Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
“Perempuan dan pendidikan ibarat tanah dan tumbuhan: tubuhan tak dapat tumbuh tanpa tanah yang baik. Sedangkan perempuan dan bangsa seperti pondasi rumah dan rumah yang terbangun kokoh. Rumah tidak dapat terbangun kokoh tanpa pondasi yang kuat. Selanjutnya pendidikan dan bangsa itu bagaikan ukiran, mendapatkan ukuran yang nilai seninya tinggi dibutuhkan seniman yang cerdas, berhikmat dan berwawasan luas. Antara perempuan, pendidikan dan membangun sebuah bangsa yang kokoh tidak dapat dipisahkan dan tidak saling meniadakan.”
Pengatar
Perempuan itu mempunyai kodrat melahirkan anak manusia. Pendidikan itu melahirkan manusia yang berkualitas. Sedangkan bangsa yang bermartabat itu terdiri dari manusia-manusia yang berkualitas yang terlahir dari perempuan dan pendidikan yang berbobot pula. Bangsa dibangun atas manusia yang berkualitas dan bangsa dilahirkan dari manusia-manusia yang dilahirkan dari keluarga-keluarga melalui seorang perempuan. Dasar bangunan sebuah bangsa adalah perempuan yang melahirkan anak yang berbobot. Ketika perempuan hidup kacau, perempuan hancur, bangsa secara tidak langsung hancur. Demi mendirikan bangsa yang berkualitas, perempuan mesti diberikan peluang untuk mendapatkan (mengenyam) pendidikan yang layak. Selanjutnya, ketika perempuan mendapatkan pendidikan yang layak, bukan berarti menjadi alat kesombongan: angkuh dan ego terhadap laki-laki, terlebih terhadap suami. Perempuan harus mendapatkan pendidikan layak supaya bangunan rumah tangga menjadi kuat sehingga dari sana terbangun bangsa mini untuk mempersiapkan bangunan bangsa yang besar dan berwibawa.
Perempuan
Perempuan sering menyebut dirinya dengan kaum feminis dalam aliran feminismenya. Feminisme merupakan gerakan sososial yang bertujuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan sekaligus untuk mendapatkan hak-hak perempuan sebagai manusia yang setara. Perempuan memperjuangkan pengakuan kaum pria (laki-laki) agar hak-haknya sebagai sesama manusia yang setara diakui. Kaum feminis membuat gerakan baik sosial, politik, keagamaan atau ideologi tertentu dengan tujuan hak-hak sebagai wanita dihargai dan diberikan. Singkatnya, perempuan ingin agar tercipta keharmonisan dan kerja sama dalam membangun dunia, baik tingkat keluarga batih maupun di tingkat yang lebih besar dan tinggi di semua sektor kehidupan.
Perempuan dan laki-laki sama-sama manusia. Dalam mengatur (menata) dunia, sama-sama mempunyai peran dan fungsi yang sama. Berkaitan dengan perempuan mengandung, melahirkan dan menyusui adalah soal kodrat bukan pembagian peran atau tugas. Karena mengandung, melahirkan dan menyusui menjadi kodrat kaum hawa, maka setiap perempuan memiliki hak dan sekaligus untuk tanggung jawab. Ketika perempuan tidak melahirkan dunia akan menjadi kosong. Misalnya, terutama perempuan Papua ketika tidak melahirkan anak-anak Papua yang berbobot, orang Papua akan kosong di tanah Papua.
Perempuan wajib mengandung, melahirkan dan menyusui karena hal ini adalah kodrat. Tiga hal ini tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Apa pun alasan, perempuan wajib mengandung, melahirkan dan menyusui. Kecuali alasan biologis, yakni kemandulan alami (tidak bisa mengandung), atau mau jedah melahirkan: itu pun melalui kesepakatan suami dan istri. Sedangkan alasan lain, yakni tidak mau mengandung karena terbawa emosi, benci dan kecewa terhadap seseorang atau suatu perbuatan, selanjutnya cari obat-obat buatan, minum pill atau cari dukun untuk tidak mengandung, tidak dibenarkan dan dapat dikatakan “kesalahan fatal”. Mereka yang karena tidak mau mengandung secara tahu, mau dan sadar tanpa sepengetahuan suami melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh, dapat dikategorikan sebagai pelanggaran, apalagi perempuan-perempuan yang nikah secara gerejawi, melalui sakramen perkawinan.
Perempuan yang mau melahirkan manusia harus memiliki besic pengatahuan yang memadai. Paling kurang pengatahuan untuk memberikan asupan gizi saat dalam kandungan, memberikan ASI setelah melahirkan dan memberikan pembinaan-pembinaan saat anak berkembang. Perempuan yang memiliki pengetahuan akan mendidik dan mengajarkan anak secara bijaksana. Anak-anak yang dilahirkan oleh perempuan yang berpengetahuan atau perempuan berhikmat akan melakukan perbuatan-perbuatan yang mengagumkan.
Perempuan menanggung beban ganda dan sering mendapatkan tentangan ganda pula. Perempuan mendapatkan tantangan ganda, misalnya dalam keluarga sering tidak mendapatkan tempat strategis: pengorbanan seorang ibu di keluarga hanya dianggap sebagai tugasnya dan tidak lebih dari itu. Lebih para lagi, dibully atau direndahkan dan setiap pekerjaan tidak memiliki harga, bahkan dibentak dan dipukul. Selain itu, tangangan di tengah masyarakat yang menganggap status perempuan sebagai kaum lemah dan tidak bisa melakukan perbuatan yang besar. Cara dan pemikiran primitif di tengah keluarga dan di tengah masyarakat ini menjadi hambatan serius yang dihadapi perempuan. Walaupun dalam tantangan yang tidak ringan, mereka tetap tegar menanggung beban ganda yang dipundakan kepada mereka. Beban ganda yang pertama adalah dia harus menanggung keluarga. Perempuan tidak ingin keluarganya lapar dan mengalami kekurangan. Perempuan berjuang untuk mencukupkan kehidupan sejak melahirkan sampai membesarkan anak ditanggung dengan sepenuh hati tentu dengan kehadiran ayahnya. Selanjutnya beban ganda di tengah masyarakat yakni menyumbangkan anak-anak berbobot di tengah masyarakat demi mengangkat status masyarakat yang lebih beradab dan bermartabat.
Gereja Katolik mengajarkan keluarga adalah sekolah pertama dan utama. Karena itu, baik ayah maupun ibu menjadi guru pertama dan utama di sekolah pertama. Keluarga adalah institusi pendidikan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia. Keluarga disebut sebagai sel masyarakat karena menjadi unsur inti dalam masyarakat. Ketika orangtua dikatakan guru, makan orangtua harus mendapatkan pendidikan untuk mengajarkan anak secara baik, benar dan bertanggung jawab terhadap pendidikan dan perkembangan anak selanjutnya. Hal ini sejalan pula dengan tujuan perkawinan katolik, yakni menurunkan anak dan mendidik anak.
Pendidikan
Pendidikan adalah kebutuhan utama dan mendasar dalam kehidupan manusia. Pendidikan bagaikan cahaya dalam perjalanan kehidupan yang gelap. Pendidikan menerangi dunia yang gelap dan membuka kebutaan kehidupan. Kegelapan yang dimaksud adalah kebodohan, keterbelakangan dan ketertinggalan.
Dalam usaha menciptakan keluarga yang bahagia, maupun Negara yang maju dibutuhkan pendidikan yang bebobot. Pendidikan harus didudukan sentral dalam kehidupan keluarga. Anak yang dilahirka dalam keluarga (orangtua) yang berpendidikan tahu bagaimana diarahkan dan dituntunnya ke jalan yang tepat, ke jalan kesuksesan.
Perempuan harus mendapat pendidikan yang memadai. Artinya, perempuan jangan diputuskan pendidikan dengan alasan apa pun. Orangtua harus membiayai pendidikan anak perempuan tanpa pertimbangan untung dan ruginya. Membiayai pendidikan seorang anak perempuan ibarat sedang menyelamatkan bangsa, sebab mereka akan menjadi pondasi bangsa. Dalam tubuhnya yang otaknya terdidik, melalui rahim yang mentalnya dipersiapkan akan mengandung dan melahirkan anak-anak yang siap masuk dalam percaturan dunia yang penuh strategi dan sandiwara.
Pendidikan penting bagi kaum perempuan. Dengan demikian, orangtua tidak menjodohkan sebelum berpendidikan. Kepada anak-anak perempuan pun diperingatkan (disampaikan) untuk mencari pasangan setelah selesai berpendidikan. Keluar sekolah dan kawin sebelum selesai pendidikan bagi anak-anak perempuan adalah malapetaka. Perempuan yang kawin sebelum umur pada umumnya dan secara khusus keluar sekolah (waktu kecil) kawin akan menjadi beban bagi keluarga. Mereka akan mengalami kesusahan yang tidak sedikit, di samping menjadi penonton, dimungkinkan mereka akan mendapatkan tekanan yang berat dalam keluarga karena tidak potensial, tidak produktif dan kreatif dalam memelihara keluarga.
Bangsa
Bangsa yang besar dan bermartabat dibangun dari pendidikan yang berbobot dan berkualitas. Mendirikan bangsa yang maju tanpa didukung pendidikan yang berkulitas ibarat perempuan melahirkan anak tanpa bersetubuh dengan seorang laki-laki; terkecuali Yesus karena dari Roh Kudus dan Yesus adalah Anak Allah.
Mendirikan bangsa tanpa pendidikan akan terjadi jika mujizat turun langsung dari atas dan itu sesuatu yang “sangat tidak mungkin.” Di seluruh dunia tidak pernah ada bangsa yang didirikan tanpa pendidikan. Seperti keluarga pendidikan menjadi dasar, bangsa pun pendidikan adalah pondasi utama. Bangsa yang didirikan tanpa Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai akan terbangun bangsa boneka, bangsa biadab dan bangsa yang tukang bunuh rakyatnya sendiri dengan label teroris, KKB, KKBS, KKP. Menjadi bangsa yang hanya mencari kesalahan rakyat untuk mengejar dan membunuh tanpa berusaha memperbaiki.
Bangsa yang berbobot adalah bangsa yang dipimpin oleh orang-orang terdidik, kaum pemikir yang hebat yang dilahirkan melalui pendidikan yang berkulitas. Bangsa yang dipimpin oleh militer pada akhirnya akan rusak dan hancur, apalagi memegang senjata tanpa besik moral yang mumpuni. Artinya, setiap warga masyarakat wajib mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk militer, terlebih kaum perempuan yang akan menjadi pondasi bangsa.
Penutup
Perempuan adalah pondasi keluarga dan bangsa, maka perempuan harus mendapatkan pendidikan yang sepantasnya. Ketika perempuan tidak dapat melahirkan anak lagi dunia akan menjadi kosong. Pendidikan mengambil peran seperti perempuan, melahirkan kembali manusia dalam terang intelekstualitas. Jika perempuan tidak berbobot, juga pendidikan tidak berkualitas akan terlahir manusia-manusia pajangan yang hanya merusak dan menghancurkan, hanya mengacaukan situasi dan merisaukan kehidupan. Akan dilahirkan orang-orang yang gampang ditipu dan dipermainkan, mudah dirayu dan diprovokasi, yakni manusia kesin: bertubuh manusia tapi isi di dalamnya penuh dengan sifat-sifat binatang. Untuk melahirkan manusia yang berbobot, perempuan dan pendidikan harus berbobot. Dari sana, bangsa yang didirikan menjadi bangsa yang besar, bangsa yang beradab dan berkualitas. Orang yang merusak pendidikan dan perempuan pasti akan menuai kehancuran (malapetaka) dalam kehidupan.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika