NABIRE , JELATANEWSPAPUA.COM – Menjelang Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret, Kristina O Waine, Bendahara Pemuda Katolik Papua Tengah, mengajak perempuan Papua umumnya dan Papua Tengah khususnya untuk menguatkan peran serta meredefinisi martabat diri.
Menurutnya, nilai perempuan tidak ditentukan oleh penampilan, status sosial-ekonomi, atau status perkawinan, melainkan oleh kesadaran akan makna ciptaan Pencipta dan penerimaan diri melalui keunikannya, sebagaimana dinyatakan dalam Titus 2:3-7. Hal itu disampaikannya kepada wartawan melalui WhatsApp.
“Perempuan Papua mesti bisa artikan martabat melalui harmoni, serta melalui kepercayaan masing-masing. Mari kita redefinisi martabat melalui harmoni antara ajaran iman yang merupakan akar, penjagaan tradisi adat, dan kemandirian ekonomi sebagai fondasi peradaban Papua dan Papua Tengah,” tulisnya.
Waine mengungkapkan kekhawatirannya terkait kondisi sosial yang terjadi sejak tahun 2017-an di Papua, terutama Papua Tengah, seperti meningkatnya angka perceraian muda dan penyebaran HIV/AIDS akibat pergaulan bebas serta pergeseran nilai positif. “Saya tidak membicarakan angka-angka, namun perempuan mesti menyalakan kembali api yang mulai meredup dan bangun kesadaran bahwa perempuan adalah jantung dari peradaban,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa perempuan sering dipandang sempit, sehingga perlu dilihat dari tiga perspektif: Tuhan, Budaya, dan Ekonomi. Dalam ajaran iman, perempuan memiliki posisi spesifik dan mulia, dengan ciri-ciri wanita bijak menurut Alkitab antara lain berhikmat (Ams 8:17; 13:20), meningkatkan keahlian (Ams 1:2, 7), memiliki karakter menyenangkan (Ams 11:30), perkataan membangun (Ams 10:19; 16:13), mengasihi jiwa (Fil 1:4; Yoh 13:34-35), dan menjadi ibu bagi wanita lain (Tit 2:3-4).
Di ranah budaya, perempuan Papua adalah penjaga rahasia budaya dan simbol kehormatan. Misalnya dalam adat suku Mee, perempuan disebut sebagai “Yagamo ko kabo” yang berarti dasar atau fondasi. Leluhur juga mengingatkan dengan kalimat “Yagamo wege tetai, Yagamo wege tipeko kabo wege teete” yang artinya menjaga perempuan dengan baik karena mereka adalah dasar rumah dan hidup.
Dalam aspek ekonomi, perempuan adalah motor penggerak ekonomi mikro yang tangguh, dengan kontribusi nyata di dapur dan pasar tradisional meskipun sering tidak tercatat dalam statistik.
Waine mengajak seluruh perempuan Papua untuk berhenti merasa kecil dan menyadari keunikan yang diberikan Tuhan.
“Saat perempuan Papua menyadari fungsinya secara utuh sebagai pilar iman dan penjaga tradisi, kebangkitan Papua dan Papua Tengah akan dimulai dari dalam diri mereka dengan menyalakan pelita yang redup di rumah-rumah,” pungkasnya.[*]