Nabire, JELATANEWSPAPUA.COM — Siswa dari Kabupaten Dogiyai berpartisipasi dalam Festival Budaya Pelajar Papua Tengah 2025 dengan menampilkan karya kriya dan tari. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah ini berlangsung di Lapangan Terbang, eks Bandara Lama Nabire, pada Rabu, 03– Sabtu 06 September 2025.
Plt. Kepala Bidang SD, SMP, SMA, dan SMK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Dogiyai, Bendiktus Goo, menyebut festival ini sebagai ruang penting bagi generasi muda.
“Festival ini ruang bagi anak-anak untuk percaya diri, mencintai budaya, sekaligus belajar bekerja sama,” ujar Bendiktus Goo yang turut mendampingi para pelajar.
Dua guru pendamping kriya, Fransiska Tagi, S.Pd, dan Selpina Tekege, S.Pd, mengaku bangga dengan semangat siswanya.
“Anak-anak sangat bangga bisa tampil. Mereka belajar langsung dari orang tua dan guru, lalu mencoba mengembangkan dengan ide sendiri,” kata Fransiska.
Selpina menambahkan, kopi olahan siswa Dogiyai menjadi daya tarik tersendiri. “Banyak pengunjung yang datang mencicipi kopi. Ini membuktikan siswa kita bisa bersaing lewat produk lokal,” ujarnya.
Sementara itu, pendamping sendratari, Silce L. KAFIAR, S.Pd, menuturkan bahwa latihan bukan hanya soal gerak tari, melainkan juga penghayatan cerita.
“Mereka tampil dengan kostum khas agar benar-benar menunjukkan identitas Dogiyai,” katanya.
Rekan pendampingnya, Ancelina I.P. Yobee, S.Pd, menambahkan persiapan dilakukan berbulan-bulan.
“Kami ingin memberikan penampilan terbaik. Ini kesempatan memperkenalkan budaya Dogiyai kepada masyarakat Papua Tengah,” ucapnya.
Festival sendiri digelar di halaman Kantor Gubernur, eks Bandara Lama Nabire, Rabu (03/09). Acara ini mempertemukan pelajar dari delapan kabupaten untuk menunjukkan bakat, kreativitas, sekaligus kecintaan pada budaya lokal.
Festival mengusung tema “Satu Hati dalam Dunia Tifa”, simbol persatuan dan harmoni di Tanah Papua. Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, membuka acara dengan menabuh tifa, diiringi tarian dan wisisi pelajar.
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dogiyai hadir dengan mengirim siswa-siswi SMP, SMA, dan SMK, didampingi empat guru serta seorang perwakilan dari bidang pendidikan. Mereka berkompetisi pada dua cabang lomba, yakni Kriya Karya dan Sendratari.
Pada kategori Kriya Karya, pelajar Dogiyai memamerkan hasil karya tangan seperti anyaman noken, koba-koba, alat musik PIKON, furnitur hias dari kelapa, hingga kopi hasil olahan siswa. Stan Dogiyai ramai dikunjungi pengunjung yang tertarik dengan kerajinan dan inovasi anak-anak sekolah.
Di cabang Sendratari, pelajar Dogiyai menampilkan tarian dan drama yang mengangkat cerita rakyat daerah. Pertunjukan dijadwalkan berlangsung di panggung utama festival pukul 15.00–18.00 WIT.
Festival Budaya Pelajar Papua Tengah diikuti sekitar 200 pelajar dari delapan kabupaten, antara lain Nabire, Paniai, Deiyai, Intan Jaya, Mimika, Puncak, dan Puncak Jaya. Setiap daerah menampilkan karya terbaik mereka sesuai potensi lokal.
Gubernur Meki Nawipa menyampaikan pesan agar generasi muda tetap menjaga warisan leluhur di tengah modernisasi.
“Budaya adalah identitas. Generasi muda harus mampu melestarikan sekaligus memperkenalkannya ke dunia dengan cara-cara baru,” ujarnya.
Penyelenggara menyediakan hadiah uang tunai dengan total ratusan juta rupiah, serta berbagai doorprize bagi peserta dan pengunjung. Namun lebih dari itu, festival ini digadang-gadang sebagai ruang dialog antargenerasi.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah menyebut festival ini akan dijadikan agenda tahunan untuk memperkuat karakter pelajar sebagai agen pelestari budaya.
“Kita berharap pelajar tumbuh dengan rasa bangga terhadap jati diri Papua Tengah,” kata Plt. Kadis Pendidikan, Nurhaidah Meki Nawipa.
Festival akan berlangsung hingga Sabtu (06/09). Penjurian untuk kedua mata lomba diumumkan pada acara penutupan yang rencananya dihadiri pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan tamu undangan.