Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Dandhy Dwi Laksono Tanggapi Kodam XVII/Cenderawasih Soal Film Dokumenter Pesta Babi

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    HP-SP Kabupaten Paniai Gelar Seminar Sehari, Dorong Pelajar Bangun Mental dan Kapasitas Diri

    Yunus Eki Gobai Soroti Tantangan Pelajar di Era Globalisasi dalam Seminar HP-SP Paniai

    HP-SP Kabupaten Paniai Gelar Seminar Sehari, Agustinus Kadepa: Dorong Pelajar Bangun Karakter dan Budaya Literasi

    RAKERKAB Perdana KONI Dogiyai Jadi Fondasi Bangun Olahraga yang Maju dan Berdaya Saing

    Warga keluhkan dugaan kelalaian transaksi di BRI Link di Paniai, hampir kehilangan Rp2 juta

    BEM FISIP UNCEN Soroti Penutupan Jalur Mandiri Kedokteran Tahun 2026

    IMAPEDO Gorontalo nyatakan sikap: Papua darurat militer dan Dogiyai krisis kemanusiaan

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

    Pemutaran film Pesta Babi di Universitas Mataram dibubarkan, Mahasiswa lanjutkan Nobar di luar Kampus 

    Diskusi dan Peluncuran Buku “Tragedi Dogiyai Berdarah” Digelar di Nabire

    Mahasiswa Papua di Gorontalo gelar aksi nasional, desak Presiden usut dugaan pelanggaran HAM di Kemburu Puncak

    Mahasiswa Independen Se-Sorong Raya sampaikan tuntutan HAM Papua, desak penyelesaian menyeluruh 

    TPNPB keluarkan warning ke Metro TV, bantah tuduhan pembunuhan warga sipil di Puncak

    KOMNAS HAM  RI Publikasikan Hasil Pemantauan Enam Kasus Pelanggaran HAM di Papua

    Konsolidasi terbuka KNPB: Papua dinilai  zona darurat militer, HAM dan kemanusiaan

  • Kesehatan

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

  • Lingkungan

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

    Kelompok Tani Anak Muda Maju, DPW Tani Merdeka Papua Tengah tanam padi di Wanggar

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

    Komunitas Porter Paniai gelar evaluasi efektivitas layanan transportasi publik

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    Penyuluh Papua Tengah bagikan bibit bawang merah unggul ke Kabupaten Deiyai

  • Pendidikan

    BEM FISIP UNCEN Soroti Penutupan Jalur Mandiri Kedokteran Tahun 2026

    SMK Karel Gobai umumkan kelulusan 100 persen, Kepala Sekolah: hasil perjuangan tiga tahun

    SMK Karel Gobai gelar ibadah pelepasan 95 siswa, tekankan peran tiga pilar penentu masa depan

    Melkias Yeimo gelar ibadah syukur atas raih Sarjana Teknik di Nabire

    Atas nama Bupati, Kadinsos Paniai resmikan TK-PAUD YPK Betlehem Madi, Pemerintah tekankan pentingnya pendidikan usia dini

    IPM-IDAKI Nabire Resmi Terbentuk, Paulus Deba Pimpin Organisasi Pelajar Idadagi Kigamani

    STK Touye Paapaa Deiyai Lepas Mahasiswa PKL, Diharapkan Jadi Guru Profesional

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

    SMK Karel Gobai Bagikan Seragam Sekolah, Tanamkan Semangat Disiplin dan Motivasi Belajar

  • Religi

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Papua di Mata Jacques Derrida

by Redaksi
30 Agustus 2025
in Artikel Opini, Berita

Foto Honaratus Pigai

0
SHARES
87
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Honaratus Pigai (*

Jacques Derrida, filsuf asal Prancis yang dikenal melalui konsep dekonstruksi, menawarkan sebuah cara pandang kritis terhadap teks, makna, dan struktur kuasa yang melekat dalam bahasa. Bagi Derrida, realitas tidak pernah hadir secara tunggal atau absolut, melainkan selalu terjalin dalam jejak-jejak makna yang saling menunda dan berbeda; sebuah kondisi yang ia sebut sebagai différance. Jika kita mencoba melihat Papua melalui kacamata Derrida, maka yang tampak bukanlah Papua sebagai realitas yang sederhana dan selesai, melainkan sebuah ruang penuh jejak sejarah, kekuasaan, kolonialisme, dan penyingkiran yang terus berulang.

Dekonstruksi atas Narasi Negara

Jacques Derrida melalui gagasan dekonstruksi mengajarkan bahwa setiap teks atau narasi yang tampak kokoh sebenarnya menyimpan kontradiksi dan celah. Jika prinsip ini diterapkan pada Papua, maka narasi resmi negara mengenai integrasi Papua ke dalam Republik Indonesia dapat dibongkar sebagai sebuah konstruksi yang rapuh. Narasi tentang PEPERA 1969, misalnya, oleh negara dianggap sebagai wujud “pilihan rakyat Papua sendiri” untuk menjadi bagian dari Indonesia. Namun, di balik narasi ini terdapat praktik intimidasi, keterpaksaan, serta kontrol militer yang justru meruntuhkan klaim legitimasi tersebut.

Derrida mengajarkan bahwa setiap teks selalu mengandung aporias; titik-titik di mana makna runtuh oleh dirinya sendiri. Narasi “pilihan rakyat Papua sendiri” bisa dibongkar karena di baliknya tersembunyi praktik intimidasi, keterpaksaan, dan dominasi militer. Dekonstruksi menunjukkan bahwa di balik klaim kebenaran negara terdapat jejak lain, yakni suara-suara yang dibungkam, pengalaman penderitaan, dan realitas kekerasan.

Dengan demikian Papua di mata Derrida tidak bisa dilihat hanya dari wacana resmi, tetapi justru dari apa yang ditutup-tutupi, dari apa yang tidak diucapkan. Papua hadir sebagai the other, yang didefinisikan, direduksi, dan dikendalikan melalui logika pusat (Jakarta) atas pinggiran (Papua). Dengan kata lain, membaca Papua melalui dekonstruksi berarti membuka ruang bagi narasi alternatif, yakni cerita rakyat Papua sendiri tentang penindasan, kehilangan tanah, dan perjuangan mereka untuk diakui. Dekonstruksi atas narasi negara tidak berhenti pada kritik, tetapi menjadi pintu menuju keadilan: mengakui bahwa kebenaran tidak tunggal, melainkan plural, rapuh, dan selalu terbuka untuk ditafsir ulang.

Différance dan Identitas Papua

Salah satu konsep kunci Derrida adalah “différance,” sebuah permainan makna yang selalu berbeda (‘differ’) dan tertunda (‘defer’). Identitas tidak pernah hadir secara utuh dan final, melainkan selalu terbentuk melalui relasi dengan “yang lain.” Jika kita melihat Papua melalui kacamata ini, identitas Papua tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai “bagian dari Indonesia” atau “entitas merdeka.” Identitas Papua selalu berada dalam ketegangan historis, kultural, dan politis yang tidak pernah selesai.

Sejarah panjang Papua menunjukkan bagaimana identitas ini terus diproduksi dan ditunda. Masa kolonial Belanda meninggalkan jejak administratif dan politik yang berbeda dari wilayah Indonesia lain. Intervensi PBB serta PEPERA 1969 menciptakan sebuah kondisi di mana identitas Papua diklaim telah “diputuskan,” padahal keputusan itu penuh luka dan keterpaksaan. Hingga kini, negara berusaha mendefinisikan Papua melalui slogan “NKRI Harga Mati,” sedangkan rakyat Papua menegaskan identitasnya melalui simbol-simbol seperti Bintang Kejora, tradisi adat, dan perjuangan.

Dalam kerangka ‘différance’, Papua tidak pernah bisa dipakukan pada definisi tunggal. Setiap kali negara mencoba memutlakkan identitas Papua sebagai bagian tak terpisahkan dari Indonesia, muncul perlawanan yang menyingkap jejak identitas lain; identitas yang menolak diserap habis ke dalam logika negara (pusat). Demikian juga, setiap klaim “Papua merdeka” bukanlah makna final, melainkan selalu terbuka pada tafsir baru dalam konteks sosial, politik, dan budaya.

Dengan demikian, identitas Papua bukan realitas yang statis, melainkan teks yang terus bergerak, ditulis ulang oleh sejarah, pengalaman kolonialisme, intervensi global, serta perjumpaan dengan kapitalisme modern melalui eksploitasi tambang. “Différance” menyingkap bahwa Papua adalah ruang makna yang cair, berbeda, dan tertunda; ruang di mana perjuangan akan pengakuan dan keadilan selalu berlangsung.

Kritik terhadap Logocentrisme dan Kekerasan

Jacques Derrida menyoroti bagaimana filsafat Barat cenderung terjebak dalam “logocentrisme”, yaitu keyakinan bahwa ada pusat makna yang absolut dan tak tergugat. Logocentrisme dalam konteks Papua tampak jelas pada narasi negara yang menempatkan “persatuan nasional” atau “NKRI Harga Mati” sebagai pusat kebenaran. Segala perbedaan pandangan, aspirasi politik, atau bentuk perlawanan rakyat Papua otomatis dianggap menyimpang, bahkan ancaman yang harus dilenyapkan.

Logocentrisme ini berimplikasi langsung pada praktik kekerasan. Demi mempertahankan pusat makna tersebut, negara mengerahkan aparat militer dan kepolisian untuk menekan suara Papua. Demonstrasi damai sering dibubarkan, aktivis ditangkap, dan wilayah pedalaman menjadi ruang operasi bersenjata. Kekerasan bukan sekadar penyimpangan kebijakan, melainkan konsekuensi logis dari sebuah pusat yang menolak diganggu.

Derrida mengingatkan bahwa tidak ada pusat makna yang benar-benar stabil. “Persatuan nasional” sendiri hanya bisa dipertahankan dengan menyingkirkan alternatif lain, misalnya identitas Papua yang berbeda atau aspirasi kemerdekaan. Artinya, pusat itu rapuh karena bergantung pada apa yang ia tekan. Dekonstruksi membongkar kontradiksi ini: semakin negara memutlakkan kesatuan, semakin nyata jejak kekerasan yang menopangnya.

Baca Juga:

Aser Yogi tegaskan komitmen Tani Merdeka Papua Tengah siap perjuangkan kesejahteraan petani

METAB Paniai Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi, Angkat Isu Kolonialisme, Krisis HAM dan Perampasan Ruang Hidup Orang Asli Papua

IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

Dandhy Dwi Laksono Tanggapi Kodam XVII/Cenderawasih Soal Film Dokumenter Pesta Babi

Dengan kacamata Derrida, kita bisa memahami bahwa Papua bukanlah “masalah keamanan” semata, melainkan krisis etika dan politik yang lahir dari logocentrisme negara. Jalan keluar tidak mungkin dicapai melalui kekerasan, sebab kekerasan hanya mengulang pola penindasan. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menggeser pusat, mengakui pluralitas makna, serta memberi ruang bagi Papua untuk menyuarakan dirinya sendiri.

Papua sebagai Ruang Etis yang Tertunda

Meski kerap dituduh terlalu abstrak, pemikiran Derrida membuka dimensi etis dalam membaca Papua. Dekonstruksi bukan sekadar meruntuhkan narasi dominan, melainkan juga menghadirkan kemungkinan baru bagi keadilan. Dengan membongkar klaim negara yang mutlak, dekonstruksi memberi ruang bagi suara yang selama ini dibungkam untuk muncul ke permukaan. Papua dalam kerangka ini dapat dipahami sebagai ruang etis yang terus menunda keadilan, tetapi sekaligus menuntut pengakuan.

Konsep ‘différance’ Derrida mengingatkan bahwa keadilan tidak pernah hadir secara final; ia selalu ditunda, tetapi justru karena itu manusia dipanggil untuk terus mengejarnya. Papua menjadi simbol dari keadilan yang tertunda: janji keadilan yang tak kunjung datang, janji demokrasi yang tak memberi ruang pada suara berbeda, dan janji kemanusiaan yang sering dikalahkan oleh logika militer.

Melihat Papua sebagai ruang etis berarti menyadari bahwa persoalan utama bukan sekadar integrasi atau pembangunan, melainkan pengakuan terhadap “yang lain.” Derrida menekankan bahwa relasi etis sejati hanya lahir ketika kita berani mendengar suara yang asing, berbeda, dan terpinggirkan. Papua menuntut Indonesia untuk keluar dari logika pusat yang menindas, lalu membuka diri pada dialog yang tulus dan setara.

Dengan demikian, Papua menghadirkan panggilan etis bagi bangsa Indonesia: untuk mengakui luka sejarah, mendengar tangisan korban, dan menata ulang relasi kuasa. Dekonstruksi mengajarkan bahwa keadilan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan dari atas, melainkan harus lahir dari pengakuan akan pluralitas makna. Papua sebagai ruang etis yang tertunda, adalah undangan bagi Indonesia untuk membangun politik baru; politik yang tidak meniadakan perbedaan, tetapi merawatnya sebagai kekayaan bersama.

Catatan Akhir
Derrida menolak melihat Papua sebagai objek pasif yang selesai ditentukan oleh narasi negara. Papua justru adalah teks yang hidup, penuh jejak, kontradiksi, dan ketegangan. Melalui dekonstruksi, kita bisa memahami bahwa sejarah Papua bukan hanya apa yang tertulis dalam arsip resmi, melainkan juga apa yang disembunyikan dalam diam, dalam tangisan, dalam hutan-hutan, dan dalam tubuh-tubuh yang rapuh. Di sana juga ada kebenaran sejarah yang tersimpan.

Kita belajar bahwa tidak ada makna tunggal tentang Papua. Ada banyak makna yang hidup dalam perbedaan dan penundaan. Justru di situlah etika politik harus dibangun: bukan dengan menindas perbedaan, tetapi dengan merawatnya sebagai ruang dialog. Dalam kacamata Derrida realitas Papua bukanlah masalah yang harus ditutup rapat, melainkan panggilan untuk membuka kembali sejarah, mendengar yang terpinggirkan, dan menata ulang keadaan yang lebih adil.

 

*)Penulis adalah salah satu Imam Projo Keuskupan Timika, Papua

Post Views: 797
Previous Post

FIM-WP: Tutup Freeport dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri

Next Post

STIE Pelita Harapan Nabire Gelar Kuliah Perdana, BRI Dukung Transformasi Pendidikan Papua Tengah

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Nasional

Dandhy Dwi Laksono Tanggapi Kodam XVII/Cenderawasih Soal Film Dokumenter Pesta Babi

1 hari ago
Papua

Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

1 hari ago
Berita

HP-SP Kabupaten Paniai Gelar Seminar Sehari, Dorong Pelajar Bangun Mental dan Kapasitas Diri

1 hari ago
Papua

Yunus Eki Gobai Soroti Tantangan Pelajar di Era Globalisasi dalam Seminar HP-SP Paniai

2 hari ago
Papua

HP-SP Kabupaten Paniai Gelar Seminar Sehari, Agustinus Kadepa: Dorong Pelajar Bangun Karakter dan Budaya Literasi

2 hari ago
Berita

RAKERKAB Perdana KONI Dogiyai Jadi Fondasi Bangun Olahraga yang Maju dan Berdaya Saing

2 hari ago
Next Post

STIE Pelita Harapan Nabire Gelar Kuliah Perdana, BRI Dukung Transformasi Pendidikan Papua Tengah

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved