Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Nabi Amos adalah pejuang keadilan sosial pada zaman Uzia, raja Yehuda dan zaman Yerobeam anak Yoas. “Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hati kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.” (Am 5:11-12). Ia melontarkan kritik-kritik pedas yang membuat penguasa tidak tenang, bahkan rasa terusik, karena itu sampai mengursirnya pula (Am 7:12-13).
Nabi Amos Pejuang Keadilan Sosial
Amos memberikan kritik-kritik sosial yang padas kepada penguasa-penguasa saat itu yang menindas rakyat kecil, mengutuk orang-orang yang menciptakan “rasa tenteram yang palsu” (bdk., Am 6:1-14). Dia melawan orang-orang yang memperkosa keadilan, (lih., 5:7). Karena kritikan-kritikan tajam yang ditujukan kepada penguasa, dia pun pernah diusir, (lih., 7:10-14). Diusir karena Amos sampaikan, “Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pargi dari tanahnya sebagai orang buangan”, (Am 7:11). Kata-kata Amos dipandangnya sebagai ancaman dan sekaligus mengusik kenyamanan kaum penguasa.
Nabi Amos adalah seorang peternak domba dari Tekoa, yang dipanggil oleh TUHAN untuk memperingatkan perbuatan-perbuata penguasa Israel yang tidak manusiawi kepada rakyatnya. Saat itu zaman Uzia, Raja Yehuda dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, Raja Israel, (lih., Am 1:1). Ketidakadilan yang dilakukan terhadap rakyat kecil dan miskin diperingatkan oleh TUHAN agar bertobat. Aneka perbuatan jahat dilakukan oleh penguasa, Tuhan mengambil keputusan untuk menguhukum umat Israel: melepaskan api, mematahkan palng pintu Damsyik, (Am 1:3-4).
Nabi Amos dikenal sebagai pejuang keadilan sosial bagi orang-orang kecil, miskin dan lemah. Katanya, “Hai kamu yang mengubah keadilan menjadih iouh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkan ke atas permukaan bumi – TUHAN itulah nama-Nya. Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kaut, sehingga kebinasaan daatng atas tempat yang berkubu. Mereka benci kepada yang memberi terguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yagn berkata dengan tulus ikhlas. Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bawa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hati kamu yang menjadika orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.” (Am 5:7-12).
Nabi Amos sebagai perpanjangan atau penyambung lidah Allah, ia melanjutkan apa yang hendak disampaikan Allah kepada-Nya Israel. Katanya, “Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tenang kamu, haik orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir.” (3:1). Firman TUHAN yang dilanjutkan oleh nabi Amos berbunyi: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (Am 3:2). Nabi Amos, memperingatkan kepada umat Israel bahwa mereka sedang ada dalam bahaya malapetaka, bahkan hukuman dari TUHAN Allah karena telah mengambil keputusan untuk menghukum, jika tidak bertobat atau berubah dengan tindakan merampas hak-hak orang miskin. Tuhan memperingatkan bahwa Israel akan diruntuhkan, “Aku akan menghancurkan rumah-rumah gading, dan habislah rumah-rumah gading.” (Am 3:15). Allah hendak menghukum: menghancurkan atau menghabiskan karena keum penguasa membangun rumah, mememiliki segala kekayaan dengan cara merampas hak-hak orang lemah, tidak adil terhadap mereka yang miskin dan terpinggirkan.
Ratapan Nabi Amos untuk Israel yang Bersalah
“Telah rebah, tidak akan bangkit-bangkit lagi anak dara Israel, terkapar di atas tanahnya, tidak ada yang membangkitkannya.” (Am 5:2). Ratapan ini lahir dari kenyataan bahwa para penguasa Israel telah melahirkan malapetaka bagi hidup mereka: baik mereka sendiri maupun rakyat yang mereka tindas dengan merampas hak-haknya. TUHAN pun tidak peduli dan lepas tangan dengan perbuatan yang tidak manusiawi.
TUHAN tidak ingin berperan dalam melawan musuh-musuh Israel, bahkan mengambil keputusan untuk menghukum dan memusnahkan Israel umat pilihan-Nya karena perbuat mereka sendiri. “Kota yang maju berperang dengan seribu orang, dari padanya akan tersisa seratu orang; dan yang maju perperang dengan seratus orang, dari padanya akan tersisa sepuluh orang.” (Am 5:3). Hal ini menunjukkan bahwa Allah sudah muak dan tidak tertarik dengan perbuatan melanggar kemanusiaan, keadilan dan kebenaran: di mana rakyat kecil dan miskin disepelehkan untuk meraup keuntungan. Sikap-sikap penguasa ini menunjukkan bahwa TUHAN Allah tidak berpartisipasi dalam setiap perjuangan dan peperangan yang dilakukan oleh orang Israel: Karena itu, peperangan yang dilakukan selalu mendatangkan kekalahan dan kebinasaan.
Nabi Amos Menunjukkan “Jalan Hidup”
Jalan hidup yang nabi Amos tunjukkan adalah “dalam TUHAN”, yakni menunjukkan firman-Nya. “Carilah Aku, kamu akan hidup.” (Am 5:4). Sekaligus diminta kepada umat Israel untuk tidak mencari kekuatan dan dukungan dari bangsa lain, atau dari manusia. Hanya TUHANlah tempat perlindungan dan pelindung, karena itu TUHAN berfirman, Jangan menceri Betel dan jangan pergi ke Gilgal, atau menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” (Am 5:6).
Nabi Amos mau menunjukkan bahwa tidak ada termpat perlindungan yang nyama dan tidak ada kekuatan di dunia ini yang akan membebaskan atau menyelamatkan umat Israel, selain dalam Allah sendiri. Cara berada Umat Israel yang meremehkan atau merendahkan martabat orang lain, terlebi orang kecil mendatankan malapetakan dan pemusnahan terbadap bangsa sendiri. Hanya dengan mengutamakan TUHAN, umat Israel akan hidup (Am 5:4). Pesan yang disampaikan nabi Amos ini, khas pengajaran Israel, karena itu terdapat dalam hukum moral Israel, yang hingga kini dikenal dengan Sepuluh Perintah Allah, terutama nomor 1-3 tiga dalam relasi vertikal (Kel 2:7-11), yakni selalu mengutamakan Tuhan dalam seluruh kehidupan, bukan pada hal-hal duniawi, kekuasaan, kehormatan dan jabatan duniawi semata.
Dalam setiap pergumulan dan pilihan nabi Amos meminta untuk selalu memilih yang hidup (menghidupkan) baik jiwa maupun tubuh, dan bukan yang mamatikan atau memusnahkan. Katanya, “ carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian Allah semesta alam, akan menyertai kamu. Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin Tuhan akan mengasihani sisa-sisa keturunanmu (yusuf), (Bdk., Am 5:14-15).
Siapa Nabi Amos Lain di Papua?
Situasi di Papua tidak bisa secara langsung disamakan, apalagi disejajarkan; demikian pula dalam perjuangan pemulihan atau pengobatannya, kalaupun metode yang digunakan dalam memperbaiki kehidupan yang rusak dan tamak oleh nabi Amos di Israel dapat dijadikan sebagai salah satu acuan atau panduan, bukan satu-satunya, sebab walaupun dalam panca sila, sila kelima mengatakan, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, namun yang terjadi adalah kesejahteraan bagi kaum pemimpin dari birokrat Indonesia. Kenyataannya kaya tetap kaya, miskin tetap miskin, karena korupsi, kolusi dan perampasan terjadi di mana-mana membuat akar-akar kehidupan tercabut di Papua.
Di Papua butuh nabi-nabi seperti nabi Amos, yakni Nabi Allah; bukan nabi-nabi palsu, seperti nabi-nabi dewa Baal (1Raj 18:22) yang memberikan kesaksial palsu yang menyesatkan dan memusnahkan. Nabi Palsu sering dengan pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat (Mat 15:19). Nabi Allah seperti sosok nabi Amos sengat dibutuhkan di Papua untuk mencerahkan situasi, membuka bilur-bilur dosa dan kesalahan-kesalahan yang menggunung hingga saat ini: di mana hanya demi politik, ekonomi dan kekuasaan duniawi baik manusia Papua maupun tanah Papua dihancurkan sampai berkeping-keping, bahkan menjadi abu dan demi. Dalam ketamakan, kemunafikan dan tipu daya muslihat, tulang-belulang manusia: baik orang asli Papua maupun orang pendatang (khususnya TNI dan POLRI) berserahkan, tanah Papua diselimuti lumuran darah.
Pertanya siapa nabi Amos lain di Papua, menjadi pertanyaan penting dan urgent saat-saat ini. Setiap manusia dipanggil menjadi nabi Amos lain di Papua, di tempat di mana setiap kita diutus dan berkarya. Allah senantiasa memanggil setiap orang untuk menjadi nabi-Nya, untuk mewartakan Sabda-Nya sesuati konteks, dalam rangkah penyelamatan dan pembebasan bangsa manusia. Allah tidak menghendaki, bahkan membenci sikap-sikap pemerasan dan pembodohan, apalagi terhadap orang lemah, miskin dan tidak berpendidikan. Setiap orang dipanggil menjadi nabi Allah, yakni diundang untuk membawa Sabda Allah yang bersifat utopis, namun juga profetis: yakni Sabda yang menunjukkan jalan-jalan keselamatan kekal kelak, namun juga menjamin kehidupan bebas kini dan di sini, hoc et nunc.
Di Papua dari Sorong hingga Merauke diterpa bencana kemanusiaan, kekacaun dan ketidakadilan. Rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa diperalat untuk merusak hutan Papua dengan dalil Program Strategis Nasional (PSN), atau juga dengan alasan pembangunan tanah Papua dirampas sehingga rakyat asli setempat digusur; petinggi-petinggi Negara memperalat orang-orang Papua untuk menanam saham di mana-mana sebagai strategi penguasaan tanah maupun manusia Papua. Strategi pembodohan ini hanya dapat dibaca dan sekaligus diketahui oleh orang-orang yang terbuka dan sekaligus membuka diri pada panggilan dan karya Allah dengan menjadi nabi-Nya seperti nabi Amos. Sabda Allah yang dilanjutkan nabi Amos, “carilah Aku, maka kamu akan hidup” (Am 5:4), sangat relevan saat ini, sebab hanya dengan melibatkan Allah, situasi Papua yang penuh kemelut, akan diatasi, bahkan diakhiri.
Penutup
Keadilan sosial bagi segenap manusia harus terwujud dan jika tidak dialami atau sebagian manusia menderita sedangkan yang lain (penguasa) berfoya-foya, saat inilah para nabi-nabi yang menyadari diutus oleh Allah tampil tanpa takut dan ragu menyarakan keadilan dan kebenaran. Berpihak pada nilai kehidupan dan kemanusiaan merupakan tugas paling mulia dari Allah.
Dalam situasi ketidakadilan, pemerasan dan ketamakan penguasa atas rakyat miskin, nabi Amos hadir untuk mengkritik dan sekaligus memperingatkan kaum penguasa untuk bersolider dengan kaum lemah dan miskin. Nabi Amos menyadari panggilan Allah dan mengambil sikap untuk menanggapi panggilan Allah dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai peternak (gembala) domba di Tekoa, Israel. Walaupun nyaman dengan pekerjaan, dia lebih memilih menyelamatkan bangsanya dari perbudakan penguasa yang tamak dan rakus dengan harta kekayaan, di mana mereka mengutamakan kemewahan, harta benda dan kekuasaan, sambil menginjak-injak dan sekaligus mengorbankan rakyat kecil. Kesadaran dan keterbukaan juga kerelaan seperti nabi Amos, mesti dibangun dan dimimiliki oleh orang Papua untuk sampai pada satu kesadaran penuh bahwa partisipasi Allah dalam membaharui Papua adalah nyata, sehingga orang Papua sampai pada kekaguman dan keheranan sambil memuji kemahakuasaan dan keagungan-Nya yang tak terkalahkan oleh kekuatan dan kekuasaan dunia.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika