Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

    Segera Hentikan Operasi Tambang Emas Ilegal di Kampung Mogodagi

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    BP3 OKP dan BPP Papua Tengah Apresiasi Panen Jagung Tani Merdeka di Nabire

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

    Apresiasi AWP, Gustaf Griapon Sebut Festival Media Wadah Strategis Literasi di Papua

    Soroti Nasib Pedagang di Papua, Jhon Gobai Desak Penerapan Perda Pangan Lokal

    Titus Pekei Ajak ASN dan Masyarakat Deiyai Asah Intelektualitas Berbasis Kearifan Lokal

    Jurnalis Papua Diimbau Perkuat Investigasi dan Independensi Hadapi Regulasi Baru

    Mambor Ajak Jurnalis Lokal Jadi Pemain Utama di Tanah Papua, Bukan Sekadar Penonton

    Pelajar Nabire Didorong Jadi Produsen Konten Positif di Festival Media Papua 2026

    Festival Media Se-Tanah Papua 2026 Resmi Digelar di Papua Tengah

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

    Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

    Kapiraya Kritis! Rumah Dibakar, Warga Tewas, Aktivis HAM Ketuk Pintu Pemerintah

    Kapitalisasi Dunia Kesehatan: Pintu Masuk Pelanggaran HAM Berat di Papua

    Ketika Hukum Menjanjikan, Tapi Realitas Mengingkari: Otsus Papua di Antara Teks dan Hidup Sehari-hari

    Victor Yeimo: Evaluasi Kritis 63 tahun UNCEN: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Penjajahan

    Rambut Putih, Cahaya Tak Padam: Kesaksian Elias tentang Pastor Nato Gobay

    Sagu: Sumber Kehidupan dan Identitas Budaya Masyarakat Sentani

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Jurnalis Papua Diimbau Perkuat Investigasi dan Independensi Hadapi Regulasi Baru

    TPNPB Klaim Bertanggung Jawab atas Penikaman di Dekai, Nilai Kunjungan Wapres Gibran Hanya Pencitraan

    KNPB Konsulat Makassar Tegaskan: Kami bukan Separatis

    Hari HAM Sedunia 10 Desember 2025: Operasi Militer di Gearek Nduga Picu Pengungsian Warga Sipil

    Konflik Yahukimo Memanas, TPNPB Klaim Rumah Agen Intel DibakarKonflik Yahukimo Memanas, TPNPB Klaim Rumah Agen Intel Dibakar

    Kontak Tembak Senjata di Yahukimo, Satu Anggota TPNPB Luka, TPNPB Kalim Tiga Prajurit TNI Tewas

    TPNPB: 6 Helikopter Militer Lakukan Serangan Udara di Nduga, Warga Distrik Gearek Mengungsi ke Hutan

    Kontak Tembak Terjadi di Yahukimo, TPNPB Klaim Aparat Lakukan 98 Kali Serangan Bom

    HRD: Tepat Hari HAM Sedunia, Militer Indonesia Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Papua

  • Kesehatan

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

    Kepala Bidang P2P Dinkes Paniai: Empat Warga Baya Biru Dinyatakan Positif HIV/AIDS

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Gereja Kingmi Koordinator Paniai Awepaida

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS, di Jemaat Bahtera Dinubutu

    Dinas Kesehatan Paniai Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Massal di Distrik Bayabiru

    KPA Paniai Gelar Deklarasi dan Penandatanganan MOU Penanggulangan HIV/AIDS Bersama 24 Distrik dan 216 Desa

    Hari AIDS Sedunia, Dinkes dan KPA Paniai: Tegaskan Komitmen Lawan AIDS 

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS pada Temu Mudika Dekenat Paniai di Paroki Santo Yusuf Enagotali

    KNPI Paniai Gelar Rakerda, KPA Dorong Pemuda Jadi Garda Terdepan Cegah HIV/AIDS

  • Lingkungan

    BP3 OKP dan BPP Papua Tengah Apresiasi Panen Jagung Tani Merdeka di Nabire

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemprov Buka Ruang Tani Merdeka

    Aksi Nyata Pemuda dan DLH, Ubah Wajah Dogiyai Jadi Lebih Asri dan Hijau

    GPPMMA Aikai Gelar Aksi Bersihkan Sampah di Pelabuhan Aikai dan sekitarnya 

    Anggota DPR Papua Tengah Mendesak Pemerintah dan Aparat Hentikan Konflik di Timika

    Bupati Paniai Imbau Pelaku Usaha Tak Naikkan Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

    HRD: Tepat Hari HAM Sedunia, Militer Indonesia Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Papua

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Tiga Kepala Badan Baru dan Siapkan Program Kerja 2026

  • Pendidikan

    Pelajar Nabire Didorong Jadi Produsen Konten Positif di Festival Media Papua 2026

    Festival Media Se-Tanah Papua 2026 Resmi Digelar di Papua Tengah

    Bupati Kab. Dogiyai Tekankan Pentingnya Noken, Regenerasi, dan Penguatan Pendidikan

    IPPM-DW HIMLEKS Rayakan Natal dan Dies Natalis di Sentani

    Pemkab Dogiyai Melalui Dikpora  Gelar Launching SSH di SD YPPK Goodide

    TK Negeri Bogodide Resmi Terakreditasi Tepat di Hari Guru Nasional

    Marten Yogi dan Marius Kayame Rayakan Syukuran Bersama Wisudawan USWIM dan Anggota DPRK Paniai

    IPMB Rayakan Wisuda Mikerla Iyai, S.T: Bukti Perjuangan Mengalahkan Tantangan

    Dari Rumah Pribadi ke Sekolah Negeri: Perjuangan Panjang TK Waikato Paapaa Aikai Akhirnya Berbuah Manis

  • Religi

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

    Natal Penuh Damai di Pos PI Maranatha: Jemaat Rayakan Kelahiran Yesus Raja Damai

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

    Gelar Dialog Terkait “Postingan Viral”, Dewan Pastoral Paroki Imakulata Moanemani Tegaskan Gereja Tidak Berafilias dengan Pihak Manapun

    Masalah dan Harapan OMK Dekenat Paniai Bahas: Iman, Ekonomi, dan Advokasi Sosial

    Kingmi Pos PI Inii Enaimo Merayakan Natal dan HUT Ke-XII: Yesus Menjadi Pusat Hidup Jemaat

    Mahasiswa Semester VII STAK Nabire Rayakan Natal di Pantai Tiba Lakukan: “Tuhan Survei Hati Setiap Orang”

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Yan Ukago: Kebohongan Sudah Jadi Budaya Politik Indonesia

by Derek Kobepa
14 Agustus 2025
in Artikel Opini, Politik
0
SHARES
568
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Akademisi dan pemerhati sosial-politik, Ir. Yan Ukago, MT, melalui opininya berjudul “Bangsa Pembohong: Luka Sejarah yang Tak Pernah Sembuh”, menegaskan bahwa kebohongan telah menjadi bagian dari budaya politik Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hingga era pemerintahan saat ini.

Baca Juga: Orang Muda Papua: Antara Harapan Gereja dan Kenyataan Kematian

Yan Ukago, menyatakan meski kemerdekaan dibangun di atas cita-cita luhur untuk menjadi bangsa merdeka, berdaulat, adil, dan makmur, praktik kebohongan digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan, menutupi kegagalan, dan menyamarkan luka sejarah.

Human & Safety

“Kebohongan di Indonesia bukan lagi perilaku segelintir orang. Ia telah menjadi sistemik, hidup dalam narasi sejarah, bahasa politik, media, bahkan pendidikan,” tulisnya dalam opini yang dirilis dari UdepouyaPark, Numbay diterima jelatanewspapua.com (14/08).

Baca Juga: 710 PNS Dogiyai yang Diangkat Dan Quo Vadis Dogiyai Ke-Depan?

Kronologi Kebohongan Politik dari Era ke Era

1. Awal Kemerdekaan (1945–1950)

Yan menilai, narasi resmi yang menggambarkan rakyat hidup rukun pasca-proklamasi tidak sesuai fakta. Periode ini justru diwarnai perang saudara, pemberontakan, dan konflik internal. Perjanjian Linggarjati (1946) dan Renville (1948), yang dipublikasikan sebagai kemenangan diplomasi, disebutnya justru merugikan wilayah Indonesia.

2. Era Soekarno

Di bawah slogan Berdikari, Indonesia disebut seolah bebas dari pengaruh asing. Kenyataannya, ekonomi tetap bergantung pada bantuan luar negeri, terutama dari Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur. Yan Ukago menilai, hal ini memicu keterlibatan Amerika Serikat dalam penggulingan Soekarno untuk membendung pengaruh komunisme di Asia.

3. Orde Baru Soeharto (1966–1998)

Menurut Yan, Soeharto membangun citra stabilitas dan kemakmuran dengan “kebohongan manis” melalui kontrol media, manipulasi sejarah, dan pembungkaman kritik. Peristiwa G30S/PKI digambarkan dengan narasi tunggal yang menyalahkan PKI, sementara penelitian menunjukkan adanya keterlibatan konflik internal militer dan intervensi intelijen asing.

Yan Ukago juga menyoroti pembantaian massal 1965–1966 yang menewaskan ratusan ribu jiwa sebagai tragedi yang dihapus dari buku sejarah.

Pepera 1969 di Papua dinyatakan final, meski mendapat penolakan luas dari Orang Asli Papua (OAP).

4. Reformasi 1998

Soeharto jatuh dengan janji keterbukaan, namun Yan menilai pola lama tetap bertahan. Kasus Timor Timur disebut sebagai “Operasi Seroja” untuk menyelamatkan rakyat, padahal menurutnya merupakan invasi militer yang berujung lepasnya wilayah tersebut melalui referendum 1999.

Ia juga menyebut krisis moneter 1997–1998 yang diklaim terkendali, padahal rupiah runtuh, perbankan kolaps, dan cadangan devisa menipis. Tragedi Mei 1998 yang memakan korban etnis Tionghoa hingga kini belum diusut tuntas.

5. Era Joko Widodo (2014–2024)

Jokowi hadir dengan slogan Revolusi Mental dan Nawacita, namun Yan menilai hasilnya paradoks. Pembangunan infrastruktur dibayar dengan utang besar, data kemiskinan dipoles, dan pelanggaran HAM masa lalu tetap tidak tersentuh. Di Papua, meski diberlakukan Otonomi Khusus, migrasi besar-besaran justru membuat OAP menjadi minoritas di tanah sendiri.

Yan juga mengkritik pelemahan KPK, kontroversi Omnibus Law, polemik ijazah presiden, penanganan pandemi COVID-19 yang awalnya disampaikan dengan pernyataan keliru, serta kasus Rempang 2023 yang menurutnya dibungkus dengan narasi “pembangunan strategis” meski memaksa warga pindah.

Pandangan Antropolog dan Budayawan

Dalam opininya, Yan mengutip pendapat beberapa tokoh:

Niels Mulder (2007) menyebut sifat pembohong dan penipu telah terkonstruksi dalam nasionalisme Indonesia melalui ideologi Pancasila.

Koentjaraningrat (1993) mencatat lima mentalitas negatif bangsa: meremehkan mutu, suka menerabas, kurang percaya diri, tidak disiplin murni, dan mengabaikan tanggung jawab.

Mochtar Lubis (2008) menambahkan enam ciri buruk, di antaranya munafik, enggan bertanggung jawab, feodalis, percaya takhayul, dan lemah karakter.

Suwardi Endraswara (2010) memaparkan sifat seperti iri dengki (drengki-srei), keras kepala (merkengkong), merasa paling benar (kikrik), hingga suka menggunjing (ngrasani).

Menurut Yan, sifat-sifat ini kini nyata dalam politik dan pemerintahan. Kebohongan publik dan propaganda menjadi kebiasaan, sementara kekerasan di Papua dipoles sebagai “penegakan hukum” dan di forum internasional dilabeli sebagai “urusan domestik”.

Luka Sejarah Papua

Yan menyoroti khusus Papua sebagai wilayah yang mengalami dampak panjang kebohongan politik. Ia menyebut Perjanjian New York 15 Agustus 1962 sebagai kesepakatan yang “membicarakan nasib manusia tanpa suara mereka” dan menyamakannya dengan “pertemuan antara iblis, setan, dan suanggi”.

Menurutnya, perlawanan yang masih berlangsung hingga kini adalah bukti bahwa luka sejarah tersebut belum pernah sembuh.

Penutup: Perlu Kejujuran untuk Perubahan

Yan menegaskan bahwa selama bangsa ini tidak berani mengakui kebohongan sejarah dan membongkar akar budaya politik yang buruk, perubahan hanya akan menjadi ilusi.

“Selama kita tak berani mengakuinya dan membongkar akarnya, perubahan yang kita impikan hanya akan menjadi kebohongan terbesar berikutnya,” tulisnya.

Tulisan Yan Ukago ini menjadi seruan untuk merefleksikan kembali perjalanan sejarah bangsa dan mendorong keterbukaan agar Indonesia tidak terus terjebak dalam lingkaran kebohongan yang diwariskan lintas generasi. (*)

Post Views: 1,944
Tags: Budaya Politik IndonesiaKebohonganYan Ukago
Previous Post

710 PNS Dogiyai yang Diangkat Dan Quo Vadis Dogiyai Ke-Depan?

Next Post

KNPB Kutuk Penembakan Tiga Anak di Dogiyai oleh Aparat Gabungan

Derek Kobepa

Derek Kobepa

Next Post

KNPB Kutuk Penembakan Tiga Anak di Dogiyai oleh Aparat Gabungan

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2024 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2024 All rights reserved