Oleh: Gobay Awekidabi
Kubuu dan Iteguno adalah, tarian adat khas suku Awyu, masyarakat adat di pesisir selatan Papua, tepatnya di aliran Sungai Digoel. Kubuu merupakan tarian lingkar dengan gerakan ritmis dan hentakan kaki, sementara Iteguno adalah tarian dengan nyanyian tradisional yang penuh syair, doa, dan pesan leluhur. Kedua tarian ini tidak hanya menghibur, tetapi menjadi sarana syukur, doa, persatuan, dan identitas budaya orang Awyu.
Pelaku tarian ini adalah masyarakat adat suku Awyu. Dalam praktiknya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak ikut serta. Para tetua adat biasanya memulai dengan doa atau lantunan syair Iteguno, lalu dilanjutkan dengan hentakan Kubuu yang dipimpin kaum muda. Keterlibatan semua lapisan masyarakat menunjukkan bahwa tarian ini milik bersama, bukan hanya milik satu kelompok atau generasi.
Kubuu dan Iteguno dipentaskan di kampung-kampung Awyu, terutama di Boven Digoel dan Mappi, Papua Selatan, daerah yang dikelilingi hutan dan sungai. Lapangan kampung, halaman rumah adat, atau tempat terbuka di alam biasanya menjadi arena utama. Selain di kampung, kini tarian ini juga tampil dalam festival budaya di kota untuk memperkenalkan identitas Awyu ke masyarakat luas.
Tarian Kubuu dan Iteguno hadir dalam berbagai momen penting kehidupan masyarakat Awyu:
Pesta adat ulat sagu perayaan syukur yang menjadi simbol kelimpahan pangan.
Pernikahan adat untuk memberkati pasangan baru.
Upacara penyambutan tamu sebagai simbol penghormatan.
Pesta panen dan syukuran ketika hasil kebun, hutan, dan sungai melimpah.
Acara keagamaan dan hari besar nasional wujud ekspresi identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Tarian ini penting karena mencerminkan jati diri dan filosofi hidup orang Awyu:
1. Identitas Budaya memperlihatkan ciri khas Awyu sebagai masyarakat adat Papua Selatan.
2. Media Syukur dan Doa syair Iteguno berfungsi sebagai doa kolektif kepada Tuhan dan leluhur.
3. Persatuan Sosial lingkaran tarian Kubuu melambangkan kebersamaan tanpa sekat.
4. Pewarisan Nilai generasi muda belajar adat melalui partisipasi dalam tarian.
5. Keterikatan dengan Alam gerakan, syair, dan pesta adat ulat sagu menegaskan bahwa kehidupan Awyu menyatu dengan hutan dan sungai.
Tarian dimulai dengan alat musik tradisional seperti tifa, disusul nyanyian Iteguno yang dilantunkan bersama-sama. Penari membentuk lingkaran besar, bergandengan tangan, menghentakkan kaki ke tanah, lalu bergerak mengikuti irama.
Kubuu menekankan gerakan tubuh dan hentakan kaki yang ritmis.
Iteguno menghadirkan syair panjang berulang, penuh makna spiritual.
Para penari mengenakan atribut adat suku Awyu:
Sah → cawat.
Bii → siput hiasan.
Sasu → mahkota kepala.
Buya → saluwaky.
Hasi → tombak.
Sintaki → pelindung hidung.
Wima → gigi anjing sebagai hiasan.
Kepu → pelindung tangan dan kaki.
Biisa → pelindung kemaluan pria.
Habakepuo → mahkota perempuan.
Daan → manik-manik khas Awyu.
Atribut-atribut ini bukan sekadar hiasan, tetapi simbol status, keberanian, dan penghormatan terhadap leluhur.
Suku Awyu: Penjaga Hutan dan Identitas
Suku Awyu adalah masyarakat adat yang mendiami daerah aliran Sungai Digoel di pesisir selatan Papua, terutama di Kabupaten Mappi dan Boven Digoel. Berdasarkan sensus 2017, jumlah mereka diperkirakan mencapai 27.300 jiwa, terbagi ke dalam beberapa sub-suku seperti Aghu, Nohon, Pisa, Asue, Jair, dan Awyu Selatan.
Kehidupan mereka bergantung pada hutan dan sungai. Sagu, ikan, dan udang adalah makanan pokok, sementara berburu dan meramu menjadi mata pencaharian utama. Bahasa Awyu, dengan berbagai dialek, memperkaya khazanah linguistik Papua.
Lebih dari itu, suku Awyu dikenal sebagai penjaga hutan. Bagi mereka, hutan adalah “rekening abadi”, tempat semua kebutuhan hidup tersedia bagi generasi demi generasi. Tokoh Awyu, Hendrikus Franky Woro, menegaskan bahwa perjuangan melawan perusahaan sawit adalah bagian dari menjaga kehidupan, budaya, dan identitas mereka.
Kubuu dan Iteguno adalah denyut nadi kebudayaan suku Awyu—tarian adat yang tak hanya memperlihatkan keindahan seni, tetapi juga memperdalam makna kehidupan. Lewat tarian, nyanyian, atribut adat, hingga pesta ulat sagu, orang Awyu meneguhkan jati diri mereka sebagai penjaga hutan Digoel dan pewaris budaya Papua Selatan.
Penulis Elias Awekidabi Gobay. Waena 1 September 2025