Oleh: Benediktus Goo
Sudah pasti, para pakar, praktisi, teknokrat dan birokrat pendidikan Indonesia mengetahui dan mengikuti benar tentang perkembangan pendidikan skala nasional maupun internasional. Kendatipun demikian, masih banyak birokrat, praktisi esekutor pendidikan di daerah yang sedang dibingungkan dengan kebijakan pusat yang trend para khayalak menyebutnya ‘Lain Menteri, Lain Kebijakan’. Hal ini selalu terjadi di Indonesia.
Untuk itulah, tulisan ini, hadirkan di tengah para pembaca budiman sekalian untuk mengetahui apa kebijakan bapak Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed selaku Menteri Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah (Menteri Dikdasmen) di Jakarta. Dalam rangka menterjemahkan visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Prabowo dan Gibran dalam kepemimpinannya menetapkan melalui asta cita kabinet merah putih, terutama asta cita ke empat (4) dalam kabinet Merah Putih yang berbunyi Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Maka, Penjabarannya Menteri Dikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed mengangkat visi pendidikan “Pendidikan Bermutu Untuk Semua” dengan mengambil arah kebijakan dan beberapa program prioritas.
Dalam beberapa kebijakan pendidikan di Indonesia antara lain pertama, Program Wajib Belajar (Wajar) 13 tahun dan Pemerataan Kesempatan Belajar; kedua, Pemenuhan Perbaikan Sarana dan Prasarana pendidikan; ketiga, Sistem Penerimanaan Murid Baru (SPMB) yang berkeadilan, Peningkatan Kualifikasi, Kompetensi dan Kesejahteraan bagi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Keempat, Penguatan karakter: 7 kebiasaan Anak Indonesia hebat dan pagi ceria; kelima, pelatihan karakter: Pelatihan guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan ke-BK-an; keenam, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Ketujuh, Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial Inteligent (AI); kedelapan, Tes kemampuan Akademik (TKA); kesembilan, Pengembangan Talenta dan Prestasi; kesepuluh, Pembangunan Kebahasaan dan Kesastraan; dan terakhir penguatan Pendidikan Literasi Numerasi, Sains dan Teknologi (LITNUM SAINTEK).
Tulisan ini akan mengulas Program Prioritas (Protas) tentang Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang mana bagian pertama akan menjelaskan soal apa sebenarnya Deep Learning. Lalu bahas soal Pembelajaran berkontekstual Papua lalu akan diakhiri dengan catatan catatan yang menjadi penutup.
1.Program Pendekatan Pembelajaran Mendalam [Deep Learning] Dalam Kurikulum
Pembelajaran Mendalam bukan sebuah Kurikulum tetapi salah satu pendekatan dalam kurikulum. Dan juga, pendekatan ini bukanlah sebuah pendekatan baru melainkan pendekatan lama yang selalu digunakan dalam kurikulum sebelumnya juga. Misalnya pada tahun 1970-an ada pendekatan pembelajaran dengan istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
Kemudian dalam Kurikulum 1990-an dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah lakukan pendekatan pembelajaran dengan istilah Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM). Kemudian lanjut lagi dengan pendekatan Pembelajaran dalam kurikulum lain dengan istilah Coxtextual Teaching Learning (CTL). Meskipun demikian semua pendekatan ini memiliki kekurangan dalam kelebihan yang dominan.
Itulah sebabnya, Pembelajaran Mendalam [PM] menjadi satu kebijakan Program Prioritas [Protas] dalam Kurikulum berjalan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan menengah (PERMENDIKDASMEN) Nomor 13 Tahun 2025. Tentang Perubahan atas PERMENDIKDUB Nomor 12 tahun 2024 tentang Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Dalam penerapan pendekatan pembelajaran mendalam di Satuan Pendidikan mestinya memahami dulu definisi dari Pembelajaran Mendalam. Pembelajaran Mendalam merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang memuliakan, mengagungkan, mengutamakan dan memprioritaskan dengan penekanan pada Suasana Belajar dan Proses Pembelajaran yang Berkesadaran, Bermakna dan Mengembirakan. Melalui Olah Hati, Olah Pikir, Olah Rasa dan Olah Raga secara holistik dan terpadu untuk mewujudkan profil lulusan sesuai standar kelulusan dalam kurikulum.
Pemahaman tentang pendekatan Pembelajaran Mendalam, ada empat komponen utama yang harus diketahui bersama adalah pertama, Dimensi Profil Lulusan. Kedua, Prinsip Pembelajaran. Ketiga, Pengalaman Belajar, dan keempat, Kerangka Pembelajaran.
Dimensi Profil Lulusan Pembelajaran Mendalam yaitu (1) Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, (2) Kewargaan, (3) Penalaran Kritis, (4) Kreativitas. (5) Berkolaborasi, (6) Kemandirian, (7) Kesehatan dan (8) Komunikasi. Ke delapan dimensi profil lulusan tersebut di atas merupakan kompetensi utuh yang dapat dimiliki dan dicapai oleh setiap peserta didik.
Sementara Prinsip Pembelajaran Mendalam terdiri atas 3 prinsip antara lain Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful) dan Menggembirakan (Joyful). Prinsip pembelajaran ini akan menggembirakan guru dan peserta didik serta pemangku kepentingan pendidikan lainnya. Berdasarkan Pengalaman Belajar yang menekankan pada Memahami, Mengaplikasi dan Merefleksi.
Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk dapat berpengalaman dalam belajar untuk proses pemahaman. Mengaplikan berbagai konteks pembelajaran dan dapat merefleksikan kembali pembelajarannya. Maka, Kerangka Pembelajaran Mendalam terdiri atas Praktik Pedagogis, Lingkungan Pembelajaran, Kemitraan Pembelajaran dan Pemanfaatan digital.
- Pembelajaran Mendalam Ala Papua
Penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam yang telah ditetapkan dalam Program Prioritas menggapai visi Menteri Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah bahwa Pendidikan Bermutu Untuk Semua. Maka, bagaimana penerapan di Papua yang medan wilayah dan letak geografis sulit dipandang dan ditelusuri. Jaringan Telkomsel yang tidak ada, Jaringan Internet masih belum terakses hingga di pelosok hingga listrik tak menyentuh penerangan di dusun-dusun.
Dengan demikian, di Papua amat sulit menerapkan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka yang serba digital. Bagaimana penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam Kontekstual di Papua? Berikut adalah ulasan penerapan pendekatan pembelajaran kontektual Papua.
Suka atau tidak suka, tak dapat kita dipungkiri, bahwa kita sudah dan sedang ditantang perkembangan zaman menuju era Bonus Demografi, Zaman Industri 4.0. Zaman dimana setiap orang hidup dengan digital. Karena itu, kita ditantang untuk berPENDIDIKAN sekalipun kita dibalik gunung, rawa dan pulau.
Penerapan pendekatan pembelajaran mendalam berkontekstual di Papua, hemat saya ada beberapa hal yang harus dikembangkan yakni:
a. Sekolah Harus Aktif
Meski letak sekolah jauh dari kota dan masuk sebagai daerah yang dikonflikkan, Sekolah harus aktif, jangan pikir digital. Fokus guru arahkan siswa dengan ajar, didik dan melatih. Ciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman dengan menyulap ada tempat bermain di halaman, ada Honai belajar di halaman, ada lapangan olahraga di halaman dan wajibkan beribadah di sekolah setiap bulan.
Karena, pada prinsipnya pendekatan pembelajaran mendalam adalah MEMULIAKAN suasana belajar dan proses pembelajaran yang teduh, tenang dan nyaman. Keaktifan sekolah, kunci ada pada Pendidik dan Tenaga Kependidikan [PTK]. Masalah utama bagi PTK soal kualifikan pendidikan, kompetensi dan kesejahteraan mesti diprioritaskan agar menjadi tulang punggung dan esekutor pendidikan di lapangan.
Guru wajib mengajarkan anak sesuai apa yang ada di lingkungan sekitar kita. Kita tidak bisa berusaha menterjemahkan dan menjelaskan objek yang ada di luar sana. Yang pada akhirnya siswa tidak akan mengerti sedikit pun.
b.Tungku Api di Emaa Owa / Honai
Elemen ekosistem pembelajaran mendalam yang paling utama adalah keluarga. Dan juga lingkungan pembelajarannya seperti Sekolah, Laboratorium, Perpustakaan, Lingkungan Sekolah, Rumah, dll. Tungku Api, sebagai simbol bahwa rumah harus hidup, Honai harus hidup, Emaa Owa harus Hidup [Rumah/Tempat tinggal yang dikhususkan untuk Laki-Laki].
Karena itu, Orang gunung harus punya Owaa atau Honai [Rumah], di bagian pesisir selain rumah harus ada Pondok Pinang. Mengapa Tungku Api di Honai itu harus hidup. Karena disanalah, keluarga akan duduk berkumpul dan bercerita.
Bercerita apa saja. Cerita Dongeng, Cerita Komik, Cerita Pengalaman Hidup, cerita mitos, cerita rakyat, dll. Dalam prinsip Pembelajaran Mendalam lebih tekankan pada pengalaman belajar bukan di buku atau handphone atau komputer.
c. Sekolah Minggu
Ajaklah anak ke Gereja, ikut anak sekolah minggu. Jangan tunggu besok!, tanamkan nilai keimanan sejak dini. Luaran dari orang bersekolah punya spiritual yang tinggi.
Dalam Sekolah Minggu, mereka akan diajar bagaimana bernyanyi yang baik dan benar. Sikap berdoa yang baik, berdoa baik, komunikasi yang baik, dll. Kita harus memastikan spiritual anak harus baik dari usia dini.
Sikap kesopanan harus terbentuk dari anak sekolah minggu. Karakter anak harus baik dari Sekolah Minggu.
d. Kebun dan Beternak
Mengapa harus berkebun dan beternak. Dalam pembelajaran mendalam ada dimensi pembelajaran Mandiri. Kita tidak bisa memanjakkan anak tetapi arahkan mereka hidup bermandiri.
Minimal bisa berkebun sendiri, bisa pelihara ternak tanpa mengharapkan atau hidup menggantungkan ke orang lain.
e. Lapangan Olahraga
Di kampung, wajib ada lapangan olahraga. Agar anak-anak, pemuda dan masyarakat bisa berolahraga. Kampung harus hidupkan dengan berbagai jenis olahraga.
Olahraga juga bagian dari pengalaman belajar, juga menjaga kebugaran tubuh demi kesehatan kita. Karena dalam dimensi profil lulusan Pembelajaran Mendalam ada namanya Kewargaan, Kesehatan dan Olahraga.
Pada akhirnya bagaimana dengan pemanfaatan digital di Papua. Pembelajaran Mendalam tidak harus full online untuk pembelajarannya, pembelajaran offline masih berlaku. Ada banyak aplikasi yang kita ajarkan kepada anak-anak tanpa harus konek internet.
Tugas Guru saat ke Kota bagaimana materi-materi itu didownload sehingga ketika kembali ke sekolah dapat diajarkan secara offline dengan menggunakan digital.
3. Penutup
Pendekatan Pembelajaran Mendalam [Deep Learning], memang diambil untuk menghadapi era digital terutama era bonus demografi, Zaman Revolusi 4.0. Zaman dimana setiap orang berdigital dalam hidup. Meskipun demikian, mengingat Situasi dan kondisi Daerah Papua, Pendekatan Pembelajaran Mendalam harus berkontekstual Papua.
Arahkan anak, minimal karakternya baik dan sopan, punya komunikasi yang baik dengan siapa saja. Bisa pekerja keras atau mandiri dan bernalar kritis yang tinggi. Maka, kami meninggalkan beberapa catatan yang akan menjadi rekomendasi khusus adalah:
Pemda setempat wajib perhatikan kualifikasi, kompetensi dan kesejahteraan bagi guru;
b. Lestarikan bahasa Daerah dan mengajar sebagai muatan lokal di Sekolah;
c. Pemda wajib melengkapi fasilitas digital di Sekolah;
d. Wajib ada Honai Belajar di Sekolah.
Pendidikan menjadi kebutuhan utama, setiap orang wajib bersekolah. Sekolah atau tidak adalah harga diri. Sekolah yang ada di kampung mari kita jaga dan rawat dari pengrusakkan dan pencurian.
Setiap elemen dan stakeholder di kampung bangun kerja sama yang baik. Segera berkolaborasi setiap stakeholder bicarakan soal pentingnya pendidikan. Sekian dan terima kasih.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana pada program studi Teknologi Pendidikan di Universitas PGRI Adi Buana di Surabaya.