saksi sejarah lahirnya identitas kebangsaan Papua. Walau arah politik berubah, semangat yang tertulis di dalamnya tetap hidup dalam ingatan kolektif. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1961, bangsa Papua sudah menyatakan dirinya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.