PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM — Suasana hangat dan penuh semangat tampak di kompleks Gereja Katolik Paroki Kristus Sang Penebus Dauwagu, Dakabo, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika, ketika para Temu pembina Sekami (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) berkumpul mengikuti kegiatan Temu Pembina Sekami yang berlangsung dari 23–25 Oktober 2025.
Kegiatan tahunan ini mengusung tema “Berjalan Bersama dalam Pengharapan”, menjadi ruang perjumpaan dan pembekalan bagi para pendamping iman anak dan remaja Katolik di wilayah pegunungan Papua, agar mereka dapat menanamkan nilai-nilai Kristiani, tanggung jawab sosial, serta kesadaran kesehatan di tengah masyarakat.
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah penyuluhan tentang HIV dan AIDS yang dibawakan oleh tim Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Paniai. KPA hadir memberikan edukasi mengenai penyelidikan, penanggulangan, dan pencegahan HIV/AIDS di kalangan umat, khususnya anak dan remaja.
Kegiatan yang digelar pada Kamis (23/10/2025) itu dihadiri langsung oleh Sekretaris KPA Kabupaten Paniai, Agustinus Muyapa, S.H, bersama jajarannya. Dalam sambutannya, Agustinus menjelaskan bahwa kehadiran KPA dalam kegiatan gerejawi seperti ini merupakan bagian dari kesepakatan bersama (MoU) antara pemerintah daerah melalui KPA dan lembaga-lembaga keagamaan di Kabupaten Paniai, baik Katolik maupun Protestan.
“Kita memiliki tanggung jawab bersama dalam melindungi generasi muda dari ancaman HIV/AIDS. Gereja punya kekuatan besar untuk membentuk kesadaran moral dan perilaku sehat di kalangan umat,” ujar Agustinus Muyapa di hadapan peserta.
Penyuluhan yang Dekat dengan Kehidupan Umat
Materi penyuluhan dibawakan oleh Aban Yosua Yogi, S.Kep., Ners, seorang tenaga kesehatan dan praktisi penanggulangan HIV yang juga dikenal aktif dalam pelayanan sosial di wilayah pegunungan tengah Papua. Dalam sesi berjudul “Penyuluhan HIV dan AIDS: Selamatkan Generasi Anak dan Remaja Misioner dari Penularan HIV/AIDS”, Yogi menyampaikan penjelasan mendalam disertai presentasi visual dan tanya jawab interaktif.
Ia menjelaskan bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, sementara AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala yang timbul akibat kerusakan sistem kekebalan tersebut.
“HIV dan AIDS tidak sama. HIV adalah virus penyebabnya, sedangkan AIDS adalah kondisi ketika sistem imun manusia sudah melemah parah akibat infeksi virus tersebut,” terang Yogi di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Yogi memaparkan tahapan perkembangan infeksi HIV, mulai dari periode jendela masa ketika virus baru masuk dan belum terdeteksi dalam darah hingga tahap akhir yaitu AIDS, yang ditandai dengan gejala berat seperti diare kronis, infeksi jamur berulang, demam berkepanjangan, dan penurunan berat badan drastis.
Baca Juga : KPA Paniai Gelar Penyuluhan HIV/AIDS untuk Cegah Penularan di Kalangan Pelajar SMP YPPGI Enarotali
Menurut data BP3PL (Badan Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyebaran Lingkungan) yang dikutip dalam presentasinya, sejak tahun 1989 hingga 30 Juli 2022 tercatat sekitar 23.535 orang hidup dengan HIV (ODHIV) di wilayah Provinsi Papua Tengah.
Sementara untuk Kabupaten Paniai, per Juli 2022 hingga Oktober 2025 tercatat 2.527 orang positif HIV yang sedang menjalani pengobatan dan pendampingan medis.
“Data ini bukan sekadar angka, tapi peringatan bagi kita semua bahwa virus ini nyata dan masih menjadi ancaman di tengah masyarakat,” tegas Yogi.
HIV Tidak Menular Lewat Sentuhan Sosial
Dalam penjelasannya, Yogi juga menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHIV). Ia menegaskan bahwa penyakit ini tidak menular melalui kontak sosial biasa seperti berjabat tangan, makan bersama, berpelukan, atau berbagi peralatan rumah tangga.
“HIV menular hanya melalui darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI bukan lewat udara atau sentuhan biasa. Jadi, orang dengan HIV tidak boleh dijauhi, mereka harus didukung agar bisa menjalani pengobatan dengan baik,” jelas Yogi.
Baca Juga : KPA Paniai dan Gereja Teken MoU Pencegahan HIV/AIDS
Selain faktor penularan, ia juga menguraikan berbagai faktor risiko yang mempercepat penyebaran HIV di kalangan muda, antara lain perilaku seks bebas, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah tanpa pemeriksaan, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol dan narkoba yang melemahkan kesadaran diri.
Yogi menegaskan bahwa pencegahan dapat dilakukan dengan gaya hidup sehat dan setia kepada pasangan, serta menjauhi aktivitas berisiko. Ia juga mengingatkan peserta agar menghindari seks di luar pernikahan, sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran 20:14 “Jangan berzina.”
Pendidikan Iman dan Kesehatan: Dua Pilar Tak Terpisahkan
Kegiatan penyuluhan yang dikemas ringan dan komunikatif ini disambut antusias oleh para pembina Sekami. Banyak dari mereka mengajukan pertanyaan seputar cara mendeteksi HIV, proses pengobatan dengan terapi antiretroviral (ARV), hingga bagaimana membimbing anak remaja agar memahami risiko sejak dini tanpa rasa takut atau malu.
Baca juga : Kasus HIV/AIDS di Papua Tengah Tembus 23 Ribu, KPA Ingatkan Anak Muda Jaga Diri dan Masa Depan
Dalam penjelasannya, Yogi menyebut bahwa obat antiretroviral (ARV) adalah terapi utama yang saat ini digunakan untuk menekan jumlah virus dalam tubuh, menjaga daya tahan tubuh, serta memperpanjang harapan hidup penderita. Namun, pengobatan tersebut harus dilakukan secara rutin dan seumur hidup.
“Dengan ARV, orang dengan HIV bisa hidup sehat, bekerja, bahkan berkeluarga. Yang penting, minum obat teratur dan tetap menjaga gaya hidup sehat,” ujarnya.
Sesi tanya jawab diakhiri dengan penekanan pentingnya dukungan lintas sektor keluarga, gereja, dan pemerintah dalam upaya pencegahan dan pendampingan bagi penderita HIV. KPA berharap para pembina Sekami dapat menjadi duta kecil pencegahan HIV/AIDS di lingkungan masing-masing, terutama di kalangan anak-anak dan remaja yang mereka bina.
Kolaborasi Gereja dan KPA: Harapan Baru untuk Generasi Muda Paniai
Sekretaris KPA Paniai, Agustinus Muyapa, menegaskan bahwa program penyuluhan seperti ini akan terus digalakkan ke seluruh paroki dan jemaat di wilayah Paniai. Menurutnya, gereja memiliki posisi strategis dalam menyentuh hati umat dan mengubah perilaku sosial melalui pendekatan iman.
“Kami percaya pesan moral dan nilai Kristiani bisa menjadi benteng yang kuat bagi generasi muda. KPA tidak bisa bekerja sendiri, tapi bersama gereja, sekolah, dan masyarakat, kita bisa menekan penyebaran HIV di Papua,” ucap Agustinus.
Sementara itu, panitia penyelenggara Jimmi Kogopa, S.Si dari Paroki Kristus Sang Penebus Dakabo menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim KPA Paniai. Mereka menilai kegiatan ini memberikan wawasan baru sekaligus memperkuat peran gereja dalam mendidik umat secara utuh, baik secara rohani maupun jasmani.
Menanam Harapan, Melindungi Generasi
Melalui kegiatan ini, Gereja dan KPA Paniai menunjukkan bahwa pendidikan iman dan kesehatan masyarakat adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam membangun manusia Papua seutuhnya. Edukasi tentang HIV/AIDS yang dikemas dalam semangat kebersamaan dan pengharapan menjadi langkah nyata dalam menyelamatkan generasi muda dari ancaman penyakit dan kehancuran moral.
“Selamatkan generasi anak dan remaja misioner dari penularan HIV/AIDS periksa, obati, lanjutkan hidup,” pesan penutup Aban Yosua Yogi, S.Kep., Ners, disambut tepuk tangan hangat para peserta.
Dengan semangat itu, Paroki Dauwagu, KPA Paniai, dan seluruh peserta kegiatan Temu Pembina Sekami berkomitmen untuk terus melangkah bersama dalam pengharapan, demi mewujudkan masyarakat yang sehat, beriman, dan peduli terhadap sesama. (*)