PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Masyarakat Papua kembali memperingati Hari Noken Sedunia, sebuah momentum untuk mengenang dan merayakan warisan budaya khas Papua yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 4 Desember 2012.
Noken, tas tradisional yang terbuat dari serat alami seperti kulit kayu dan daun pandan, menjadi simbol identitas, filosofi hidup, serta kebanggaan masyarakat Papua.
Noken tidak hanya berfungsi sebagai wadah untuk membawa hasil bumi, barang kebutuhan, hingga menggendong anak kecil, tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam. Ia mencerminkan nilai kemandirian, kesuburan, kebijaksanaan, serta semangat tolong-menolong yang telah diwariskan turun-temurun.
Tokoh penting di balik pengusulan noken hingga diakui UNESCO adalah Titus Pekei, putra Papua yang dikenal sebagai penggagas dan penggerak diplomasi budaya tersebut. Ia menjelaskan bahwa perjuangannya dilakukan demi memastikan noken tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Papua.
“Noken memiliki nilai filosofis yang besar bagi orang Papua. Kita harus terus melestarikannya agar tidak hilang ditelan modernisasi,” ujar Titus Pekei dalam pernyataannya memperingati 13 tahun pengakuan noken oleh UNESCO, kepada media, Kamis (4/12).
Titus menambahkan perayaan tahun ini juga menjadi pengingat penting bagi generasi muda Papua untuk terus menjaga dan mempromosikan noken agar tetap hidup dan berkembang. “Pelestarian noken bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Papua,”
Dari 04 Desember 2012 hingga 04 Desember 2025, perjalanan noken sebagai warisan budaya dunia menjadi bukti bahwa tradisi lokal Papua memiliki nilai universal yang diakui dunia internasional. (*)