Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Susun Perubahan RAP Otsus 2026, Bappeda-BPKAD Dogiyai Hadapi Kendala Sistem dan Pemahaman Teknis  

    Kabupaten Dogiyai Raih Opini WTP Pertama Dalam Sejarah Sejak Berdiri Pada 2008

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

    Pelepasan 23 Siswa SD YPPK Mauwa, Pesan Kepala Distrik Kamu: Pendidikan Menentukan Masa Depan Dogiyai

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah: Lembaga Harus Berpihak kepada Rakyat Kecil

    Koalisi HAM Papua Kecam Pembatasan Bantuan Hukum bagi Warga Adat Malind di Merauke

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua Desak Pemulangan dan Pemulihan Hak Mama Yasinta Moiwend

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

    LBH Papua Desak Komnas HAM Tetapkan Dogiyai Berdarah Sebagai Dugaan Pelanggaran HAM Berat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

  • Kesehatan

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

  • Lingkungan

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    HP-SP Paniai Gelar Diskusi Panel Kenakalan Remaja, Despia Yeimo Ajak Pelajar Bangun Masa Depan

    HP-SP Paniai Bentuk Panitia Musyawarah dan Seminar, Dorong Penguatan Literasi Generasi Muda

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

  • Pendidikan

    TK PAUD St. Fransiskus Asisi Epouto Tamatkan 41 Siswa Angkatan XIII Tahun 2026

    Mahasiswa PPL STAK Nabire Sampaikan Terima Kasih kepada TK Negeri Waikato Paapaa Usai Menyelesaikan Praktik Lapangan

    TK YPPK St. Aquinas Enarotali Lepas 28 Siswa dalam Acara Penamatan Tahun Ajaran 2025/2026

    TK Negeri Bomaiye Pito Wisudakan 19 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Komitmen Sekolah

    Wisuda TK YPPGY Eklesia Enarotali, 23 Siswa Resmi Dilepas ke Jenjang Pendidikan Dasar, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Galilea Enaimo Lepas 30 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Dedikasi Guru dan Orang Tua

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

    Pelepasan 23 Siswa SD YPPK Mauwa, Pesan Kepala Distrik Kamu: Pendidikan Menentukan Masa Depan Dogiyai

  • Religi

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Bangun Pendidikan Berbasis Kepapuaan

by Redaksi
29 Juli 2025
in Artikel Opini
0
SHARES
158
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil

Pengantar

Sistem dan kurikulum pendidikan Indonesia yang selalu berganti seiring bergantinya kementrian pendidikan, beberapa daerah terpencil selalu menjadi korban pendidikan nasional, salah satunya daerah Papua. Penerapan terhadap setiap kurikulum belum mendarat di Papua. Saat hendak masuk penerapan, kurikulum diubah lagi. Maka itu dibutuhkan transformasi baru dalam dunia pendidikan di Papua. Transformasi pendidikan di Papua tidak lain adalah “pendidikan berbasis kepapuaan”. Pendidikan berbasis kepapuaan ini penting, karena siswa-siswi berjuang memahami dunia lain, namun terjadi kealpaan untuk memahami dunianya sendiri.

Kurikulum dan kesuksesan yang ditentukan dari Jakarta

Kurikum yang selalu berganti-ganti: yakni  Kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran 1947), Kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai 1952), Kurikulum 1964 (Rencana Pendidikan 1964), Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK), Kurikulum 2006 (KTSP), Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka Belajar membuat daerah-daerah terpencil kebingungan dan bahkan sampai pada kepasrahan buta. Sistem pendidikan dan kurikulum di Indonesia membuat para pendidik (guru) di lapangan menjadi  kewalahan, terlebih khusus di bagian pedalaman yang sulit dijangkau transportasi dan informasi, di samping terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan, sementara negara mengharapkan kesamaan dan kesetaraan dalam mencapai kesuksesan. Siswa dikatakan sukses jika mampu bersaing dengan anak-anak dari pusat (Jakarta) dan sebaliknya jika nilai tidak sama, berarti dianggap tidak mampu dan kalah saing. Di sini terlihat kesuksesan hidup, ditentukan oleh Jakarta.

Kebijakan pendidikan yang berpusat di Jakarta tanpa memberikan kelonggaran atau kebebasan di setiap daerah di seluruh Indonesia membuat sekolah-sekolah di wilayah terisolir terpontang-panting alias “lari babi”, di saat guru berjuang memahami maksud dan isi dari kurikulum tersebut, pada  saat yang sama kurikulum sudah diubah dan kurikulumnya tidak diterapkan.

Jalan tengah untuk menemukan ketimpangan pendidikan tersebut adalah memberikan kewenangan penuh pada pemerintah daerah setempat membuat kurikum sesuai konteks, sehingga pendidikan tidak jalan di tempat dan tidak saling memaksakan. Setiap daerah menemukan pendidikan berdasarkan roh kahidupan masing-masing daerah.

Pendidikan di Papua: Pendidikan Berbasis Kepapuaan

Pendidikan di daerah-daerah terpencil “lari babi”, artinya memaksakan diri untuk “harus sama” atau seragam dengan pendidikan di pusat yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana, dan ketika tidak mampu sama (seragam), dinilai tidak mampu dan ketinggalan. Paradigma ini dibangun cukup lama, dan dijalankan dalam ketidaksadaran orang-orang terpencil.  Mereka telah terbangun paradigm bahwa suskses tidaknya pendidikan atau kehidupan ditentukan oleh Jakarta.

Demi keseragaman pendidikan itu juga, pemerintah daerah khususnya dinas-dinas terkait harus ke Jakarta untuk penyatuan persepsi dan sekaligus penyatuan pembangunan pendidikan. Saat para stakeholder ke Jakarta tidak sedikit uang yang dikorbankan. Belum lagi demi keseragaman bisnis-binis dan pungli dipraktekan dalam menaikan status pendidikan di satuan pendidikan.

Dalam kasus demikian, setiap daerah perlu dibebaskan dan disadarkan, termasuk pusat (Jakarta) yang mempraktekan penjajahan terhadap manusia melalui bidang pendidikan di daerah-daerah terpencil, tidak hanya di Papua tetapi juga daerah-daerah terpencil lainnya di seluruh Indonesia.

Memperoleh pendidikan adalah hak setiap warga yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia tahun 1945, khususnya Pasal 31 ayat (1). Berdasarkan anamah UUD ini, setiap daerah diberikan ruang (panggung) bebas untuk membangun pendidikan sesuai konteks.

Pendidikan di Papua harus dibangun pendidikan konteks Papua. Misalnya pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Adhi Luhur di Nabire yang misi awalnya demi pengembangan anak-anak asli Papua, namun dalam perjalanan kemudian agak kelupaan visi dan misi, sehingga terlihat anak-anak Papua yang tidak memiliki uang mendapatkan tantangan berat untuk bersekolah di sana, kalaupun memiliki kemampuan.

Penyakit membangun sekolah-sekolah di Papua tanpa mempertimbangkan dan memperhitungkan Sumber Daya Manusia (SDM) pun telah menjangkit manusia Papua, bahkan menjamur hampir di seluruh pelosok Papua. Banyak sekolah dibangun di mana-mana tetapi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak dilaksanakan. Orang-orang tua Papua pun tidak selektif dalam memilih dan memasukan anak untuk berpendidikan. Membangun sekolah banyak-banyak di Papua terlihat untuk saling membohohi dan membunuh generasi orang Papua sendiri. Bangun sekolah di mana-mana namun guru-guru tidak pernah terlihat di sekolah, selain itu yang mengajar di sekolah-sekolah adalah bukan latar belakang pendidikan keguruan. Mereka yang berlatar belakang guru pun ditarik ke pemerintah dan di tempatkan di dinas-dinas yang tidak lineal.

Mimpi membangun pendidikan berbasis kepapuan butuh strategi dan kelengkapan SDM. Tenaga-tenaga pendidik harus disiapkan secara baik dan terukur. Mempersiapkan tenaga pendidik yang siap dan dapat dipercaya oleh manusia dan oleh alam Papua. Tenaga pendidik berbasis kepapuan adalah mereka yang benar-benar mengerti tentang Papua tidak hanya sebatas praksis, pratis dan kulit-kulit, melainkan juga yang  memahami secara kritis atas kesejarahan, kebudayaan dan realitas yang dihadapi oleh orang-orang di Papua, sebab tugas kaum terdidik, atau pendidik adalah membebaskan akal budi dari penjajahan kebodohan dan praktek pembodohan.

Baca Juga:

TK PAUD St. Fransiskus Asisi Epouto Tamatkan 41 Siswa Angkatan XIII Tahun 2026

KNPB Nabire Gelar Nobar Film “Pesta Babi” Bersama Masyarakat Wanggar, Tampung Aspirasi untuk Aksi Nasional

Mahasiswa PPL STAK Nabire Sampaikan Terima Kasih kepada TK Negeri Waikato Paapaa Usai Menyelesaikan Praktik Lapangan

TK YPPK St. Aquinas Enarotali Lepas 28 Siswa dalam Acara Penamatan Tahun Ajaran 2025/2026

Untuk membangun pendidikan berbasis kepapuan butuh kajian ilmiah, butuh strategi, sistem pendidikan dan sekaligus kurikulum yang membumi dan mengakar pada orang-orang setempat sesuai kenyataan, kebutuhan dan harapan. Untuk penerapan dipersiapkan tenaga-tenaga handal, yang memiliki kapasitas dan kulitas yang tak diragukan. Kemampuan kemandirian dan kesuksesan diukur sendiri dan bukan oleh pihak lain yang tentu memiliki niat dan tujuan yang tulus.

Pendidikan berbasis kepapuaan tidak lain adalah merangkum harapan dan kerinduan, duka dan kecemasan, kenyataan dan kebutuhan dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang direncanakan (dirancang) dan menanggapinya secara tepat, sesuai dan kena sasaran. Jika pendidikan tidak berbasis kepapuaan, pendidikan pada akhirnya menjadi alat penindasan dan pembodohan tanpa berbikir untuk keluar dari kenyataan penindasan, penderitaan, kelaparan, dukacita dan sakit penyakit yang dideritanya.

Penutup

Pendidikan berbasis Nasional dengan sistem dan kurikulum tetap dilaksanakan, namun untuk para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah perlu memikirkan upaya-upaya jalan tengah untuk pembangunan atau pemberdayaan pendidikan secara kontekstual dan mengena, demi menghindari pendidikan generalisasi yang melupakan kekhasan dan keistimewaan, yakni tidak lain adalah kemuliaan hidup dari masing-masing tempat dan individu, demi menuntaskanstrategi pendidikan yang tidak sesuai harapan.

Pendidikan berbasis kepapuan perlu dibangun sambil menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan Nasional adalah satu bantuk jalan keluar dari pendidikan yang selama ini dipraktekan secara buta dan tak sadar bahwa melalui pendidikan berbasis nasional saja, khususnya daerah-daerah terpencil kehilangan jiwanya sendiri. Membangun pendidikan berbasis kepapuan tidak lain adalah pendidikan menjadi alat untuk mempertemukan setiap peserta didik dengan jiwanya sendiri, hidupnya sendiri, masa depannya sendiri, tanah dan manusianya sendiri. Sebab tujuan pendidikan sejati adalah “pengenalan diri”, untuk mempertahankan diri dan lingkungannya dari perampasan dan pemusnahan.

Penulis adalah Pendidik di Sekolah Tinggi Katolik (STK) “TP” Deiyai, Keuskupan Timika

Post Views: 1,654
Previous Post

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya Minta Presiden Prabowo Hentikan Operasi Militer di Pemukiman Warga

Next Post

Senator Wilhelmus Pigai Reses dan Serap Aspirasi Keagamaan di Nabire

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

2 minggu ago
Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

3 minggu ago
Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

3 minggu ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

2 bulan ago
Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

3 bulan ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

3 bulan ago
Next Post

Senator Wilhelmus Pigai Reses dan Serap Aspirasi Keagamaan di Nabire

Please login to join discussion

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved