SORONG, JELATANEWSPAPUA.COM — Penangkapan brutal terhadap seorang aktivis Papua, Yance Manggaprauw, kembali menjadi sorotan setelah sang istri, Sayang Mandabayang, menyampaikan kesaksiannya melalui video yang beredar di media sosial WhatsApp dan Facebook pada Rabu (27/08).
Dalam rekaman video berdurasi singkat itu, Sayang Mandabayang terlihat panik, saat menyampaikan kondisi keluarganya pasca penangkapan. Ia menuturkan, aparat kepolisian datang ke rumah dan menyeret suaminya tanpa prosedur yang jelas.
“Saat ini ada polisi dalam rumah saya. Mereka sudah tangkap saya punya suami. Dan saya punya mama sedang menghadapi polisi diluar sana. Anak-anak juga sudah lari. Polisi sudah bawa lari suami saya dari dalam rumah,” kata Sayang dengan suara bergetar dalam video yang beredar.
Ia juga menyampaikan bahwa situasi di rumahnya sangat mencekam. Aparat disebut masuk secara paksa dan melakukan tindakan yang menakutkan terhadap keluarga.
“Saya minta kepada perkerja kemanusian dan pihak mana saja tolong advokasi” pinta Mandabayang
“Ini berbahaya. Aparat kepung rumah. Dan kami tidak bisa keluar. Sangat menakutkan. Anak-anak ketakutan mereka lari dan saya sembunyikan di kolong tempat tidur. Karena polisi langsung membabat, masuk tabrak dalam rumah. Tidak sesuai SOP,” lanjutnya.
Dalam keterangan tambahan, terlihat anak perempuan Yance dan Sayang bersembunyi di bawah tempat tidur sejak ayahnya ditangkap secara brutal. Kondisi ini menambah trauma bagi keluarga, terutama anak-anak yang menyaksikan langsung peristiwa penangkapan tersebut.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pos Sorong bersama Perhimpunan Bantuan Hukum Keadilan dan Perdamaian (PBHKP) menilai penangkapan ini tidak berdasar dan sarat dengan tindakan kriminalisasi.
Menurut LBH Papua, pola penangkapan semacam ini sudah berulang terjadi terhadap aktivis Papua yang menyuarakan aspirasi politik maupun hak-hak rakyat. Mereka menyebut, aparat kerap menggunakan cara represif tanpa mengedepankan hukum dan hak asasi manusia.
Diketahui, Yance Manggaprauw merupakan salah satu aktivis Front Nasional Mahasiswa dan Pemuda Papua (FNMPP) di Sorong. Selama ini, FNMPP dikenal konsisten mengkritik kebijakan negara yang dinilai merugikan rakyat Papua, termasuk isu penguasaan tanah, sumber daya alam, serta penindasan politik terhadap gerakan mahasiswa dan pemuda Papua.
Penangkapan terhadap Yance dinilai sebagai bagian dari upaya membungkam gerakan kritis pemuda Papua yang menolak ketidakadilan struktural.
Keluarga Yance mendesak agar aparat kepolisian segera membebaskan Yance, menjamin keselamatannya, serta menghentikan praktik penangkapan brutal di tengah masyarakat sipil.
Mereka juga meminta perhatian serius dari gereja, organisasi masyarakat sipil, serta lembaga nasional dan internasional untuk mengawal kasus ini.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait alasan penangkapan maupun tuduhan yang dialamatkan kepada Yance Manggaprauw.