PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Momentum bersejarah mewarnai pelaksanaan Musyawarah Pastoral Mee (MUSPASME) ke-VIII Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika. Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, secara resmi membuka kegiatan MUSPASME VIII yang dipusatkan di Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, Senin [02/02].
Pembukaan MUSPASME VIII berlangsung khidmat, meriah, dan sarat nuansa budaya lokal. Kegiatan diawali dengan tarian adat dan nyanyian rohani bernuansa tradisi Mee yang menggambarkan kekayaan iman dan budaya umat setempat. Selanjutnya, rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan Misa Kudus Pembukaan, upacara adat, serta pembagian Komuni Kudus kepada umat.
Ribuan umat Katolik tampak memadati lokasi kegiatan. Mereka datang dari berbagai wilayah pelayanan gereja, khususnya Dekenat Paniai, Dekenat Deiyai, dan Dekenat Dogiyai, serta dekenat tetangga seperti Dekenat Moni Puncak, Dekenat Teluk Cenderawasih, dan Koordinator Wilayah Timika. Hadir pula unsur TNI dan Polri yang bertugas di Distrik Aradide, pejabat pemerintah daerah, anggota DPRK Paniai, serta para imam, biarawan-biarawati, dan pastor se-Keuskupan Timika.
Dihadiri Pemerintah dan DPRD
Kegiatan MUSPASME VIII ini turut mendapat perhatian dan dukungan pemerintah. Pemerintah Provinsi Papua Tengah hadir melalui Staf Ahli Gubernur Papua Tengah, sementara Pemerintah Kabupaten Paniai diwakili oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Paniai, Sem Nawipa, S.T. Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Paniai, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh pemuda juga tampak hadir mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan.
Tema: Saling Menghidupkan dan Mengelola Damai
MUSPASME VIII tahun 2026 mengusung tema “Iyaiya Katatiyaka” yang berarti saling menghidupkan, dengan subtema “Koyakou Ani Doutou Ida Awima” yang dimaknai sebagai Aku menjaga dan mengelola damai. Tema ini menjadi refleksi bersama umat Mee dalam membangun kehidupan menggereja dan bermasyarakat yang berlandaskan nilai kasih, persaudaraan, keadilan, dan perdamaian.
Melalui tema tersebut, MUSPASME diharapkan menjadi ruang dialog iman yang kontekstual, sekaligus wadah untuk merumuskan arah pelayanan pastoral Gereja Katolik yang relevan dengan realitas sosial, budaya, dan tantangan hidup umat Mee di tanah Papua.
Ketua Panitia: Laporan Keuangan Disampaikan Terbuka
Ketua Panitia MUSPASME VIII, Yunus Kadepa, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, delapan kabupaten, secara khusus Pemerintah Kabupaten Paniai, serta seluruh elemen masyarakat dan umat yang telah membantu panitia, sehingga MUSPASME ke-VIII ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Yunus Kadepa.
Ia juga menegaskan komitmen panitia terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Laporan keuangan panitia akan kami bacakan secara terbuka pada hari terakhir MUSPASME sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada umat dan seluruh pihak,” tegasnya.
Harapan Pemerintah Kabupaten Paniai
Mewakili Bupati Paniai, Sem Nawipa, S.T, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar MUSPASME VIII dapat berjalan dengan lancar, aman, dan membawa dampak positif bagi kehidupan umat Katolik di wilayah Mee.
“Kami berharap MUSPASME ke-VIII ini berjalan dengan sukses dan aman sesuai dengan visi dan misi Gereja Katolik. Semoga melalui kegiatan ini, umat memperoleh manfaat rohani dan sosial yang baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Sem Nawipa juga menyinggung fenomena alam yang terjadi pada awal pembentukan panitia MUSPASME, yakni munculnya pelangi di pagi hari di Komopa.
“Waktu pembentukan panitia dulu, kita menyaksikan pelangi di pagi hari di Komopa. Itu adalah pertanda baik. Saya yakin dan percaya, setelah kegiatan ini MUSPASME akan membawa berkat yang baik bagi umat dan daerah ini,” ungkapnya.
Uskup Timika: MUSPASME Bukan Sekadar Pertemuan Biasa
Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dalam sambutannya menegaskan bahwa MUSPASME merupakan ruang penting bagi umat Mee untuk melakukan refleksi iman, evaluasi pelayanan, dan perencanaan pastoral yang kontekstual.
“Musyawarah Pastoral Mee bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi merupakan wadah umat untuk mendengarkan suara Roh Kudus, membaca tanda-tanda zaman, dan merumuskan arah pelayanan gereja yang berpihak pada kehidupan, perdamaian, dan martabat manusia,” tegas Uskup Bernardus.
Ia mengajak seluruh peserta MUSPASME untuk menjadikan forum ini sebagai momentum memperkuat persaudaraan lintas wilayah, serta membangun Gereja Katolik yang hidup, membumi, dan relevan dengan konteks budaya Mee.
Dukungan Pemerintah Provinsi Papua Tengah
Perwakilan Gubernur Papua Tengah, Marten Ukago, S.T., M.Si, dalam sambutannya menyampaikan dukungan penuh pemerintah provinsi terhadap kegiatan-kegiatan gerejawi yang mendorong persatuan, kedamaian, dan pembangunan manusia seutuhnya.
“Pemerintah Provinsi Papua Tengah mendukung penuh kegiatan MUSPASME ini karena sejalan dengan upaya membangun masyarakat yang damai, bermartabat, dan beriman. Gereja memiliki peran strategis dalam membina moral dan karakter umat,” ujar Marten Ukago.
Persembahan Adat Simbol Syukur dan Persaudaraan
Usai pelaksanaan ibadah pembukaan, umat Paroki Kristus Jaya Komopa secara adat membawa hasil persembahan berupa kelinci, ayam, ikan, dan bebek dengan jumlah keseluruhan 188 ekor. Persembahan tersebut dibawa ke pastoran untuk dijadikan jamuan kasih, sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan persaudaraan umat dalam semangat MUSPASME VIII.
Pembukaan Simbolis dengan Penarikan Busur
Sebagai tanda resmi dibukanya MUSPASME VIII, Uskup Timika, perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Paniai, Dekan Moni Puncak, serta Panitia MUSPASME, secara bersama-sama melakukan penarikan busur. Prosesi ini menjadi simbol pembukaan kegiatan sekaligus doa agar seluruh rangkaian MUSPASME berjalan dalam damai dan tuntunan Tuhan.
MUSPASME ke-VIII Paroki Kristus Jaya Komopa diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat pelayanan pastoral Gereja Katolik di wilayah Mee Pago, sekaligus mempererat hubungan antara gereja, umat, dan pemerintah demi terwujudnya kehidupan yang saling menghidupkan, damai, dan bermartabat.