PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Umat Katolik Amungme menggelar rekonsiliasi historis sekaligus merayakan 72 tahun hadirnya misi Katolik di tanah Amungsa. Kegiatan berlangsung pada 1–5 Desember 2025 di kompleks Gereja Katolik Paroki “Kebangkitan” Agimuga, Mimika, Papua Tengah, dan dihadiri lebih dari 3.000 umat dari berbagai wilayah.
Perayaan ini mengenang momen bersejarah 1 Desember 1953, ketika Pastor Misael Kammerer OFM bersama tokoh Amungme, Moses Kilangin, memasuki Arwanop untuk mewartakan kabar gembira. Dua hari kemudian, pada 3 Desember 1953, misa pertama dilaksanakan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Amungme oleh Moses Kilangin. Tanggal tersebut kemudian dipilih menjadi puncak perayaan rekonsiliasi tahun ini.
Proses Panjang Menuju Rekonsiliasi
Ketua Panitia Rekonsiliasi Historis, Nella Kilangin, menjelaskan bahwa rencana rekonsiliasi sebenarnya telah dimulai sejak 2021. Namun, prosesnya sempat terhenti karena berbagai kendala internal.
“Sejak September 2025 kami kembali aktif menyusun konsep, panduan rekonsiliasi, serta membangun komunikasi dengan para tokoh Amungme dan lembaga terkait,” ujar Nella Kilangin, Kamis (4/12).
Sekretaris panitia, Martino Kapan, menambahkan bahwa koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah, YPMAK, Lemasa, Lemasko, hingga para tokoh adat dan gereja.
“Tujuan utama rekonsiliasi ini adalah memulihkan hubungan, menyatukan umat, dan meneguhkan kembali iman Katolik di Amungsa,” ungkapnya.
Peran Tokoh Gereja dan Pemerintah
Pastor Paroki “Kebangkitan” Agimuga, RD. Lambert Kopong, menjadi tokoh kunci dalam seluruh rangkaian kegiatan. Ia bersama para suster TMM dan sejumlah imam yang pernah berkarya di Agimuga memastikan seluruh kegiatan berlangsung dengan baik.
“Rekonsiliasi bukan hanya seremoni, tetapi langkah pertobatan, pengakuan, dan pembaruan hidup umat,” kata Pastor Lambert.
Dukungan pun datang dari pemerintah distrik dan daerah. Kepala Distrik Agimuga, Paulus Kilangin, turut mengawal seluruh proses dari awal. Wakil Bupati Mimika sekaligus tokoh Amungme, Emanuel Kemong, berperan sebagai bagian dari Steering Committee (SC) dan memastikan rekonsiliasi berjalan sesuai harapan masyarakat.
Misa Puncak Dipimpin Uskup Timika
Rekonsiliasi mencapai puncaknya pada 3 Desember 2025, melalui misa syukur yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA. Misa dilanjutkan dengan pembaruan iman melalui Sakramen Krisma bagi sekitar 300 umat.
Para imam yang hadir dalam kegiatan ini antara lain: RD. Samuel RD. Agustinus Tebai, RD. Silvester Dogomo, RP. Yan Pit Fatem, dan RD. Ibrani Gwijangge.
Para suster TMM dan FCH turut terlibat menata liturgi dan dekorasi, termasuk Sr. Yakoba Hindom TMM, Sr. Selestina Woanubun TMM, Sr. Pampilia Renyaan TMM, Sr. Resa FCH, Sr. Imaculeta Okos TMM, Sr. Patrisiani Sampanu TMM, dan Sr. Bernarda Rahawarin TMM.
Harapan Umat Amungme
Tokoh masyarakat Amungme, Yohanes Kemong, dalam sambutannya menyampaikan harapan besar agar rekonsiliasi ini menjadi titik balik kebangkitan iman.
“Setelah 72 tahun perjalanan misi, sudah waktunya anak-anak Amungme dipersiapkan untuk masuk seminari menengah dan tinggi. Kita membutuhkan imam putra daerah sebagai pewaris dan pelayan gereja,”* ujarnya.
Umat dari berbagai wilayah hadir, termasuk dari Arwanop-Banti, Jila Bela Alama, Jita, Fakafuku, Kliarma, Amungun, Aramsolki, hingga stasi-stasi di Timika kota. Dua suku besar, Amungme dan Senpan Timur, ikut ambil bagian dalam rekonsiliasi ini.
Rekonsiliasi Sebagai Langkah Pembaruan
Kegiatan rekonsiliasi yang berlangsung selama lima hari ini menjadi momentum penting bagi umat Katolik Amungme untuk memperkuat persaudaraan, meneguhkan iman, serta menghidupkan kembali nilai-nilai perdamaian yang diwariskan dalam sejarah panjang misi Katolik di Amungsa.
Panitia berharap hasil dari rekonsiliasi ini membawa perubahan nyata bagi perjalanan Gereja Katolik di wilayah Amungme serta menjadi landasan kuat bagi generasi mendatang. (*)