Oloh:Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Pertanyaan Yesus kepada para murid-Nya, “Siapakah Aku menurut kamu?” merupakan pertanyaan sederhana namun sulit untuk merumuskan jawaban. Menjawab pertanyaan ini butuh refleksi kontekstual, sesuai pengalaman real. Orang Papua yang telah menjadi Kristen karena dibaptis dan mereka yang Kristen Anonim: melakukan ajaran Yesus walaupun tidak dibaptis perlu merumuskan jawaban tepat untuk mengatakan, siapa Yesus bagi orang Papua. Pertanyaan “Siapakah Aku menurut kamu?”, selalu relevan di sepanjang masa dan di semua tempat. Orang Papua harus mejawab berdasarkan pengalaman nyata dan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung. Yesus dalam konteks Papua hanya dapat dipahami dalam Teologi Inkarnasi.
Yesus dalam Ajaran Kekristenan
Berdasarkan ajaran Biblis dan Dogmatik Gereja, Yesus adalah Anak Allah, hadir melalui atau dilahirkan bunda Maria dan memiliki silsila yang panjang (bdk., Mat 1:1-17). Yesus dilahirkan dalam keluarga Yusuf dan Maria dari Roh Kudus (bdk., Mat 1:18-25). Dalam ajaran Teologi Trinitas, Yesus adalah Pribadi Kedua yang diutus ke dunia untuk membebaskan manusia dari belenggu dan perbudakan dosa.
Yesus memiliki kodrat manusiawi dan kodrat ilahi, seperti diajarkan dalam dokumen Gereja, Yesus 100% manusia, Yesus juga 100% Allah. Ke-Allah-an Yesus dalam kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus, sedangkan kemanusiaan-Nya, Ia mengambil rupa manusia dalam bayi manusia, masuk dalam rahim bunda Maria: mengalami segala sesuatu seperti manusia, melakukan segala sesuatu seperti manusia, kecuali dalam dosa. “Dia yang tidak mengenal dosa dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (Ibr 2:17).
Yesus dalam keilahian sebagai Anak Allah, Ia memiliki kuasa, kemulilaan dan kekekalan. Yesus sebagai Allah selalu ada dalam relasi Allah Tritunggal, termasuk Yesus hadir di dunia dan berkarja mewartakan dan sekaligus menyatakan Kerajaan Allah. Untuk menemukan dan merasakan diri sebagai Anak Allah, Yesus selalu membangun relasi intim dalam hubungan Trinitas dengan cara menyingkir ke tampat yang sunyi (bdk., Luk 5:16; Mrk 1:5; Luk 4:42; Mrk 6:32). Segala karya keselamatan yang dilakukan senantiasa bersama dalam kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus (melalui doa dan keheningan), bahkan sampai Yesus wafat dan bangkit naik ke Surga.
Yesus ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa, kejahatan dan maut. Sebab sesungguhnya manusia diciptakan dan ditetapkan bagi Allah sebagai gambar dan rupa-Nya sendiri: “Baiklah kita menjadikan manusai menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. (Kej 1:26). Segala jenis kejahatan, penindasan dan perbudakan hanya dapat diusir dengan doa (bdk., Mat 17:21), dalam usaha memepertahankan manusia sebagai rupa Allah.
Yesus Papua
Merumuskan atau mengatakan Yesus orang Papua tidak dalam arti fisik, yakni berambut kriting dan kulit hitam. Dalam kesejarahan Yesus dilahirkan di Yerusalem, di dalam kandang domba, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan, (Bdk., Luk 27). Artinya, secara biologis tidak bisa dikatakan, Yesus orang Papua.
Yesus secara biologis (fisik), Dia hadir dalam budaya Yahudi, keturunan Daud. Namun, secara rohani, Yesus adalah Tuhan. Dalam Ke-Tuhan-an atau Ke-Allah-an, kehadiran-Nya melampaui segala tempat dan kehidupannya tidak dalam kurung waktu. Orang Papua mengatakan Yesus dalam Ke-Allah-an; atau dalam konteks kemanusiaan, orang Papua berguru dalam konteks Inkarnasi: yakni pengorbanan dan pemberian diri setuntas-tuntas-Nya bagi kemerdekaan bangsa manusia.
Pertama, Ke-Allah-an Yesus bagi orang Papua. Dalam Pemahaman Yesus adalah Allah untuk orang Papua adalah Allah tidak milik siapa-siapa, Ia hadir secara otonom dalam kekuasaan-Nya sebagai tawaran pewahyuan. Ketika kehadiran Yesus bersifat penawaran, siapa pun manusia yang terbuka untuk-Nya, seperti bunda Maria, Yesus milik mereka. Siapa yang mengikuti teladan iman bunda Maria, Yesus akan hadir dan tinggal di hatinya.
Yesus ada untuk semua orang di segala tempat dan di sepanjang waktu (segala zaman). Artinya, Yesus juga milik orang Papua, Yesus juga ada di Papua, khususnya bagi mereka yang menyadari dan sekaligus menerima tawaran kehadiran-Nya dengan iman yang kuat, penuh dan utuh seperti bunda Maria tadi.
Yesus dikatakan orang Papua ketika orang Papua dapat mengikuti semua ajaran-Nya dengan sepenuh hati. Menemukan dan mengenal Yesus pertama dan utama adalah melalui membaca Kitab Suci. Yesus yang penuh misteri (kerahasiaan) hadir melalui segala ciptaan, ditemukan dalam segala keajaiban dunia, namun tidak dapat terpisahkan dari isi Kitab Suci.
Kedua, Kemanusiaan Yesus bagi orang Papua. Orang Papua dapat mengatakan Yesus orang Papua ketika secara berani dan mampu mengikuti jejak Yesus berinkarnasi. Pemberian diri Yesus yang membebaskan dan menyelamatkan dapat dipelajari oleh orang Papua dan selanjutnya mengikuti jalan pembebasan yang ditujukkan tanpa takut, ragu dan aneka pertimbangan.
Yesus setelah mengambil rupa manusia mengalami nasib hidup seperti manusia, melakukan segala aktivitas seperti manusia, pernah mengalami kelemahan manusiawi, lapar, sakit dan bahkan mati, kecuali dalam hal dosa. Yesus yang berani mengorbankan atau meninggalkan kemuliaan dan kuagungan (keallahan), lalu turun ke dunia menjadi manusia untuk menderita dan mati merupakan satu pelajaran radikal yang diajarkan Yesus kepada orang Papua. Dalam mengikuti jalan pengorbanan (jalan salib) ini, dibutuhkan iman yang tekad dan bulat seperti kepada Yesus sendiri.
Yesus Papua adalah mereka yang mengimani Yesus, melakukan tindakan-tindakan seperti Yesus yang penuh kasih dan kebaikan, melakukan karya-karya agung yang menyelamatkan dan menghidupkan, mereka yang berpihak dan melakukan kebaikan dan kesucian, mereka yang berjuang mendirikan Kerjaan Allah di Papua. Yesus hadir, tinggal dan bertahta di hati para pejuang kebenaran, keadilan, kebaikan, kesucian dan keselamatan manusia dan alam Papua.
Dalam konteks Teologi Inkarnasi, Yesus yang meninggalkan kebesaran, keagungan dan kemuliaan di Surga, selanjutnya turun ke dunia, mengambil rupa manusia, menjalani hidup sebagai manusia dan mati sebagai manusia adalah bagian renungan penting konteks Papua untuk memahami eksistensi kepapuaan Yesus. Yesus sebagai Tuhan, menjadi Guru, dan memberikan pelajaran amat berharga bagi orang Papua. Kini orang Papua memberikan jawaban atas pertanyaan, siapakah Aku menurut kamu? Jawaban sederhana ini kita barikan namun butuh perjuangan sengit: “Engkau adalah Pembebas yang berkorban, mengorbankan diri bagi kemerdekaan bangsa manusia di seluruh dunia, hadir ke dunia mengambil rupa manusia dengan kehormatan dan kemuliaan, keagungan dan keallahan, karena mencintai segala ciptaan dan mendirikan Kerajaan Allah supaya semuanya menjadi warga Kerajaan Allah.”
Penutup
Yesus Papua adalah Yesus yang tidak pernah membunuh, tidak pernah membodohi, tidak pernah buat yang jahat. Yesus Papua mengajarkan untuk mencintai segala sesuatu dengan sepenuh hati. Yesus Papua memberikan kekuatan dan semangat untuk tetap hidup kokoh kuat dalam memperbaharui dunia, sambil melewatkan apa pun tantangan. Yesus menunjukan jalan penderitaan dan kematian demipembebasan dan kemerdekaan manusia dari perbudakan kejahatan dan dosa. Yesus Papua mengajarkan kesadaran dan daya tahan, semangat berkorban dan kerelaan diri untuk disalibkan bagi Allah dan manusia supaya semua ciptaan mendapatkan martabat sebagai anak-anak Allah yang telah dihilangkan oleh dosa.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika