TIMIKA, JELATANEWSPAPUA.COM – Konflik bersenjata yang terus berkecamuk di wilayah pegunungan tengah Papua telah memicu gelombang pengungsian dalam skala besar. Ribuan warga dari Kabupaten Puncak Papua dan Intan Jaya kini hidup dalam kondisi darurat sebagai pengungsi internal.
Laporan resmi yang dirilis Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika pada Jumat (01/08) mencatat bahwa total 5.700 jiwa mengungsi akibat konflik tersebut. Mereka tersebar di wilayah-wilayah pastoral Keuskupan Timika dan berada dalam kondisi terbatas.
Sebanyak 4.469 jiwa berasal dari Kabupaten Puncak Papua, menyebar di distrik Gome, Gome Utara, Ilaga, Omukia, Oneri, Pogoma, Sinak, dan Yugumoak. Sementara itu, 1.231 jiwa lainnya berasal dari Kabupaten Intan Jaya yang mengungsi dari kampung Sugapa Lama, Hitadipa, Janamba, Sanaba, Jalinggapa, dan Titigi.
Situasi pengungsian ini tidak hanya mengganggu stabilitas kehidupan warga, tetapi juga berdampak serius terhadap masa depan anak-anak. Banyak dari mereka kini terputus dari akses pendidikan karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan.
Data SKP Keuskupan Timika menunjukkan bahwa sebanyak 216 anak dari Kabupaten Puncak Papua kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Rinciannya, 109 anak adalah siswa tingkat sekolah dasar, dan 107 anak merupakan siswa tingkat SMP.
“Anak-anak ini adalah korban langsung dari konflik berkepanjangan,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut. Mereka kehilangan rumah, kampung halaman, dan hak dasar untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Keuskupan Timika menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi ini dan menyerukan tindakan segera dari pemerintah. Bantuan nyata dari lembaga kemanusiaan, baik nasional maupun internasional, juga dinilai sangat mendesak.
Layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal layak sangat dibutuhkan oleh para pengungsi. Khususnya anak-anak dan perempuan menjadi kelompok paling rentan dalam situasi darurat ini.
“Situasi di Puncak dan Intan Jaya memang serius, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk menebar kepanikan,” tegas laporan tersebut. Kedamaian dan ketertiban tetap harus dijaga oleh seluruh masyarakat Papua.
Konflik di pegunungan tengah Papua telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi yang jelas. Ketegangan antara aparat keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional (TPNPB) telah menimbulkan luka mendalam bagi warga sipil.
Upaya penyelesaian konflik masih menemui jalan buntu, sementara jumlah korban terus bertambah. Dalam kondisi ini, peran gereja dan masyarakat sipil menjadi krusial dalam menjaga kemanusiaan.
SKP Keuskupan Timika menyatakan akan terus mendampingi para pengungsi dalam pelayanan pastoral. Mereka juga berkomitmen menyuarakan kondisi lapangan agar tidak diabaikan oleh negara.