Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Perempuan melahirkan kehidupan. Tiada sejarah tanpa perempuan dan sebaliknya tiada masa depan tanpa perempuan. Perempuan yang tidak bijaksana melahirkan generasi yang tidak berbobot dan sebaliknya perempuan yang bijaksana mencetak generasi berkualitas menuju masa depan umat manusia yang lebih manusiawi dan bermartabat. Setiap manusia diwajibkan berguru pada orang-orang yang dinilai telah sukses. Demikian pun pada kesempatan ini, kepada perempuan Papua dapat berguru pada seorang Beata yang bernama Eurosia Fabris (1866-1932). Tulisan ini mau memperkenalkan Beata Eurosia Fabris dan sekaligus mengajak perempuan Papua agar dapat meneladani hidupnya, sehingga bisa memperbaiki kehidupan keluarga-keluarga di Papua demi masa depan yang cerah.
Beata Eurosia Fabris
Beata Eurosia Fabris dikenal atau dijuluki “bukan inu rumah tangga biasa” (Majalah Hidup: 2008). Mengapa ia dijuluki demikian? Apa yang dibuat semasa hidupnya hingga ia dijuluki seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab setelah mengetahui biografinya.’
Ketika berusia empat tahun, Eurosia Fabris bersama keluarganya pindah ke Desa Marola di Quarteloso, Vincesa, Italia. Karena harus membantu orang tuanya di kebun dan di rumah. Karena itu, ia hanya mengenyam pendidikan selama 2 tahun, (Marius: 2018). Namun demikian, kesibukan sehari-hari tidak mengedurkan hobi membacanya. Di waktu-waktu senggang dia sering membaca Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik dan sejarah Gereja, termasuk membaca buku Philothea da Eternal Maxims, karya St. Alfonso Liguori. Philothea adalah bahasa Latin kata sifat Feminim, artinya Pecinta Tuhan, atau penuh kasih (didoakan agar menjadi gadis penyayang).
Selain itu, Eurosia aktif dalam kegiatan di Parokinya. Ia menjadi anggota asosiasi Putra-Putri Maria. Ia rajin mendoakan devosi Roh Kudus, kanak-kanak Yesus, Salib Kristus, Sakramen-sakramen Mahakudus, Perawan Maria dan mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian. Karena kesucian Eurosia menjadi rasul cilik di tengah keluarga, teman-teman dan di lingkungan Parokinya ia disukai banyak orang, terlebih laki-laki semasanya.
Kepada anak-anak yang bermain ke rumahnya, ia mengajarkan Katekismus Gereja Katolik. Sementara teman-teman sebayanya ia jahitkan pakaian, karena Eurosia memang pintar menjahit, di mana ketrampilan ini diperoleh dari ibunya.
Kesalehan, kebaikan dan kebiasaan kerja keras yang dilakukan memikat perhatian para pemuda di lingkungannya. Sering pemuda setempat melamarnya, namun ia menolak lamaran para pemuda itu. Hatinya tersentuh oleh penderitaan tetangganya, di mana seorang ibu muda yang meninggal dunia dan tiga bayi putrinya terlantar begitu saja. Yang pertama meninggal menyusul ibunya, sementara ayah mereka memilih tinggal di daerah lain. Selain itu ia harus merawat paman dan kakeknya yang mengidap penyakit kronis.
- Beata Eurosia memiliki Kepedulian kepada Sesama
Eurosia melawat dua balita yang malang itu dengan penuh kasih sayang sambil membereskan rumahnya. Rekan-rekan dan Pastor Parokinya kerap berbincang-bincang sambil bertanya-tanya tentangnya, tentang pernikahan, sering dilontarkan kepadanya sendiri: “Eurosia, mengapa kamu menunda-nunda pernikahan?” Jawabannya yang dibalas Eurosia, “Ah hanya belum siap saja”. Selanjutnya, pastor dan teman-temanya menyarankan untuk memikirkan ulang. “Cobalah memikirkan keputusan itu lebih serius lagi. Apalagi banyak pemuda baik yang datang melamarmu.” Atas saran teman-teman dan Pastor Parokinya ia pun memutuskan untuk menikah.
Setelah menikah tanggal 15 Mei 1886 dengan Carlo Barban, ia membawa serta kedua bayi tangganya. Pastor Paroki sampai berkomentar, “inilah aksi sebuah kasih heroic sejati kepada sesamanya.”
Dari perkawinan, ia dikaruniai sembilan anak. Walaupun sibuk mengurus keluarganya, ia tetap peduli pada anak-anak lain. Rumahnya selalu terbuka untuk kehadiran mereka. Ia memiliki kasih yang lembut bagi semua anaknya dan tidak membeda-bedakan mereka. Semuanya dicintai dengan tulus. Bahkan, ia relah mengorbankan kepentingannya untuk anak-anak asuhannya. Kelak salah seorang anak asuhannya, Mansuseto Mazzuro, masuk Ordo Fransiskan (OFM) dan menjadi bruder.
- Beata Eurosia Menjadi Teladan
Ia sangat menghayati panggilan berkeluarganya. Sebagai seorang istri, ia begitu mencintai dan menghormati suaminya, bahkan menjadi penasehat kepercayaan suaminya.
Ia seorang pekerja keras dan selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mama Eurosia menjalani hidupnya dengan doa, ia tekun mendokan devosi kasih Tuhan, Sakramen Mahakudus, dan Perawan Maria yang Terberkati. Sebagaimana wanita kuat dalam Kitab Suci, kehadirannya tak ternilai bagi keluarga.
Ia cermat mengatur pengeluaran keuangan keluarga tanpa mengabaikan perhatiannya pada kaum papa, dengan berbagi makanan yang mereka beli dan hidangkan. Ia merawat dan mendampingi orang-orang sakit dengan setia. Bahkan, ia tetap tegar merawat sakit parah hingga pada 1930.
Sepeninggal suaminya, ia masuk Ordo Ketiga Fransiskan yang sekarang dikenal sebagai Fransiskan Sekulir. Ia rajin mengikuti pertemuan-pertamuan tarekat, sambil menjalankan semangat kemiskinan dan suka cita Fransiskan dalam rumahnya melalui karya dan doa sehari-hari. Ia selalu baik hati kepada setiap orang dan memuji Tuhan sebagai sumber kebaikan dan harapan hidup.
Perempuan Papua Belajar dari Beata Eurosia
Ada beberapa keugaharian atau kebijaksanan hidup dari Beata Eurosia harus dipelajari dan diikuti. Dapat dikatakan bahwa ia mengikuti jejak bunda Maria, Hawa Baru, (Edi Kristiyanto: 1986). Dia hadir memberikan semangat dan harapan akan kehidupan. Dia menghayati makna kehidupan mulai dari dirinya dengan melatih diri, sekaligus membangun kepedulian pada sesama dan menjadi teladan hidup bagi orang lain. Ia menjadi dasar dan bahkan tulang punggung dalam keluarga, juga sesama yang membutuhkan bantuan darinya, termasuk aktif di dalam menghidupkan Gereja Paroki. Pastor mengenal betul Beata Eurosia akan sikap-sikap yang baik dan saleh.
Ada banyak perempuan Papua yang tentu telah melakukan seperti Beata Eurosia juga tentu bunda Maria, yakni menjadi dasar bagi bangunan keluarga: perduli terhadap sesama lain, terlebih yang membutuhkan bantuan, juga keluarga batih, yakni bagi suami dan anak-anak; sekaligus menjadi teladan bagi perempuan lain untuk diikuti.
Untuk menunjukkan eksistensi diri sebagai perempuan Papua, tidak harus dilihat oleh orang lain dan tidak harus terkenal seperti bunda Maria pada umumnya, juga khususnya Beata Eurosia. Cukup hanya menjadi mama (ibu) yang peduli bagi anak-anak di rumah: merawat dan mendidik mereka dengan penuh kasih dan tanggung jawab; selain itu menjadi pasangan yang serasi bagi suami untuk menghindari percekcokan atau perpecahan yang berakibat pada perkembangan moral, iman dan juga intelektualitas anak.
Beata Eurosia membuktikan diri sebagai perempuan yang mampu memperhatikan keluarga, memperhatikan sesama yang membutuhkan pertolongan dan menjadi contoh yang dapat dijadikan sebagai model bagi sesama yang lain; sehingga sesama yang lain mendapatkan patokan, atau arahan yang jelas menuju kesuksesan dan kebahagian. Keperibadiannya yang baik diasa melalui doa, baca Kitab Suci, buku-buku rohani, juga Dokumen Gereja (Katekismus) dan Katekese.
Teladan hidup yang penuh tanggung jawab, terlebih dalam mewariskan iman yang benar kepada sesama, terlebih untuk anak-anak yang diasuhnya. Teladan ini perlu diikuti oleh perempuan Papua kini. Setiap perempuan yang telah belajar dan terlebih telah tahu baca dan tulis, kemampuan ini dikembangkan dan sekaligus dipraktekan dalam usaha mendidik dan merawat keluarga; sehingga menjadi pondasi bagi keluarga seperti Beata Eurosia. Hanya dengan perempuan Papua yang merawat keluarga seperti Eurosia, dunia akan memperoleh jalan keluar dari keterputusasaan dan kekancuran. Perempuan Papua harus menjadi “Ibu rumah tangga yang bukan biasa-biasa”, seperti Beata Eurosia.
Penutup
Beata Eurosia memberikan gambaran sekaligus model bagi perempuan Papua. Memilih berkeluarga memang berat, namun demi masa depan bangsa, harus dijalani seperti Beata Eurosia. Eurosia mempersiapkan diri secara matang dari konteks ilmu: yakni ilmu iman, juga moral: praktek hidup yang baik, termasuk melatih skill: yakni memiliki kemampuan menjahit pakaian sejak kecil. Beata Eurosia telah mempersiapkan hidup berkeluarga sejak kacil dan ia pun tuntas menghidupinya ketika berkeluarga, bahkan ia menjadi penasehat kepercayaan suaminya.
Perempuan Papua tentu dapat melakukan seperti Beata Eurosia. Yang penting dan dibutuhkan saat ini adalah kesiapan, ketersediaan dan kerelaan untuk membangun keluarga yang peduli: yakni menjadi istri yang peduli untuk suaminya, demikian pula ibu yang penuh kasih terhadap anak-anaknya. Hal ini akan tercapai jika tidak lupa Gereja, doa-doa, Baca Kitab Suci dan mengembangkan skil-skil yang dapat mendukung finansial dalam kehidupan rumah tangga. Ketika perempuan Papua menjadi dasar bagi keluarga, dari sana akan terlahir pemimpin-pemimpin Papua yang peduli dan penuh kasih: bukan tamak, rakus uang dan jabatan.
Daftar Kepustakaan
Goo, Marius, 2018, Mengembalikan Kekudusan Papua, Bintang Sejahtera, Malang.
Kristiyanto, Eddy, 1987, Maria Dalam Gereja, Kanisius, Jogyakarta.
Majalah Hidup, 2008, Mingguan Umat Beriman, No.25 Tahun ke-60.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika