Oleh: Marius Goo S. S., M.Fil
Pengantar
Orang yang sehat dan mampu bekerja namun memilih tidak bekerja, tidak pantas untuk menerima makanan atau bantuan dari orang lain. Santo Paulus selalu menekankan untuk membantu atau mengasihi orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan, misalnya karena sakit berat, lanjut usia atau keterbatan-keterbatasan lain. Santo Paulus menyampaikan hal ini supaya tidak bermalas-malasan dan menjadi beban bagi orang lain. Prinsipnya hidup mandiri, bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, sambil mendorong solidaritas terhadap mereka yang benar-benar membutukan bantuan. Orang yang kerja mengambil bagian dalam Allah yang bekerja hingga kini. “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yoh 5:17).
Makna Kerja
Kerja merupakan pertunjukkan diri sebagai manusia yang paling esksitensial, di mana dengan bekerja manusia menunjukkan diri sebagai yang rasional, universal dan otonom, seperti disampaikan oleh Karl Marx, (JH Raharusun: 2021). Kerja dan usaha manusia dapat membedakan diri dari hewan. Kerja merupakan realisasi diri manusia.
Manusia dari kodratnya harus dan selalu bekerja untuk tetap bertahan hidup. Dengan bekerja manusia menemukandan sekaligus mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi dan pada waktu yang sama mencapai kepenuhan dan kesempurnaan diri sebagai manusia. Manusia menunjukkan esksitensi melalui kerja demi aktualisasi dirinya. (Jon Elser: 2000, 59-60).
Dampak Hidup Pekerja Keras dan Pemalas Kerja
Santo Paulus dalam teks (2Tes 3:20) secara keras bahkan radikal menyampaikan umat di Tesalonika untuk harus kerja. Kerja itu tak terpisakan dari hidup dan demi hidup itu sendiri. Orang yang selalu bekerja adalah orang yang telah menemukan makna hidup dan orang yang pemalas bekerja adalah orang yang sedang mencari makna hidup, bahkan orang yang tidak mengerti makna hidup. Setiap manusia terbagi menjadi dua: sebagian pekerja kerjas, sedangkan yang lainnya pemalas kerja.
- Dampak Hidup Bagi Pekerja Keras
Orang yang selalu bekerja mengambil bagian dalam Allah yang bekerja hingga hari ini (bdk., Yoh 5:17). Dunia akan dimiliki oleh orang yang selalu kerja, sebab mereka akan mendapatkan makanan dan minuman sesuai kebutuhan. Prinsip orang bekerja adalah bahwa “makanan dan minuman tidak akan pernah datang sendiri,” atau “tidak ingin menjadi benalu bagi orang lain: apalagi memiliki tubuh yang sehat kuat dan masih muda.”
Pekerja keras selalu hidup dalam kelimpahan berkat dan tidak pernah mengeluh. Perutnya selalu terisi makanan dan selalu memiliki mimpi dan harapan yang gemilang. Para pekerja selalu mempunyai masa depan yang cerah, sebab tidur malam selalu nyenyak dan selalu mendapat mimpi-mimpin yang baik pula. Orang kerja tidak pernah mau menghabiskan waktu hanya canda tawa dan huru hara. Setiap waktu bagi pekerja adalah uang. Bagi pekerja antara waktu, kerja dan uang tidak dapat dipisahkan. Eksistensi diri ditunjukkan dalam kehadirannya sebagai pekerja sepanjang waktu. Karena itu, pekerja keras selalu memilih rekan sepermainan, atau orang dalam pergaulan tidak sembarang, sebab lingkungan memiliki pengaruh yang dominan dalam aktualisasi diri. Artinya, pekerja keras pasti memilih orang baik, pekerja keras yang tidak pernah menghabiskan waktu dengan kebiasaan yang buruk:malas, santai dan mental menunggu, seperti anak bayi, atau burung kecil dalam sarang.
- Dampak Hidup Bagi Pemalas Kerja
Orang yang malas kerja padahal memiliki tubuh yang kuat, kekar, masih muda dan sehat secara fisik, eksistensi sebagai manusia dapat dipertanyakan. Apakah benar-benar manusia ataukah kesinnya saja manusia, sedangkan isi di dalamnya bukan manusia. Pada dasarnya, orang yang telah mengenal dirinya sebagai manusia, telah mengetahui bahwa hidup untuk kerja dan tanpa kerja tidak mungkin mendapatkan makanan, atau tidak mungkin makanan akan datang sendiri; kecuali bagi bayi, orang lanjut usia, disvabilitas dan teridap sakit-penyakit yang memang tidak bisa bergerak. Padahal hewan sekalipun tidak tahu kerja, namun dia mencari cara untuk dapat memperoleh makanan.
Yang tidak bisa kerja adalah mereka yang lemah secara fisik. Orang yang tubuh masih kuat, sehat dan bugar, juga masih muda namun masa mudanya dihabiskan dengan sikap malas tahu, masa bodoh, santai-santai, dapat dikategorikan dalam kaum lemah yang hidup hanya menjadi benalu dan mengorbankan orang lain.
Kebiasaan pemalas kerja tertampak dalam kebiasaan minta-minta, menunggu orang lain “kasih makan dan minum”, tidak punya energi positif dalam hidup, tidak memiliki daya hidup, tidak mempunyai semangat juang, tidak punya kreasi, inovasi dan tidak produktivitas. Kehadiran orang pemalas menjadi penghambat pertumbuhan bagi orang lain yang membantunya.
Implementasi Teks (2Tes 3:20) bagi orang Papua
Allah menciptakan tanah Papua kaya, namun manusianya sendiri memiskinkan dirinya dengan kebiasaan hidup yang kurang menghayati kemanusiaannya, yakni hidup tidak produktif. Tanah yang subur dan kaya tidak diolah, sebaliknya dilepaskan begitu saja, bahkan dijual. Orang Papua lebih percaya pada manusia, pada uang dan jabatan, sehingga dapat digadaikan harga diri, hak-haknya secara gampangan. Diharapkan setiap orang Papua bergantung penuh pada Allah, seperti disampaikan santo Paulus, “Jangan kamu bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (1Kor 2:5).
Santo Paulus menekankan pentingnya kerja, perjuangan dan usaha dari setiap manusia, khususnya orang-orang yang sehat secara fisik, masih memiliki kekuatan untuk menghasilkan sesuatu. Memang benar apa yang disampaikan santo Paulus, “jika tidak bekerja, jangan diberi makan.” Sebenarnya Santo Paulus mau sampaikan, tidak bekerja namun makan adalah “tidak tahu malu”. Anak muda dan orang sehat yang tidak bekerja seharusnya tidak pantas makan.
Nasehat santo Paulus disampaikan kepada orang Papua untuk bekerja dan bagi yang punya telinga pasti mendengarkan seperti disampaikan oleh Yesus sendiri: siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar (Mat 11:15). Pesan Santo Paulus ini bersifat profetik. Ia memukul mental orang Papua untuk tidak tinggal diam, tidak mendirikan mental menanti dan menunggu, mental santai dan kebiasaan jalan-jalan tanpa tujuan.
Penutup
Pesan atau nasehat Santo Paulus dalam teks (2Tes 3:20) ini sebanarnya mau membakar semagat dan daya juang kaum muda untuk tidak tinggal diam, tidak membiasakan diri terbelenggu kebiasaan hidupnya ditanggung orang lain, sementara masih bisa bertanggung jawab, masih bisa kerja dan bergerak, bahkan lebih cekatan, cepat dan lebih bersemangat yang didukung oleh semangat muda. Di masa muda harus memiliki misi dan mimpi, harus memiliki harapan dan itu semua harus diperjuangkan dengan semangat penuh pengorbanan, dengan integritas dan daya juang yang tinggi. Sudah saatnya semua orang Papua bekerja, bekerja dengan jujur dan transparan, bekerja secara sportif dan positif. Makan dari hasil keringat dan kerja keras sendiri. Setiap dan semua orang Papua sudah saatnya bangkit dan bersemangat berjuang keras, bekerja keras agar tanah yang subur diolah, bukan dijual. Demikianlah Santo Paulus menasehatkan untuk jangan adalah lagi orang Papua yang menjadi penonton di tanah sendiri, tidak ada orang Papua yang menjadi benalu bagi orang lain dan akhirnya dengan bekerja keras orang Papua menjadi tuan di atas tanah sendiri. Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus masih bekerja hingga hari ini; karen aitu setiap orang Papua diajak untuk gabung jurus dengan Allah Tritunggal dan membangun Papua menjadi Kerajaan Allah.
Kepustakaan
Esler, Jon, An Introduction Karl Marx. Terjemahan Sudarmaji, PT. Prestasi Pustakarya, 2000, Jakarta.
Ohotimur, Johanis, Metafisika sebagai Hermeneutika: Cara Baru Memahami Filsafat Spekulatif Thomas Aquinas dan Alfred North Whitehead, 2006, Jakarta.
Raharusun, Johanis H., Makna Kerja Manurut Karl Marx (Sebuah Kajian dari Filsafat Manusia), Jurnal Filsafat dan Teologi, 2021, Flores: Seminari Tinggi Pineleng.
Kitab Suci Deuterokanonika
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika