JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Melalui Markas Pusat, Komnas Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat [TPNPB] mengakui bertanggungjawab atas serangan yang dilakukan di PT. Freeport Indonesia dan menewaskan 2 orang Tentara Nasional Indonesia dan satu orang mengalami Luka-luka.
Hal ini disampaikan langsung dari manajemen Markas pusat TPNPB melalui Juru bicara Sebby Sambom kepada jelatanewspapua.com pada kami [12/02].
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat [TPNPB] mengaku, tidak hanya menewaskan 3 orang TNI, mereka juga berhasil merampas sejanta api milik TNI yang bekerja membantu PT. Freeport Indonesia.
“Rampas 2 buah Senjata SS2, 2 buah magazin dan 50 butir amunisi, kini menjadi aset TPNPB,” Kata Sebby dalam keterangan tertulis yang diterima hari ini.
Lanjut Sambom, 3 orang TNI yang tewas di area PT. Freeport Indonesia, murni dilakukan oleh pihaknya dan siap bertanggung jawab.
“penyerangan yang terjadi di Tembagapura yang mengakibatkan Sertu Arifin tewas, Sertu Hendrikus dan Pratu Hardiansyah luka-luka dilakukan oleh pasukan TPNPB dari Timika dan TPNPB Kodap VIII Intan Jaya sehingga kami bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut,” Ungkapnya.
Sementara itu, ia juga berharap supaya PT. Freeport yang sedang operasi di Tanah Papua segera ditutup dan mengancam akan terus lancarkan serangannya di area itu.
“Kami juga mengimbau kepada Presiden Prabowo Subianto dan Amerika Serikat untuk segera menutup PT. Freeport Indonesia diatas tanah leluhur kami, Tanah Papua. Jika tidak maka TPNPB akan tetap melakukan penyerangan dan penembakan diareal PT. Freeport Indonesia hingga Amerika, Indonesia dan Belanda dapat menyelesaikan akar persoalan konflik diatas Tanah Papua selama 63 tahun lebih dan kami juga menegaskan bahwa pengelolaan PT.Frreport Indonesia sejak tahun 1967 antara Amerika dan Indonesia hanyalah sepihak sebelum Pepera 1969 dilakukan,” Ungkapnya.
Lebih lanjut, TPNPB mengatakan, Kehadiran PT. Freeport Indonesia di Papua merupakan kepentingan dan sumber daya alam [SDM].
“Dan ini adalah bukti kerja sama antara Amerika dan Indonesia sebelum penyerahan administrasi Papua ditangan Belanda kepada Indonesia atas tekanan Amerika Serikat demi kepentingan emas dan sumber daya alam Papua yang mengakibatkan banyak korban jiwa dari warga sipil dan rusaknya ekosistem alam yang berdampak pada Manusia,” Katanya.
Sementara itu, TPNPB juga menyampaikan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali tinjau sejarah Papua Merdeka.
“Terkait dengan hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengimbau kepada Presiden Donald Trump untuk meninjau kembali sejarah Papua dan konflik yang berkepanjangan yang sedang terjadi di atas Tanah Papua antara TPNPB dengan aparat militer Indonesia yang mengakibatkan terjadinya banyak korban jiwa antara warga sipil dan kedua belah pihak. Serta PT. Freeport Indonesia yang berada diatas Tanah Papua menjadi akar utama konflik bersenjata yang sedang terjadi sehingga hal ini perlu diselesaikan oleh Amerika Serikat, Indonesia dan Belanda serta orang Papua,” Imbuhnya.
TPNPB menerangkan bahwa, Indonesia tidak membuka ruang Dialog yang dimediasi oleh Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jatuh korban antara Pihak TPNPB dan TNI Polri akan terus terjadi.
“Dan juga penyerangan terhadap aparat militer Indonesia di wilayah PT. Freeport Indonesia akan terus terjadi jika pemerintah Indonesia, Amerika dan Belanda tidak dapat menyelesaikan akar persoalan konflik dan pertempuran akan terus meningkat di seluruh wilayah Papua jika negara Indonesia tidak membuka diri dalam penyelesaian masalah Politik antara negara kolonial Indonesia dengan orang Papua,” Tutup keterangan tertulis dari TPNPB.[*]