Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Susun Perubahan RAP Otsus 2026, Bappeda-BPKAD Dogiyai Hadapi Kendala Sistem dan Pemahaman Teknis  

    Kabupaten Dogiyai Raih Opini WTP Pertama Dalam Sejarah Sejak Berdiri Pada 2008

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

    Pelepasan 23 Siswa SD YPPK Mauwa, Pesan Kepala Distrik Kamu: Pendidikan Menentukan Masa Depan Dogiyai

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Mahasiswa Paniai Se-indonesia Jakarta Gelar Pernyataan Sikap Tolak Dob, Militerisme, dan Investasi Tambang

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah: Lembaga Harus Berpihak kepada Rakyat Kecil

    Koalisi HAM Papua Kecam Pembatasan Bantuan Hukum bagi Warga Adat Malind di Merauke

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua Desak Pemulangan dan Pemulihan Hak Mama Yasinta Moiwend

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

    LBH Papua Desak Komnas HAM Tetapkan Dogiyai Berdarah Sebagai Dugaan Pelanggaran HAM Berat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

  • Kesehatan

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

  • Lingkungan

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    HP-SP Paniai Gelar Diskusi Panel Kenakalan Remaja, Despia Yeimo Ajak Pelajar Bangun Masa Depan

    HP-SP Paniai Bentuk Panitia Musyawarah dan Seminar, Dorong Penguatan Literasi Generasi Muda

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

  • Pendidikan

    TK PAUD St. Fransiskus Asisi Epouto Tamatkan 41 Siswa Angkatan XIII Tahun 2026

    Mahasiswa PPL STAK Nabire Sampaikan Terima Kasih kepada TK Negeri Waikato Paapaa Usai Menyelesaikan Praktik Lapangan

    TK YPPK St. Aquinas Enarotali Lepas 28 Siswa dalam Acara Penamatan Tahun Ajaran 2025/2026

    TK Negeri Bomaiye Pito Wisudakan 19 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Komitmen Sekolah

    Wisuda TK YPPGY Eklesia Enarotali, 23 Siswa Resmi Dilepas ke Jenjang Pendidikan Dasar, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Galilea Enaimo Lepas 30 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Dedikasi Guru dan Orang Tua

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

    Pelepasan 23 Siswa SD YPPK Mauwa, Pesan Kepala Distrik Kamu: Pendidikan Menentukan Masa Depan Dogiyai

  • Religi

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Menghidupkan Spiritualitas Perjuangan Nabi Amos di Papua

by Redaksi
9 September 2025
in Artikel Opini
0
SHARES
118
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil

Pengantar

Nabi Amos adalah pejuang keadilan sosial pada zaman Uzia, raja Yehuda dan zaman Yerobeam anak Yoas. “Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hati kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.” (Am 5:11-12). Ia melontarkan kritik-kritik pedas yang membuat penguasa tidak tenang, bahkan rasa terusik, karena itu sampai mengursirnya pula (Am 7:12-13).

Nabi Amos Pejuang Keadilan Sosial

Amos memberikan kritik-kritik sosial yang padas kepada penguasa-penguasa saat itu yang menindas rakyat kecil, mengutuk orang-orang yang menciptakan “rasa tenteram yang palsu” (bdk., Am 6:1-14). Dia melawan orang-orang yang memperkosa keadilan, (lih., 5:7). Karena kritikan-kritikan tajam yang ditujukan kepada penguasa, dia pun pernah diusir, (lih., 7:10-14).  Diusir karena Amos sampaikan, “Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pargi dari tanahnya sebagai orang buangan”, (Am 7:11). Kata-kata Amos dipandangnya sebagai ancaman dan sekaligus mengusik kenyamanan kaum penguasa.

Nabi Amos adalah seorang peternak domba dari Tekoa, yang dipanggil oleh TUHAN untuk memperingatkan perbuatan-perbuata penguasa Israel yang tidak manusiawi kepada rakyatnya. Saat itu zaman Uzia, Raja Yehuda dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, Raja Israel, (lih., Am 1:1). Ketidakadilan yang dilakukan terhadap rakyat kecil dan miskin diperingatkan oleh TUHAN agar bertobat. Aneka perbuatan jahat dilakukan oleh penguasa, Tuhan mengambil keputusan untuk menguhukum umat Israel: melepaskan api, mematahkan palng pintu Damsyik, (Am 1:3-4).

Nabi Amos dikenal sebagai pejuang keadilan sosial bagi orang-orang kecil, miskin dan lemah. Katanya, “Hai kamu yang mengubah keadilan menjadih iouh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkan ke atas permukaan bumi – TUHAN itulah nama-Nya. Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kaut, sehingga kebinasaan daatng atas tempat yang berkubu. Mereka benci kepada yang memberi terguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yagn berkata dengan tulus ikhlas. Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bawa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hati kamu yang menjadika orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.” (Am 5:7-12).

Nabi Amos sebagai perpanjangan atau penyambung lidah Allah, ia melanjutkan apa yang hendak disampaikan Allah kepada-Nya Israel. Katanya, “Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tenang kamu, haik orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir.” (3:1). Firman TUHAN yang dilanjutkan oleh nabi Amos berbunyi: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (Am 3:2).  Nabi Amos, memperingatkan kepada umat Israel bahwa mereka sedang ada dalam bahaya malapetaka, bahkan hukuman dari TUHAN Allah karena telah mengambil keputusan untuk menghukum, jika tidak bertobat atau berubah dengan tindakan merampas hak-hak orang miskin. Tuhan memperingatkan bahwa Israel akan diruntuhkan, “Aku akan menghancurkan rumah-rumah gading, dan habislah rumah-rumah gading.” (Am 3:15). Allah hendak menghukum: menghancurkan atau menghabiskan karena keum penguasa membangun rumah, mememiliki segala kekayaan dengan cara merampas hak-hak orang lemah, tidak adil terhadap mereka yang miskin dan terpinggirkan.

Ratapan Nabi Amos untuk Israel yang Bersalah

“Telah rebah, tidak akan bangkit-bangkit lagi anak dara Israel, terkapar di atas tanahnya, tidak ada yang membangkitkannya.” (Am 5:2). Ratapan ini lahir dari kenyataan bahwa para penguasa Israel telah melahirkan malapetaka bagi hidup mereka: baik mereka sendiri maupun rakyat yang mereka tindas dengan merampas hak-haknya. TUHAN pun tidak peduli dan lepas tangan dengan perbuatan yang tidak manusiawi.

TUHAN tidak ingin berperan dalam melawan musuh-musuh Israel, bahkan mengambil keputusan untuk menghukum dan memusnahkan Israel umat pilihan-Nya karena perbuat mereka sendiri. “Kota yang maju berperang dengan seribu orang, dari padanya akan tersisa seratu orang; dan yang maju perperang dengan seratus orang, dari padanya akan tersisa sepuluh orang.” (Am 5:3). Hal ini menunjukkan bahwa Allah sudah muak dan tidak tertarik dengan perbuatan melanggar kemanusiaan, keadilan dan kebenaran: di mana rakyat kecil dan miskin disepelehkan untuk meraup keuntungan. Sikap-sikap penguasa ini menunjukkan bahwa TUHAN Allah tidak berpartisipasi dalam setiap perjuangan dan peperangan yang dilakukan oleh orang Israel: Karena itu, peperangan yang dilakukan selalu mendatangkan kekalahan dan kebinasaan.

Nabi Amos Menunjukkan “Jalan Hidup”

Jalan hidup yang nabi Amos tunjukkan adalah “dalam TUHAN”, yakni menunjukkan firman-Nya. “Carilah Aku, kamu akan hidup.” (Am 5:4). Sekaligus diminta kepada umat Israel untuk tidak mencari kekuatan dan dukungan dari bangsa lain, atau dari manusia. Hanya TUHANlah tempat perlindungan dan pelindung, karena itu TUHAN berfirman, Jangan menceri Betel dan jangan pergi ke Gilgal, atau menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” (Am 5:6).

Nabi Amos mau menunjukkan bahwa tidak ada termpat perlindungan yang nyama dan tidak ada kekuatan di dunia ini yang akan membebaskan atau menyelamatkan umat Israel, selain dalam Allah sendiri. Cara berada Umat Israel yang meremehkan atau merendahkan martabat orang lain, terlebi orang kecil mendatankan malapetakan dan pemusnahan terbadap bangsa sendiri. Hanya dengan mengutamakan TUHAN, umat Israel akan hidup (Am 5:4). Pesan yang disampaikan nabi Amos ini, khas pengajaran Israel, karena itu terdapat dalam hukum moral Israel, yang hingga kini dikenal dengan Sepuluh Perintah Allah, terutama nomor 1-3 tiga dalam relasi vertikal (Kel 2:7-11), yakni selalu mengutamakan Tuhan dalam seluruh kehidupan, bukan pada hal-hal duniawi, kekuasaan, kehormatan dan jabatan duniawi semata.

Dalam setiap pergumulan dan pilihan nabi Amos meminta untuk selalu memilih yang hidup (menghidupkan) baik jiwa maupun tubuh, dan bukan yang mamatikan atau memusnahkan. Katanya, “ carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian Allah semesta alam, akan menyertai kamu. Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin Tuhan akan mengasihani sisa-sisa keturunanmu (yusuf), (Bdk., Am 5:14-15).

Baca Juga:

No Content Available

Siapa Nabi Amos Lain di Papua?

Situasi di Papua tidak bisa secara langsung disamakan, apalagi disejajarkan; demikian pula dalam perjuangan pemulihan atau pengobatannya, kalaupun metode yang digunakan dalam memperbaiki kehidupan yang rusak dan tamak oleh nabi Amos di Israel dapat dijadikan sebagai salah satu acuan atau panduan, bukan satu-satunya, sebab walaupun dalam panca sila, sila kelima mengatakan, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, namun yang terjadi adalah kesejahteraan bagi kaum pemimpin dari birokrat Indonesia. Kenyataannya kaya tetap kaya, miskin tetap miskin, karena korupsi, kolusi dan perampasan terjadi di mana-mana membuat akar-akar kehidupan tercabut di Papua.

Di Papua butuh nabi-nabi seperti nabi Amos, yakni Nabi Allah; bukan nabi-nabi palsu, seperti nabi-nabi dewa Baal (1Raj 18:22) yang memberikan kesaksial palsu yang menyesatkan dan memusnahkan. Nabi Palsu sering dengan pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat (Mat 15:19). Nabi Allah seperti sosok nabi Amos sengat dibutuhkan di Papua untuk mencerahkan situasi, membuka bilur-bilur dosa dan kesalahan-kesalahan yang menggunung hingga saat ini: di mana hanya demi politik, ekonomi dan kekuasaan duniawi baik manusia Papua maupun tanah Papua dihancurkan sampai berkeping-keping, bahkan menjadi abu dan demi. Dalam ketamakan, kemunafikan dan tipu daya muslihat, tulang-belulang manusia: baik orang asli Papua maupun orang pendatang (khususnya TNI dan POLRI) berserahkan, tanah Papua diselimuti lumuran darah.

Pertanya siapa nabi Amos lain di Papua, menjadi pertanyaan penting dan urgent saat-saat ini. Setiap manusia dipanggil menjadi nabi Amos lain di Papua, di tempat di mana setiap kita diutus dan berkarya. Allah senantiasa memanggil setiap orang untuk menjadi nabi-Nya, untuk mewartakan Sabda-Nya sesuati konteks, dalam rangkah penyelamatan dan pembebasan bangsa manusia. Allah tidak menghendaki, bahkan membenci sikap-sikap pemerasan dan pembodohan, apalagi terhadap orang lemah, miskin dan tidak berpendidikan. Setiap orang dipanggil menjadi nabi Allah, yakni diundang  untuk membawa Sabda Allah yang bersifat utopis, namun juga profetis: yakni Sabda yang menunjukkan jalan-jalan keselamatan kekal kelak, namun juga menjamin kehidupan bebas kini dan di sini, hoc et nunc.

Di Papua dari Sorong hingga Merauke diterpa bencana kemanusiaan, kekacaun dan ketidakadilan. Rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa diperalat untuk merusak hutan Papua dengan dalil Program Strategis Nasional (PSN), atau juga dengan alasan pembangunan tanah Papua dirampas sehingga rakyat asli setempat digusur; petinggi-petinggi Negara memperalat orang-orang Papua untuk menanam saham di mana-mana sebagai strategi penguasaan tanah maupun manusia Papua. Strategi pembodohan ini hanya dapat dibaca  dan sekaligus diketahui oleh orang-orang yang terbuka dan sekaligus membuka diri  pada panggilan dan karya Allah dengan menjadi nabi-Nya seperti nabi Amos. Sabda Allah yang dilanjutkan nabi Amos, “carilah Aku, maka kamu akan hidup” (Am 5:4), sangat relevan saat ini, sebab hanya dengan melibatkan Allah, situasi Papua yang penuh kemelut, akan diatasi, bahkan diakhiri.

Penutup

Keadilan sosial bagi segenap manusia harus terwujud dan jika tidak dialami atau sebagian manusia menderita sedangkan yang lain (penguasa) berfoya-foya, saat inilah para nabi-nabi yang menyadari diutus oleh Allah tampil tanpa takut dan ragu menyarakan keadilan dan kebenaran. Berpihak pada nilai kehidupan dan kemanusiaan merupakan tugas paling mulia dari Allah.

Dalam situasi ketidakadilan, pemerasan dan ketamakan penguasa atas rakyat miskin, nabi Amos hadir untuk mengkritik dan sekaligus memperingatkan kaum penguasa untuk bersolider dengan kaum lemah dan miskin. Nabi Amos menyadari panggilan Allah dan mengambil sikap untuk menanggapi panggilan Allah dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai peternak (gembala) domba di Tekoa, Israel. Walaupun nyaman dengan pekerjaan, dia lebih memilih menyelamatkan bangsanya dari perbudakan penguasa yang tamak dan rakus dengan harta kekayaan, di mana mereka mengutamakan kemewahan, harta benda dan kekuasaan, sambil menginjak-injak dan sekaligus mengorbankan rakyat kecil. Kesadaran dan keterbukaan juga kerelaan seperti nabi Amos, mesti dibangun dan dimimiliki oleh orang Papua untuk sampai pada satu kesadaran penuh bahwa partisipasi Allah dalam membaharui Papua adalah nyata, sehingga orang Papua sampai pada kekaguman dan keheranan sambil memuji kemahakuasaan dan keagungan-Nya yang tak terkalahkan oleh kekuatan dan kekuasaan dunia.

Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika

 

Post Views: 1,303
Tags: Menghidupkan Spiritualitas Perjuangan Nabi Amos di Papua
Previous Post

Puluhan Mahasiswa di Makassar Tuntut Pembebasan 4 Tahanan Politik Papua

Next Post

Solidaritas Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Dogiyai Serahkan Aspirasi Tolak DOB Mapia Raya kepada DPR Papua Tengah

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

2 minggu ago
Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

3 minggu ago
Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

3 minggu ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

2 bulan ago
Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

3 bulan ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

3 bulan ago
Next Post

Solidaritas Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Dogiyai Serahkan Aspirasi Tolak DOB Mapia Raya kepada DPR Papua Tengah

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved