JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Hidup dalam rumah reyot yang hampir roboh dan tubuh lumpuh sebagian itu tidak membuat Ibu Kosnstanta Watori menyerah. Di balik keterbatasan fisiknya, ia tetap berjuang keras dengan satu harapan besar sembilan anaknya bisa bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.
Elias Gobai Aktivis Gereja Keuskupan Jayapura, melaporkan di Tengah Lumpuh dan Kemiskinan, Ibu Kosnstanta tetap berjuang untuk masa depan 9 anaknya. Kisah memilukan ini datang dari keluarga sederhana di Bukit Argapura, Jayapura Selatan, Papua. Sabtu (06/09).
Ibu Kosnstanta, seorang ibu rumah tangga yang menderita lumpuh pada kaki kiri dan tangan kiri, setiap hari tetap berjualan pinang, rokok, dan sayuran di Pasar Sentral Hamadi untuk menghidupi keluarganya. Sementara suaminya, Wellem, bekerja sebagai buruh lepas di pelabuhan dengan penghasilan tidak menentu.
Namun, beratnya beban hidup membuat mereka kesulitan menyekolahkan anak-anak. Dari sembilan anak yang dimiliki, hanya satu yang masih bersekolah di SMP Taruna Mulia, sedangkan delapan lainnya terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya.
Rumah Tak Layak Huni dan Hidup Serba Kekurangan
Keluarga Kosnstanta tinggal di sebuah rumah sederhana di Jl. Nangka No. 29, Santarosa, RT 002/RW 008, Bukit Argapura. Kondisi rumahnya jauh dari kata layak atap bocor, dinding terbuat dari papan bekas, dan bangunan nyaris roboh. Setiap kali hujan turun, mereka harus menampung air dengan ember dan kaleng bekas.
“Kalau jualan laku, kami bisa makan. Tapi kalau tidak, kami harus tahan lapar,” tutur Ibu Kosnstanta dengan suara lirih.
Penghasilan keluarga ini sepenuhnya bergantung pada hasil jualan kecil-kecilan dan kerja serabutan sang suami. Tingginya biaya hidup di Kota Jayapura semakin menekan, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, apalagi biaya pendidikan.
Harapan Besar Seorang Ibu
Meski hidup dalam keterbatasan, Ibu Kosnstanta menyimpan satu harapan sederhana pendidikan untuk sembilan anaknya. Menurutnya, pendidikan adalah jalan keluar dari lingkaran kemiskinan yang menjerat keluarganya.
“Saya mohon pemerintah bisa membantu biaya pendidikan untuk anak-anak saya, supaya mereka semua bisa sekolah. Saya juga minta bantuan pekerjaan yang tetap untuk suami, dan kalau bisa kami punya rumah yang layak huni. Karena rumah kami sekarang sudah tidak layak ditempati,” ujarnya penuh harap.
Ibu Kosnstanta berharap, melalui perhatian pemerintah dan bantuan masyarakat, anak-anaknya bisa kembali ke sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Potret Perjuangan Masyarakat Kecil di Papua
Kisah Ibu Kosnstanta Watori menjadi potret nyata perjuangan masyarakat kecil di Papua. Elias Gobai menjelaskan dengan kondisi fisik yang lumpuh, ekonomi serba terbatas, dan rumah yang tidak layak huni, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
“Harapan terbesar keluarga ini kini adalah uluran tangan pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat luas untuk membantu mereka keluar dari jerat kemiskinan,” tutupnya.