Karya: Gusanncladote
Senja di Lagari, Nabire, Papua Tengah belum usai. Cahaya jingga selalu jatuh pelan di atas gunung-gemunung dan Sungai-sungai yang mengalir dari hulu hutan. Di tempat itu, langit seperti menulis kisahnya sendiri. Air memantulkan cahaya, burung-burung pulang, dan angin membawa bau tanah basah yang selalu membuat siapa pun ingin kembali.
Lagari bagi banyak orang hanyalah satu sudut kecil di pinggir Nabire. Namun bagi Yulan dan Salomina, tempat itu seperti halaman rumah yang luas, tempat mereka menaruh cerita dan masa depan. Mereka datang berulang kali, membawa kail, umpan, dan percakapan yang tak pernah habis.
Memancing menjadi alasan sederhana untuk hadir di sana. Sungai kecil yang mengalir dari kepala air menyimpan ikan-ikan yang bersembunyi di sela akar dan lumpur. Saluran sawah para migran juga menjadi tempat yang tak kalah kaya. Di sana ikan mujair, nila, dan gabus sering menyambar umpan dengan cepat.
Yulan selalu tertawa kecil setiap kali kailnya bergerak. Salomina akan memandangnya dengan mata yang lembut, seperti seseorang yang tahu bahwa kebahagiaan sering kali datang dari hal-hal yang sangat sederhana.
“Sayang lihat ini, Salomina. Ikan besar,” kata Yulan sambil menarik tali pancingnya.
Salomina tersenyum. “Sayang memang sabar. Orang yang sabar pasti dapat ikan dan dapat cinta.”
Mereka sering datang tanpa rencana panjang. Kadang hanya karena rindu pada angin yang bertiup dari arah Teluk Cenderawasih. Kadang hanya karena ingin melihat senja jatuh perlahan di atas air. Kadang karena ikan di alam liar ciptaan Sang Khalik yang bergerak dengan liar di air.
Lagari bagi mereka seperti surga kecil. Tempat yang belum banyak diekspos orang. Rumah-rumah berdiri di menjadi penghias hamparan Lembah itu. Hutan lebat masih menjaga sumber air. Di sana lumbung lauk tersedia, seolah alam membuka dapurnya sendiri untuk manusia.
Bagi masyarakat setempat, tempat seperti itu bukan sekadar lokasi memancing. Ia adalah ruang hidup. Sungai adalah dapur. Hutan adalah pasar. Tanah adalah masa depan anak-anak.
Sepasang kekasih ini, setiap kali pulang, selalu saat senja. Warna jingga yang jatuh di air membuat Lagari terlihat seperti lukisan tua yang hidup.
Namun senja di Lagari juga menyimpan cerita lain.
Di balik keindahan yang tampak tenang itu, ada aktivitas yang bergerak diam-diam. Mesin-mesin bekerja di hulu. Orang-orang datang dengan kendaraan besar. Mereka membawa peta, alat, dan rencana yang tidak pernah dijelaskan kepada warga.
Salomina pernah menunjuk ke arah bukit kecil.
“Sayang lihat itu?” katanya pelan.
Yulan mengangguk. Ia tahu yang dimaksud Salomina. Bekas galian yang mulai terbuka seperti luka di tubuh tanah. Merobek-robek hutan hijau di sana.
Orang-orang itu datang seperti pencuri yang masuk lewat pintu belakang. Mereka bekerja tanpa banyak suara, tetapi dampaknya terasa. Air sungai mulai berubah warna. Ikan-ikan semakin jarang terlihat seperti sediakalah.
Yang aneh, mereka juga melarang orang mengambil foto atau video. Sangat rahasia, meski banyak orang tahu bahwa itu kegiatan eksploitasi.
“Kalian tidak boleh rekam,” kata salah satu penjaga berseragam loren dan bersepatu laras suatu sore.
Larangan itu terasa ganjil di zaman digital. Dunia yang maju karena perkembagan sudah modern. Seolah ada sesuatu yang harus disembunyikan dari dunia luar.
Salomina pernah membaca berita tentang bagaimana perusahaan-perusahaan besar sering mengambil kekayaan alam di banyak tempat di Papua. Tulisan para peneliti seperti yang dipaparkan dalam laporan organisasi lingkungan dan juga kajian ekonomi politik sering menyebut pola yang sama: sumber daya diambil, masyarakat diberi sedikit, dan alam kehilangan banyak.
“Ini seperti cerita lama,” kata Salomina suatu senja. “Orang datang ambil emas, kayu, tanah… lalu bilang itu pembangunan.”
Yulan terdiam lama. Kailnya tetap berada di air, tetapi pikirannya jauh ke hulu sungai.
Air yang dulu jernih mulai keruh. Di beberapa bagian sungai, warga menemukan ikan mati mengambang. Tidak hanya itu, biota lain yang bermukim dalam air juga banyak yang mati. Ada yang bilang karena racun dari aktivitas tambang yang sedang masuk merajalelah di kepala air.
Bagi Yulan, itu seperti melihat dapur rumah sendiri dirusak.
Ia ingat cerita orang tua tentang tanah Papua yang kaya. Banyak penulis dan peneliti pernah menulis hal yang sama, dari laporan antropolog hingga aktivis lingkungan. Kekayaan alam sering menjadi berkah sekaligus kutukan.
Di Lagari, kenyataan itu terasa sangat dekat.
Suatu sore mereka duduk lama di taluk buatan pinggir sungai. Matahari hampir tenggelam, dan cahaya merah menembus awan tipis.
“Kalau suatu hari ikan habis bagaimana?” tanya Salomina.
Yulan menarik napas panjang. “Berarti bukan cuma ikan yang hilang. Kita juga kehilangan cerita.”
Bagi mereka, memancing bukan sekadar mencari lauk. Itu cara untuk mendengar suara alam. Cara untuk mengingat bahwa manusia hidup karena tanah, air, dan hutan.
Namun dunia di luar Lagari bergerak cepat. Kapital, perusahaan, dan proyek-proyek besar datang membawa janji kesejahteraan. Tetapi sering kali kesejahteraan itu hanya singgah sebentar.
Yang tertinggal adalah tanah yang berubah.
Salomina memandang langit yang mulai gelap.
“Senja selalu indah,” katanya pelan. “Tapi kadang dia juga mengingatkan kita bahwa sesuatu sedang berakhir.”
Yulan menggulung tali pancingnya.
“Kalau begitu,” katanya, “kita harus terus datang. Selama senja di Lagari masih ada.”
Angin malam mulai turun dari arah bukit. Sungai mengalir perlahan seperti menyimpan rahasia yang tidak ingin diucapkan.
Dan senja di Lagari, seperti cinta Yulan dan Salomina, belum benar-benar usai.