BALI, JELATANEWSPAPUA.COM- Sejarah baru lahir dari tanah Papua. Yosep Mote, putra asli Suku Mee, berhasil menorehkan prestasi gemilang sebagai dokter spesialis bedah saraf pertama dari sukunya. Gelar itu ia raih dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, dengan predikat pujian atau cum laude dan IPK 3,85.
Wisuda pada Sabtu (23/08) menjadi momen penuh haru bagi Yosep. Dengan toga hitam dan map biru berlogo Universitas Udayana di genggaman, ia melangkah keluar dari aula utama kampus. Senyumnya merekah ketika disambut sorak bahagia keluarga, sahabat, dan rekan sejawat yang datang dari Papua.
“Hari ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi tonggak sejarah untuk Papua,” ujarnya lirih, menahan rasa haru di tengah pelukan keluarga.
Perjalanan Yosep menuju panggung itu bukanlah cerita mudah. Pria kelahiran Nabire, 21 Januari 1987 ini, menempuh pendidikan menengah di SMA Adhi Luhur antara 2001 hingga 2004. Selanjutnya, ia melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Jayapura, pada 2004–2008.
Selama menimba ilmu di Uncen, Yosep tinggal di Asrama Taboria, Abepura. Asrama itu menjadi saksi perjuangan awalnya dalam dunia medis, di mana ia belajar bertahan dengan segala keterbatasan.
Setelah meraih gelar dokter umum, Yosep mengabdikan dirinya di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika, Karitas Timika, sejak 2012 hingga 2020. Dari ruang perawatan di Timika, jalan panjang menuju spesialisasi bedah saraf perlahan terbuka.
“Awalnya saya hanya ingin menjadi dokter umum. Tapi panggilan hati membawa saya ke bidang bedah saraf, meskipun jalannya berat,” kenangnya.
Universitas Udayana kemudian menjadi pilihannya. Kampus itu dikenal memiliki salah satu pusat pendidikan bedah saraf terbaik di Indonesia. Namun, keputusan itu berarti ia harus meninggalkan tanah kelahiran dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Saya pernah merasa kecil hati, tapi doa ibu dan dukungan keluarga membuat saya bertahan,” tuturnya.
Bedah saraf bukanlah bidang mudah. Menurut Yosep, disiplin ini menuntut presisi tinggi, ketelitian, dan ketahanan mental luar biasa. KKN yang dijalaninya di salah satu Rumah Sakit di Jepang mempertebal keyakinannya untuk terus berjuang menekuni spesialisasi ini.
Tanggal 18 Juni 2025 tercatat sebagai hari bersejarah. Ia dinyatakan lulus dengan IPK 3,84 dan predikat cum laude setelah menyelesaikan 10 semester pendidikan.
Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Yosep diterima bekerja di RSUP Kementerian Kesehatan Jayapura sebagai spesialis bedah saraf. Kehadirannya menghadirkan harapan baru, sebab selama ini pasien dari Papua kerap harus dirujuk ke Makassar atau Jakarta untuk layanan medis saraf.
“Pengabdian ini adalah langkah nyata setelah sekian tahun menempuh pendidikan. Dari ruang kuliah, kini saya turun langsung ke ruang operasi untuk melayani masyarakat sendiri,” katanya.
Namun, pengabdian itu hanya permulaan. Yosep sudah di siapkan oleh pihak kampus untuk rencana berikutnya: melanjutkan studi lanjutan di China selama satu tahun. Fokusnya adalah memperdalam penanganan pasien stroke, penyakit yang banyak diderita masyarakat Papua.
“Ilmu tambahan ini penting. Saya ingin kembali dengan bekal pengalaman baru untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di tanah kelahiran,” ucapnya.
“Ia membuktikan bahwa mimpi bisa diraih. Keterbatasan justru menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi,” ujar seorang rekannya lewat pesan singkat.
Sahabat dekatnya, Saverius Adii, turut hadir dalam wisuda. Ia menyebut pencapaian Yosep sebagai kebanggaan besar bagi masyarakat Suku Mee.
“Dengan keterbatasan biaya, ia mampu menyelesaikan studi langka ini. Semua berkat semangat juang, keberanian, dan disiplin. Kami sangat bangga,” ungkap Saverius.
Ia juga menekankan perlunya dukungan lebih kuat dari pemerintah, terutama dalam pembiayaan studi kedokteran spesialis.
“Otonomi khusus jangan hanya slogan, tapi benar-benar berpihak pada pendidikan kesehatan yang sangat dibutuhkan Papua,” tegasnya.
“Harapan kedepan bahwa, pemerintah ambil bağıan dalam pembiyayaan Study langka yang ada, apa lagi specialist bedah syaraf ini, spesialist sangat langka yang tidak semua dokter bisa menyelesailannya” ujarnya
“Fungsi keberpihakan otsus semakin meredup di bidang kesehatan, maka seperti ini harus jadi prioritas.” tegasnya
Kini, Yosep bersiap menunaikan pengabdian di rumah sakit rujukan utama di Jayapura. Harapan banyak keluarga Papua yang dulu harus menempuh ribuan kilometer perjalanan kini hadir lebih dekat.
“Dari Mee untuk Papua, dari Papua untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia,” kata Yosep singkat, namun penuh makna.
Kisah Yosep adalah bukti nyata bahwa doa, kerja keras, dan ketekunan mampu menembus batas apa pun. Dari terang petromaks di kampung sederhana, ia kini menyalakan cahaya di ruang operasi modern. Perjalanan ilmunya bukan sekadar mengangkat harkat diri, tetapi juga harga diri bangsanya.