JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) melalui Juru Bicara Nasional, Ogram Wanimbo, mengutuk keras penembakan terhadap tiga anak di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Penembakan ini dilakukan oleh aparat gabungan TNI-Polri dan Paskhas TNI AU yang bertugas di Lapangan Terbang Moanemani.
Tiga korban yang masih di bawah umur adalah Yuvensius Degei (14), Edison Tebai (14), dan Martinus Tebai (14). Mereka menjadi sasaran tembakan aparat pada peristiwa yang terjadi baru-baru ini.
Baca Juga: Yan Ukago: Kebohongan Sudah Jadi Budaya Politik Indonesia
Dalam jumpa pers di Waena, Perumnas 3, Kamis (14/08), Ogram Wanimbo menyatakan tindakan aparat merupakan pelanggaran HAM berat. Ia menegaskan penembakan di luar prosedur hukum terhadap anak-anak tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apapun.
KNPB mendesak Polda Papua Tengah segera mengungkap identitas oknum aparat yang menjadi pelaku penembakan. Organisasi ini menuntut agar pelaku diadili sesuai hukum yang berlaku.
Baca Juga: 710 PNS Dogiyai yang Diangkat Dan Quo Vadis Dogiyai Ke-Depan?
Menurut Ogram, peristiwa ini adalah bentuk brutalisme negara terhadap rakyat sipil Papua. Ia menilai kehadiran aparat bersenjata di wilayah sipil terus memicu kekerasan dan ketakutan.
KNPB menuntut agar seluruh operasi militer di tanah Papua segera dihentikan. Keberadaan operasi tersebut dinilai hanya memperburuk konflik dan memperbesar jumlah korban sipil.
Selain itu, KNPB menyerukan agar Indonesia dan Papua segera mencari jalan perundingan. Perundingan damai dianggap sebagai solusi untuk menyelesaikan konflik bersenjata yang berakar pada sengketa politik.
Baca Juga: Ketua DPRK Nabire Minta Warga Lebih Waspada di Tengah Maraknya Kejahatan di Kota
Pernyataan ini juga menjadi bagian dari agenda persiapan Aksi Nasional memperingati Perjanjian Ilegal New York Agreement pada Jumat, 15 Agustus 2025. KNPB juga akan menggelar aksi anti-rasisme pada 16 Agustus 2025.