Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Evangelium Vitae atau “Injil Kehidupan” merukan salah satu Ensiklik yang dikeluarkan sebagai dokumen resmi Gereja oleh Paus Yohnase Paulus II pada 25 Maret 1995 kepada semua manusia di dunia mengenai “nilai hidup manusia yang tak dapat diganggu-gugat” dalam bentuk dan dengan alasan apa pun. Setiap dan semua manusia harus bertanggung jawab menyelamatkan manusia. Ancaman dan kekejaman terhadap manusia harus dihentikan, agar keluhuran nilai hidup manusia ditingkatkan. Dengan renungan tentang hidup dalam kaitannya dengan kelahiran Yesus, tulisan ini berkaitan dengan Kitab Suci tentang hidup. Dengan selankutnya, doa kepada bunda Maria sebagai teladan umat manusia tetang penerimaan hidup (Evangelius Vitae: 1995: hlm, 5). Menghidupkan Injil Kehidupan di Papua dengan gerakan-gereaka yang mempromosikan hidup manusia sebagai nilai tertinggi di dunia ini.
Makna Kelahiran dan Kamatian Yesus
Yesus adalah sumber kehidupan. Hal ini disampaikan oleh Yesus sendiri: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup” (bdk., Yoh 14:6), atau “Akulah kebangkitan dengan hidup” (Yoh 11:25). Demi hidup manusia (dunia) itu sendiri, Yesus dilahirkan oleh bunda Maria, menderita dan mati di kayu salib, selanjutnya bangkit untuk membuka pintu Kerajaan Allah, agar para pengikut dapat mencapai Allah Pencipta yang memberikan ganjaran kehidupan kekal.
Dalam seluruh hidup Yesus, Allah Bapa-Nya tidak pernah meninggalkan Dia. Bahwa, Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” (lih., Luk 2:40). Yesus datang kedunia karena begitu kasihnya kepada manusia, agar manusia memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Ef 2:4).
Makna inti dari misi penebusan Yesus dikatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai keidupan dan memilikinya melimpah”, (EV: Hlm, 8). Sesungguhnya, Ia menunjuk dan bahkan memberikan kehidupan “baru” dan “kekal”, yakni mencapai kehidupan dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus, di sinilah tujuan dan makna hidup manusia mencapai kesempurnaan.
Nilai Pribadi Manusia Tiada Bandingannya
Nilai hidup manusia menduduki posisi teratas dalam pilihan dan keputusan. Nilai hidup tidak dapat dibandingkan dengan apa pun dan tidak dapat digadaikan dengan uang atau barang juga posisi jabatan tertentu.
Manusia dipanggil kepada kepenuhan hidup, jauh melampaui dimensi-simensi hidup di dunia, karena panggilan hidup dari Allah adalah berpartisipasi dalam kehidupan keluarga Allah atau menjadi warga Kerajaan Allah, di mana Allah menjadi Raja dan umat menjadi warga-Nya. Panggilan Allah dalam kehidupan-Nya memiliki keluhuran karena bersifat adikodrati, memiliki keagungan dan nilai tak tertingga, panggilan Allah dimulai saat ini pula dan diharapkan tanggapan manusia untuk membela kehidupan dan kemanusiaan.
Kehidupan yang diterima di dunia merupakan persiapan mencapai kehidupan kekal dalam keluarga Allah. selama hidup di dunia, siapa pun manusia tidak dibenarkan untuk dipergunakan demi kepentingan duniawi semata, dengan melekat pada hal-hal duniawi, benda-benda duniawi dan jabatan duniawi. Sikap manusia kini yang lebih mengutamakan hal-hal duniawi, hidupnya lebih berfokus dan terpaku pada persoalan duniawi semata, bahkan hingga saling mengorbankan nyawa tidak dibenarkan oleh Allah sendiri. Kebiasaan ini melawan atau menantang dalam usaha mewujudkan “Injil Kehidupan”. Karena kekerasan, kejahatan dan keburukan mendomunasi, sehingga tempat bagi persemaian Injil Kehidupan menjadi kosong.
Injil kehidupan yang diterima dari Tuhan harus digemakan dan setiap manusia menyediakan tempat bagi-Nya. Setiap hati manusia, khususnya umat Kristiani yang telah terbuka dan meniyakan menerima Yesus, memperkenankan Yesus tinggal di hati untuk memancarkan Injil Kehidupan kepada dunia. Injil kehidupan dipancarkan ditengah kegelapan, dihadirkan di tengah kesulitan dan diberikan kepastian ditengah kebingungan dan kesukaran. Di tengah dunia yang lebih menghidupkan hal-hal negatif yang lebih dominan, tidak saling memandang dan menganggap manusia antara satu dengan yang lain, tugas manusia beriman adalah membawa kabar baik, kabar kehidupan bersama dan dalam Yesus sumber kehidupan dan keselamatan.
Umat beriman akan Kristus harus membela dan mendukung hak hidup yang tidak dapat diganggu gugat ini, dengan menyadari kebenaran yang mengagumkan, sebagaimana disampaikan dalam Konsili Vatikan II: “Dalam penjelmaan-Nya Petera Allah dengan cara tertentu menyatukan diri dengan setiap orang” (KV II, Gaudium et Spes, Art:22). Peristiwa penyelamatan atau penyelmaan itu menyingkapkan kepada manusia bukan saja cinta kasih Allah yang tiada batasnya, “sedemikian rupa mengasihi dunia, sehingga Ia mengaruniakan Petera-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16), melainkan juga nilai tiada bandingnya setiap pribadi manusia.
Setiap manusia wajib merenungkan misteri Penebusan yang dilakukan oleh Yesus. Bahwa nilai hidup harus dikagumi dan dijunjung tinggi oleh setiap manusia, apa pun latar belakang kehidupannya. Umat manusia dipanggil untuk mewartakan kepada dunia di segala zaman “Injil Kehidupan” ini, sumber harapan yang tidak terkalahkan dan kegembiraan sejati bagi tiap periode sejarah. Injil cinta kasih Allah terhadap manusia, Injil martabat pribadi dan Injil kehidupan merupakan hanya satu Injil (Yesus) yang tak terbagi. (EV: hlm, 10). Oleh karenanya, semua manusia yang hidup menghidupkan Injil Kehidupan (Yesus Kristus) di mana pun berada.
Baerbagai Ancaman bagi kehidupan manusia dewasa ini di Papua
Dengan misteri Sabda Allah uang menjadi daging (Yoh 1:11), setiap manusia yang percaya kepada-Nya dipercayakan kepada karya keibuan Gereja. Dari sini, tiap ancaman terhadap ancaraman terhadap martabat dan hidup manusia mau tidak mau harus menjadi bagian (rasa) dari Gereja sendiri. (KV II: GS, Art,1). Penjelmaan Putera Allah yang menebus umat manusia, mengikat pula dalam misi mewartakan Injil Kehidupan di seluruh dunia dan kepada segala makhluk. (Mrk 16;15).
Dewasa ini ancaman terhadap martabat manusia makin meningkat. Allah menciptakan dunia sebagai tempat menemukan martabat kemanusiaan, berubah menjadi tempat penderitaan, duka dan kecemacan. Dunia tercipta neraka bagi kehidupan dan manusia kehilangan kemanaan, kenyamanan, kedamaian, bahagia dan sukacita; sebaliknya manusia diliputi kelaparan, kesakitan, penderitaan, duka cita, sakit-penyakit, iri, benci dan dengki yang disebabkan oleh ketamakan dan kerakusan manusia yang mencari kebahagiaan semu di dunia. Kenyataan hidup saat ini konflik terjadi di mana-mana, bahkan dimulai dari diri: konflik batin, hingga tingkat dunia, yakni konflik senjata yang mengorbankan nyawa manusia.
Opini-opini umum yang membenarkan tindakan criminal, undang-undang yang diciptakan untuk menindas martabat manusia, berita hoax yang menjamur memperlihatkan dunia tidak lagi menghargai martabat manusia, terlihat Injil Kehidupan diinjak-injak. Injil kehidupan dilawan dengan penumpasan suku tertentu, pengguguran, euthanasia, bunuh diri, bunuh orang lain, bahkan secara tahu, mau, sadar dan sengaja (EV: Hlm,11).
Keadaan yang meresahkan itu tidak mereda, bahkan justru makin menjadi-jadi; terlebih dengan penemuan-penemuan baru melalui kemajuan ilmu yang ilmiah dan teknologi, muncullah bentuk-bentuk serangan baru untuk melawan martabat manusia. selanjutnya tercipta iklum baru yang tidak bersahabat dengan hidup manusia.
Kejahatan terhadap martabat manusia yang makin tak terbendung tercipta pandangan baru tentang manusia, bahkan dianggap hal yang lumrah, wajar-wajar saja. Khususnya di Papua beberapa kondisi yang tercipta yang mengancam kehidupan manusia, karena terjadi berulang-ulang dan terus-menerus; manusia Papua kehilangan akal: tindakan prefentif, kuratif dan bahkan pengobatan (penanganan) yang serius tidak dihiraukan, sehingga budaya kematian makin meningkat, karena penyakit secara bringas dan kejam menghabiskan akar-akar kehidupan. Injil kehidupan di Papua belum sepenuhnya mendapat tempat yang selayaknya, karena itu tercipta ancaman-ancaman baru bagi kehidupan seperti, Aborsi, Penyakit HIV/AIDS, Kasus Begal (di Nabira), Kekerasan Politik NKRI versus Papua Merdeka, pengrusakan terhadap lingkungan alam yang makin marak (perusahan-perusahan asing masuk mengeksploitasi hutan Papua), dll.
Menghidupi Injil Kehidupan
Injil Kehidupan telah diwartakan, bahkan hadir di Papua: Ia selalu tinggal dan menyertai kehidupan manusia Papua. Gereja (umat beriman) memiliki tanggung jawab menerima Injil Kehidupan ini disetiap sudut hati manusia Papua. selanjutnya, Injil Kehidupan ini dihidupkan: dibawa kepada segala makhluk, untuk melawan budaya kematian, kebiasaan membunuh dan menghancurkan kehidupan.
Tindakan melawan kejahatan atau budaya kematian ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang atau segelintir orang; karena itu butuh kebersamaan dan kekompakan, persatuan dan kesatuan semua orang Papua, sehingga anugrah hidup yang diberikan oleh Allah, dapat dijunjunng tinggi lebih dari segala Sesuatu yang ada di dunia (di Papua).
Injil Kehidupan yang terdapat dalam Kitab Suci dibacarakan, sekaligus diwartakan dan dihayati secara radikal di Papua. Injil Kehidupan telah ada bagi orang Papua, ditawarkan kepada orang Papua dan orang Papua harus menerima-Nya sebagai sumber kehidupan dan keselamatan kekal. Melawan budaya kematian, kejahatan dan kenancuran di Papua tidak bisa dengan cara yang lain; selain hanya dan satu-satunya mengangkat Injil Kehidupan: mengutamakan cinta dan belas kasihan, pengampunan dan kerendahan hati. Orang Papua secara berani mengatakan, “tidak” kepada yang membunuh, merampas hak hidup, kejahatan dan pembunuhan, selanjutnya orang Papua mengatakan, “ya” kepada yang menghidupankan, membebaskan dan menyelamatkan.
Penutup
Paus Yohanes Paulus II telah memberikan pendasaran untuk menghargai martabat hidup manusia setinggi-tingginya melalui Dokumen Gereja, Ensiklil Evangelium Vitae tahun 1995. Dasar ajaran ini relevan untuk bersuara bagi kehidupan di Papua, dalam usaha melawan kejahatan, kekerasan dan penjajahan terhadap kehidupan dari pihak mana pun, termasuk antar sesama manusia Papua sendiri. Setiap orang yang ada di Papua memiliki tanggung jawab untuk menghargai kehidupan manusia, apa pun latar belakangnya, sehingga kehendak Allah untuk manusia dan tanah Papua terwujud, Kerajaan Allah terbangung kokoh di atas tanah Papua, tanah yang kudus ini.
Penulis Dosen STK “Touye Paapaa”Deiyai, Keuskupan Timika-Papua