DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai [IPMADO] Kota Studi Nabire menyatakan sikap keras terkait tewasnya lima warga sipil di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Mereka menilai peristiwa tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia [HAM] yang nyata.
Hal itu disampaikan IPMADO melalui keterangan tertulis yang diterima media ini, Senin [13/04].
Dalam pernyataan sikap tersebut, organisasi ini menuding Kepala Kepolisian Daerah [Kapolda] Papua Tengah bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Kami menilai hilangnya lima nyawa warga sipil di Dogiyai adalah murni pelanggaran HAM. Kami meminta Kapolda Papua Tengah untuk berhenti membolak-balikkan fakta dengan narasi yang tidak dapat diterima,” tegas pernyataan tersebut.
Mahasiswa juga menyoroti kasus kematian Marten Yobe yang disebut mengalami luka parah hingga tali pusarnya keluar. Mereka menegaskan bahwa korban merupakan sasaran tembak langsung dari oknum gabungan TNI dan Polri pada 31 Maret 2026 di wilayah Ekemanida.
Tolak Pendekatan Sembako, Minta Keadilan Sejati
IPMADO menilai bahwa upaya yang dilakukan selama ini hanya berupa upaya penutupan kasus. Mereka menolak keras pendekatan yang dianggap tidak menyelesaikan masalah akar.
“Rakyat Dogiyai butuh keadilan, bukan barang sembako atau bantuan lain yang Anda bagikan hanya untuk menutupi kematian lima warga yang ditembak. Berhentilah melindungi pelaku kejahatan kemanusiaan,” seru mereka.
Jika pihak berwenang tidak mau bertanggung jawab dan mengungkap siapa pelaku serta dalang di balik kekerasan tersebut, maka IPMADO menilai Polda Papua Tengah sedang melindungi penjahat dan menjadi aktor utama pelanggaran HAM tersebut.
Ultimatum, Siap Mobilisasi Massa
IPMADO menghimbau Polda Papua Tengah, DPR Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Provinsi, DPRD Kabupaten, serta Pemerintah Daerah Dogiyai untuk segera bertindak tegas.
“Segera ungkap pelaku dan dalang di balik semua ini. Jika tidak, kami pelajar mahasiswa dan rakyat Dogiyai se-Indonesia akan memobilisasi massa dan mendatangi Mapolres Dogiyai,” tutup pernyataan tersebut.[*]