Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Kehidupan manusia selalu tidak terluput dari belenggu-belenggu. Untuk menemukan jalan keluar paling utama adalah mehamami koteks dan situasi-situasi terbelenggu. Selanjutnya, belenggu-belenggu (salib-salib) dipikul dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, sehingga dapat keluar dari belenggu-belenggu kehidupan. Apa saja situasi membelenggu yang menyalibkan orang Papua? Apakah ada upaya-upaya yang dilakukan orang Papua untuk keluar dari belenggu-belenggu tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini penting dalam upaya memahami belenggu-belenggu yang menyiksa dan sekaligus menemukan solusi-solusi relevan dalam upaya mengeluarkannya. Roh Kudus selalu hadir sebagai kekuaran adikorati untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang disandangnya. Siapa yang telah memiliki Roh kudus?
Belenggu-belenggu di Papua
- Definisi Belenggu
Kata belenggu agak sulit didefinikan, kalaupun mudah sekali menggambarkan ciri-ciri dan keadaan terbelenggu. Kata belenggu mesti didefinisikan walaupun secara sederhana dan tak secara sempurna. Karena itu, kata belenggu secara sederhana berarti borgol, atau ikatan (mengikat sehingga tidak bebas). Borgol merupakan alat untuk mengikat seseorang sehingga terikat dan tidak bebas. Membelenggu artinya mengikat atau menyebabkan orang tidak bebas. Ikatan-ikatan yang melekat pada manusia membuatnya tidak bebas dan tidak mampu menemukan harapan-harapan baru pada hidup yang lebih baik. Belenggu adalah alat pengekang (misalnya borgol atau rantai) yang mengikat tangan atau kaki (simbol ikatan), yakni ikatan yang membatasi kebebasan seseorang, entah itu secara fisik, psikis.
- Belenggu-Belenggu Pada umumnya
Belenggu pada umumnya terbagi menjadi belenggu fisik dan belenggu psikis atau bathin, biasanya belenggu fisik lebih mudah ditemukan daripada belenggu psikis (jiwa atau batin).
Pertama, Belenggu fisik. Seorang manusia yang terbelenggu, terikat atau terbabani hidup ketika mengalami kecacatan pada tubuh atau fisik. Orang yang mengalami kecacatan pada tubuh sering mengalami tantangan yang tidak sedikit dan tidak secara bebas melakukan tugas-tugas, kalau pun ada yang menunjukkan kualitas tertentu melebihi manusia yang normal secara fisik. Misalnya, orang yang mata buta terbelenggu karena tidak dapat melihat, manusia yang lebinganya tertutup terbelenggu karena tidak dapat mendengarkan, dll. Belenggu secara fisik dapat diobati, atau ditangani dan ada juga yang tak dapat diobati (cacat total atau permanen).
Kedua, Belengggu psikis. Belenggu psikis dapat disebuat dengan belenggu batin atau jiwa manusia disebabkan oleh keadaan-keadaan yang menindas atau tidak manusiawi. Secara individu atau kelompok akan terbelenggu ketika hak-haknya diabaikan atau digadaikan. Karena itu, persoalan “terbelenggu atau tidak terbelenggu” berhubungan erat dengan masalah martabat manusia.
Keadaan terbelenggu pada umumnya memiliki akibat yang berat, yakni menjadi tidak berdaya. Rasa tidak berdaya tertampak dalam kenyataan hidup masyarakat pada umumnya. Belenggu-belenggu mengantar masyarakat sulit keluar dan menerima ketidak berdayaan sebagai nasib, bahkan lebih para adalah kutukkan, menerima penuh pasrah dan tidak berniat untuk berjuang dan mengubahnya.
Belenggu-belenggu yang teridap pada seseorang atau sekelompok orang jika tidak dipahami (disadar), diterima sebagai sesuatu yang wajar, hidup dalam penuh ketakutakutan dan kurungan (atau ikatan): yakni terikat dalam pandangan dan pemahaman yang keliru, bahkan salah. Belenggu paling umum yang dialami namun tidak disadar adalah terbelenggu oleh keborohan dan ketidaktahuan. Kebodohan mengantar masyarakat pada ketidaksadaran dan setiap kebijakan maupun tindakan dapat saja bertolak belakang dengan isu-isu strategis dan kekinian: alias tidak kena sasaran atau kontekstual.
Jiwa-jiwa yang terbelenggu dalam ketidakberdayaan, keterbatasan-keterbatasan diri membuat tertekan dan banyak kali mengutamakan hiburan palsu dan sekaligus mengejar harapan-harapan semu dan palsu pula. Biasanya, mereka yang terbelenggu jiwa tidak memiliki keinginan, kerinduan juga harapan untuk berubah, bahkan tidak ingin berubah; bagi mereka isu untuk berubah (keluar dari belenggu) menjadi dilema dan bahkan traumatis. Mereka tergolong kaum pesimis yang selalu melihat masa depan sebagai ancaman: terpaku pada konsep-konsep lama, sekalipun bertolak belakang.
Belenggu-belenggu atau kelemahan-kelemahan dapat dipahami juga dalam tantangan-tantangan, kemelut, beban dan dosa. Semuanya membuat kodrat manusia kehilangan harapan dan masa depan. Ketika masyrakat sadar akan belenggu-belenggu dan sebaliknya menjadikan sebagai kekuatan dan menjemput peluang-peluang perbaikan, pada akhirnya akan mencapai kebebasan sejati baik jiwa maupun raga.
Spiritualitas sisa-sisa Israel (kaum anawim), (Bdk., Rm 9:27; Yes 11:11), “Tetapi pada wakti itu sisa orang ISrael dan orang yang terluput di antara kaum keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar kepada Tuhan, Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tetap setia.” (Yes 10:20) adalah pertama-tama keberhasilan bangki kembali dan berharap kepada karya penyelenggaraan Ilani dalam kemurahan-Nya. Di sana ada nilai daya juga dan sekaligus nilai kebangkitan, bahkan masih ada harapan dan Tuhan tetap ambil kendali untuk mengubah belenggu menjadi kebahagiaan dan kedamaian abadi.
- Belenggu-Belenggu dalam Konteks Papua
Belenggu-belenggu yang menjajah manusia Papua memiliki kompleks dan rumit, bahkan membuatnya kehilangan akal dan harapan. Hampir semua orang Papua mau menyerah dan pasrah pada keadaan-keadaan yang membelenggu, karena keterbatasan, kelemahan dan kesadaran-kesadaran palsu yang tercetak (tercipta) dalam diri orang Papua, bahkan hingga setingkat binatang. Secara real (kontekstual), Papua memiliki modal atau kekuatan untuk mencari solusi-solusi perbaikan dari belenggu-belenggu yang membuat tidak berdaya dan kehilangan harapan atau putus asa.
Orang Papua terbelenggu karena kebiasaan-kebiasaan buruk: dendaman yang tidak tersembuhkan, iri hati yang menjalar dan mengakar, selalu cepat puas dan menyerah dengan kerja (perjuangan), hidup sembarangan (tidak teratur), tidak disiplin, hanya canda tawa, lebih banyak santai dan bermalas-malasan; lebih sadis lagi saling membunuh, mencuri, menyebarkan virus HIV/AIDS, Aborsi, dll. Sikap-sikap melanggar kemanusiaan, kesusilaan, religiositas (iman) yang dipertahankan secara erat dan dihidupi orang Papua hingga kini, mengantar manusia Papua pada kehancuran dan bahkan kepunahan secara lansung maupun tidak langsung.
Berjuang untuk Keluar dari Belenggu Bersama Roh Kudus
Solusi untuk merdeka dari belenggu-belenggu. tidak lain adalah dengan melakukan upaya atau gerakan penyadaran, dan sekaligus pemahaman yang memadai atau semua dan setiap belenggu yang menyandang (memikulnya) dalam ketidaksadaran dan kelemahan manusiawi. Belenggu-belenggu yang dialami bukanlah nasib atau kutukan, namun biasanya karena kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran sendiri yang merusak retaknya hubungan-hubungan harmonis; sering juga karena akibat iri hari dan dendaman kesumat.
Peluang mencapai kebebasan atau kemerdekaan jiwa adalah membangun hubungan harmonis, berdamai dengan diri sendiri (mengenal diri), dengan sesama manusia yang lain, alam, lelhur (ipuwe) dan terlebih dengan Tuhan sendiri. Selalu memohon berkat dan tuntunan Roh Kudus, yakni Roh yang menjadikan kamu (kita) menjadi anak Allah (Rm 8:15), melalui penciptaan (rupa dan gambar Allah), namun terlebih melalui pembaptisan (Mrk 1:8); sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan (Luk 12:12); Dengan Roh itu kita berseru: ÿa Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15); sekaligus mengetahui bahsa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (1Kor 6:19).
Penutup
Belenggu-belenggu yang menjaja tubuh fisik, maupun tubuh psikis harus dipuligkan atau dibebaskan, sehingga dapat mewujudkan kemanusiaan penuh: secara kodrati juga secara adikodrati sebagai rupa dan gambar Allah sendiri yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Meterai iman yang diterima dalam Yesus Kristus sebagai pertanda kemerdekaan sebagai anak Allah.
Melalui Roh Allah belenggu-belenggu di Papua tercerahkan dan dengan kekuatan Roh Allah pula setiap dan semua orang papua berjuang mengeluarkan diri dari belenggu-belenggu yang menindis dan mematikan, melemahkan dan membunuh hingga tak berdaya dan selalu mau pasrah dalam kekelaman kebodohan, kelemahan manusiawi semata dan ketergantungan tanpa kesadaran. Roh Allah memampukan sadar dan bangkit dan bersemangat dalam berharap menantikan hari pembebasan dan tahun rahmat Tuhan (Luk 4:20). Untuk itu setiap dan semua orang Papua perlunya memohon kehadiran Roh Kudus dan sekaligus menyaradi Roh Kudus yang senantiasa hadir di dalam masing-masing pribadi.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika