MALANG, JELATANEWSPAPUA.COM – Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan mahasiswa kembali menjadi sorotan. Melalui tulisan berjudul “Paradoks Mahasiswa Teknik UM: Kecanduan ChatGPT untuk Efisiensi, Tetapi Krisis Aturan dan Kemampuan Berpikir Kritis” yang tayang di Kompasiana.com, penulis Puteriardista NM menyoroti paradoks di balik maraknya penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM).
Dalam artikelnya, Puteriardista (Dosen) dilangsir dari kompasiana.com, (7/11/2025), menulis bahwa ChatGPT kini menjadi alat utama bagi banyak mahasiswa teknik untuk mempercepat proses penyusunan tugas, laporan, hingga penelitian.
Namun, di balik efisiensinya, muncul gejala penurunan kemampuan berpikir kritis dan krisis pemahaman konsep yang cukup mengkhawatirkan.
“Mahasiswa mengandalkan ChatGPT untuk segala hal, bahkan untuk hal-hal sederhana yang seharusnya bisa mereka pikirkan sendiri. Ini membuat mereka kehilangan daya analisis dan kreativitas,” tulisnya dalam artikel dipetik Jelatanewspapua.com, Kamis (13/11).
Puteriardista menilai bahwa kebergantungan pada AI menciptakan pola belajar instan di kalangan mahasiswa. Banyak yang lebih memilih hasil cepat daripada proses pemahaman yang mendalam. Hal ini dinilai berbahaya bagi masa depan akademik dan profesional generasi muda, terutama di bidang teknik yang menuntut kemampuan berpikir sistematis dan problem solving yang tinggi.
Selain itu, ia juga menyoroti lemahnya regulasi penggunaan AI di lingkungan kampus. Belum adanya aturan yang jelas tentang batasan penggunaan ChatGPT membuat mahasiswa bebas menggunakan teknologi tersebut tanpa kontrol etika akademik.
“Jika kampus tidak segera menyusun pedoman penggunaan AI, maka risiko plagiarisme, manipulasi data, dan hilangnya keaslian karya ilmiah akan semakin meningkat,” lanjutnya.
Artikel ini pun memancing banyak tanggapan dari pembaca di platform Kompasiana. Sebagian setuju bahwa ChatGPT membantu efisiensi dan kreativitas, sementara sebagian lain menganggap penggunaan berlebihan bisa mengikis kemampuan berpikir mandiri.
Fenomena ini mencerminkan tantangan dunia pendidikan tinggi di era digital, di mana teknologi AI membawa kemudahan sekaligus ancaman terhadap kualitas berpikir generasi akademik.
“Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan tongkat penopang permanen,” tutup Puteriardista dalam tulisannya.