GORONTALO, JELATANEWSPAPUA.COM – Kasus intimidasi dan kekerasan kembali menimpa mahasiswa Papua di Asrama HPMN Gorontalo pada Sabtu malam, 6 Desember 2025. Peristiwa ini mendapat perhatian serius dari Sekretaris Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Nabire (HPMN) Gorontalo, Tarianus Gwijangge, yang menjadi narasumber langsung dalam laporan insiden tersebut.
Kronologi Peristiwa Menurut Tarianus Gwijangge
Kepada wartawan, Tarianus menjelaskan bahwa kejadian bermula ketika sebagian penghuni asrama sedang mengikuti kegiatan di Limboto. Lima mahasiswa yang tinggal menjaga asrama adalah:
- Werekma Kalonik,
- Mance Kusuburue,
- Minta Murib
- Anius Wandikbo
- Men Wasiangge
Menurut Tarianus, persoalan dipicu oleh laporan seorang warga yang menuduh bahwa seorang mahasiswa Papua “masuk kamar mandi” dan terlihat oleh seorang ibu yang sedang mandi. Namun, dugaan tersebut tidak memiliki kejelasan identitas pelaku.
“Dua teman yang keluar membeli obat sempat dipantau tiga pria mabuk. Mereka diikuti sampai ke asrama bersama ibu pelapor. Tapi ibu itu sendiri kemudian bilang bahwa wajah mereka tidak cocok dengan orang yang ia lihat,” jelas Tarianus.
Aksi Pemukulan di Dalam Asrama
Situasi justru memanas ketika ketiga pria tersebut kembali ke asrama dan langsung masuk ke dalam kamar mahasiswa.
“Werekma yang lagi sakit dipukul di pipi kiri, ditendang di pinggang kanan, bajunya sampai robek. Minta Murib yang cuma mau tanya baik-baik malah ikut dipukul,” ungkap Tarianus.
Mahasiswa yang baru tiba dari Limboto pun mendapati situasi sudah kacau. Para pelaku kembali datang membawa parang dan pisau. Salah satu parang bahkan dilempar ke arah mahasiswa yang berada di atas motor.
“Untung tidak kena. Kalau kena, bisa lain cerita,” ujarnya.
Aparat Datang Terlambat Mengamankan Pelaku
Menurut Tarianus, aparat kelurahan dan keamanan terdiri dari Pak Lurah, intel, TNI, dan polisi baru datang setelah situasi memuncak.
“Kami dibawa ke Polsek Kota Tengah untuk laporan. Tapi dari jam 21.30 sampai 23.40, polisi hanya menghadirkan dua orang. Salah satunya bukan pelaku pemukulan. Ini yang bikin kami bingung,” tegasnya.
Mahasiswa kemudian menjalani visum sebagai bagian dari proses hukum.
Proses Mediasi Direncanakan, Mahasiswa Minta Pelaku Lengkap
Pihak kelurahan dan kepolisian menjadwalkan mediasi serta permintaan maaf pada Senin, 8 Desember 2025. Namun, Tarianus menegaskan bahwa mahasiswa meminta seluruh pelaku hadir.
“Kami tidak mau setengah-setengah. Semua pelaku harus hadir dan bertanggung jawab. Ini bukan pertama kali kejadian seperti ini. Kami datang kuliah, bukan untuk diteror,” katanya.
Tarianus Tegaskan Mahasiswa Papua Ingin Hidup Aman
Dalam pernyataannya, Tarianus menyampaikan bahwa mahasiswa Papua di Gorontalo hanya ingin hidup dan belajar dengan tenang.
“Kami tidak pernah ganggu siapa pun. Kami hanya minta rasa aman yang sama seperti mahasiswa lainnya. Intimidasi seperti ini harus diakhiri,” tegasnya.
Ia berharap proses mediasi dipimpin secara adil dan aparat lebih tegas dalam menangani kasus kekerasan terhadap mahasiswa Papua. (*)