PUNCAK PAPUA, ILAGA, JELATANEWSPAPUA.COM — Kontak senjata kembali terjadi di Kabupaten Puncak, Papua, pada Kamis (31/07) pagi. Insiden ini berlangsung di Kampung Tegelobak, Distrik Ilaga, sekitar pukul 05.00 WIT.
Dalam keterangan pers yang diterima media ini, mengatakan tiga anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dilaporkan tewas dalam baku tembak tersebut. Aksi ini merupakan bagian dari Operasi Badai 2.17 yang digelar oleh Den 3 Satgas Rajawali II dan Tim Khusus Mandala.
Militer menyebut operasi ini bertujuan membersihkan wilayah yang dianggap sebagai basis kelompok bersenjata. Ketiga korban disebut merupakan bagian dari kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Goliat Tabuni.
Anggota TPNPB yang tewas diidentifikasi sebagai Ado Wanimbo, Meni Wakerwa (alias Jumadon Waker), dan satu orang lainnya yang masih dalam proses identifikasi. Aparat mengamankan berbagai barang bukti dari lokasi kejadian.
Barang bukti yang disita meliputi satu pucuk senjata SS2V4 bernomor BF.CS 024739, satu senapan angin, dan amunisi kaliber 5,56 mm sebanyak 64 butir. Selain itu, ditemukan beberapa magasin M16 dan SS, telepon genggam, dompet, dan perlengkapan pribadi lainnya.
Aparat juga menyita barang logistik seperti kopi, mi instan, uang tunai sebesar Rp3,8 juta, serta dokumen identitas seperti KTP dan Kartu Papua Sehat. Peralatan sederhana seperti parang, kapak, dan ketapel turut ditemukan di lokasi.
Militer menyatakan bahwa operasi berjalan sesuai rencana tanpa korban di pihak mereka. Namun, hingga kini belum ada data resmi terkait jumlah amunisi yang digunakan selama kontak senjata.
Pihak TPNPB membenarkan bahwa tiga anggotanya gugur dalam pertempuran tersebut. Mereka menuding militer Indonesia berhasil masuk ke wilayah mereka dengan bantuan informasi dari mata-mata Orang Asli Papua.
“Militer Indonesia masuk ke wilayah kami dengan bantuan dari mata-mata Orang Asli Papua sendiri,” ujar juru bicara TPNPB dalam siaran pers yang diterima redaksi. Mereka menyebut tindakan ini sebagai bentuk sabotase terhadap perjuangan mereka.
Dampak dari operasi ini mulai dirasakan warga sipil di Distrik Gome yang dilaporkan mengungsi. Warga meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari dampak lanjutan dari konflik bersenjata.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI mengenai kemungkinan adanya korban atau kerugian di pihak aparat. Proses pengamanan dan penyisiran masih dilakukan di sekitar lokasi baku tembak.
Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa konflik bersenjata di Papua belum mereda. Warga sipil kembali menjadi korban dalam situasi konflik yang terus berkepanjangan.
Pemerintah pusat dan daerah didesak untuk segera mengambil langkah konkret guna menghentikan kekerasan. Perlindungan terhadap warga sipil dan penyelesaian akar konflik menjadi tuntutan utama dari berbagai pihak.