Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Nonton Film “Pesta Babi”, Masyarakat Totaa Mapiha Konsolidasi Jaga Tanah Adat

    KONI Papua Tengah Gelar Rapat Koordinasi Bersama 32 Cabor, Siapkan Atlet Hadapi PORPROV dan PON

    BEM UI Akan Gelar Demonstrasi Besar di Bundaran HI, Bawa Lima Tuntutan kepada Pemerintah

    Perpisahan SMP YPPGI Elisa Gobai Uwamani, 34 Siswa Siap Melanjutkan Pendidikan

    Asosiasi Desain Grafis Papua Tengah Dorong Generasi Muda Papua Menjadi Wirausaha Desain Grafis

    Susun Perubahan RAP Otsus 2026, Bappeda-BPKAD Dogiyai Hadapi Kendala Sistem dan Pemahaman Teknis  

    Kabupaten Dogiyai Raih Opini WTP Pertama Dalam Sejarah Sejak Berdiri Pada 2008

    Data Peserta Didik Sering Tidak Valid, Dinas Pendidikan Paniai Akan Terapkan Standar Ketat

    19 Siswa SD Inpres Pona Lulus, Investasi Masa Depan Dogiyai Dimulai

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Victor Yeimo: Mama Yasinta Mengalami Penindasan Berlapis dan Operasi Hegemoni Modern

    Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua Desak Pemulangan dan Pemulihan Hak Mama Yasinta Moiwend

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

    LBH Papua Desak Komnas HAM Tetapkan Dogiyai Berdarah Sebagai Dugaan Pelanggaran HAM Berat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

  • Kesehatan

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

  • Lingkungan

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Sosialisasi dan Tinjau Sektor Perikanan di Paniai

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    HP-SP Paniai Gelar Diskusi Panel Kenakalan Remaja, Despia Yeimo Ajak Pelajar Bangun Masa Depan

    HP-SP Paniai Bentuk Panitia Musyawarah dan Seminar, Dorong Penguatan Literasi Generasi Muda

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

  • Pendidikan

    TK PAUD Debeigi Resmi Tamatkan 12 Peserta Didik Tahun Ajaran 2025/2026, Begini Pesan Kepala Sekolah

    TK Paud Kebada Kogekotu Resmi Tamatkan 11 Siswa, ini Pesan Kabid TK-Paud Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai 

    TK PAUD Kepas Kopo Tamatkan 28 Siswa, Angkat Tema Penyerahan Diri kepada Tuhan

    Perpisahan SMP YPPGI Elisa Gobai Uwamani, 34 Siswa Siap Melanjutkan Pendidikan

    TK PAUD El-Shadai Madi Angkatan X Tamatkan 15 Siswa, Begini Pesan Kabid TK-Paud 

    TK PAUD St. Fransiskus Asisi Epouto Tamatkan 41 Siswa Angkatan XIII Tahun 2026

    Mahasiswa PPL STAK Nabire Sampaikan Terima Kasih kepada TK Negeri Waikato Paapaa Usai Menyelesaikan Praktik Lapangan

    TK YPPK St. Aquinas Enarotali Lepas 28 Siswa dalam Acara Penamatan Tahun Ajaran 2025/2026

    TK Negeri Bomaiye Pito Wisudakan 19 Siswa, Dinas Pendidikan Paniai Apresiasi Komitmen Sekolah

  • Religi

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Sastra

Tanah Dogiyai Menangis di Bawah Langit Kelabu

by Redaksi
22 Oktober 2025
in Sastra
0
SHARES
67
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Karya: Gusanncladote

Di bawah langit Dogiyai yang biasanya teduh, suara motor meraung memecah ketenangan hari Senin itu. Jalan yang ramai dengan warga mendadak menjadi panggung kekacauan kecil, ketika dua aparat keamanan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa peduli pada tatapan heran masyarakat. Seolah jalan itu adalah milik mereka semata, tanpa melihat bahwa di sana ada kehidupan yang sedang berdenyut tenang.

Angin yang berembus dari arah Kamu Selatan membawa rasa tak nyaman ke wajah-wajah muda di sekitar jalan itu. Mereka, para pemuda Dogiyai, menatap dengan gusar, karena di tanah mereka, kehormatan dan ketertiban adalah hal yang dijaga seperti menjaga nyala api di tungku rumah. Ketika kesabaran mereka pecah, teguran pun meluncur dengan nada marah, bukan untuk melawan, tapi untuk mengingatkan agar ada rasa hormat yang sama di antara sesama manusia.

Namun dunia seolah menutup telinganya. Ketegangan merebak, seperti bara kecil yang disiram bensin. Dua aparat itu turun dari motor, dan dalam hitungan detik, tatapan menjadi tajam, langkah menjadi tegang, dan suara menjadi tinggi. Pemuda mencoba menahan, aparat mencoba menantang. Parang yang tergenggam seakan menjadi simbol kemarahan yang tak lagi bisa ditahan oleh kata.

Langit Dogiyai siang itu ikut murung. Udara tiba-tiba berat, waktu berjalan lambat. Saat amarah bertemu ketakutan, letusan senjata terdengar, seperti petir di siang bolong. Tubuh-tubuh roboh, jeritan menggema, dan debu beterbangan di atas tanah yang baru saja dicuci hujan.

Yustinus Iyai, lelaki paruh baya, tiba-tiba bersimbah darah di betisnya. Ia terjatuh sambil menatap ke langit, seolah bertanya kepada Tuhan: mengapa di tanah damai ini, peluru kembali berbicara?

Oya Waine, pemuda berusia dua puluh dua tahun yang selalu tersenyum di pasar Moanemani, kini terbaring lemah. Bahunya berdarah, dan napasnya berat. Ia menatap temannya yang berusaha menolong dengan tangan gemetar.

Deserius Kotouki pun menjadi korban. Peluru menembus kaki kanannya. Ia meraung menahan sakit, sementara warga berlari ke segala arah. Tanah Dogiyai yang biasanya hangat kini dingin oleh ketakutan.

Mereka bertiga segera digotong, dengan tangan-tangan gemetar yang penuh kasih. Mobil bak terbuka menjadi ambulans darurat, melaju menembus jalan berbatu menuju Rumah Sakit Pratama Dogiyai di Odekomo. Di sepanjang jalan, doa dan isak tangis mengiringi laju kendaraan itu.

Rumah sakit  itu berjuang sebisanya. Lampu di ruang gawat darurat berkelip-kelip, dokter dan perawat bekerja dengan peralatan yang terbatas. Luka mereka terlalu dalam untuk ditangani di sana, dan keputusan harus dibuat cepat,  mereka harus dirujuk ke Rumah Sakit Paniai.

Sekitar pukul tiga dini hari, mobil kembali melaju menembus kabut menuju RSUD Paniai di Madi. Di dalamnya, tubuh-tubuh lemah berbaring di antara doa-doa lirih. Jalan itu panjang dan sunyi, seolah bumi Papua ikut berkabung dalam diam.

Setiba di rumah sakit, waktu seperti berhenti. Dua korban, Yustinus dan Oya, dibawa ke ruang operasi. Pisau bedah bekerja dalam senyap, dan peluru yang bersarang di tubuh mereka akhirnya berhasil dikeluarkan. Setetes demi setetes darah menandai perjuangan untuk tetap hidup.

Sementara itu, malam di Dogiyai tak benar-benar tidur. Api kemarahan warga masih menyala pelan di hati mereka. Ketegangan belum surut ketika pukul sembilan malam, suara tembakan kembali mengguncang langit Tokapo, di Kampung Mauwa, Dogiyai, Papua Tengah.

Keni Dumupa, pemuda dua puluh satu tahun yang dikenal ramah, terjatuh di tanah yang ia cintai. Peluru menembus dada kanannya, dan napas terakhirnya melayang bersama  desiran angin Kamu.

Kampung Mauwa menjadi lautan tangis. Ibu Keni memeluk tubuh anaknya yang dingin, sementara bapaknya berdiri kaku, menatap kosong ke arah aparat yang sudah pergi. Lampu-lampu rumah bergetar tertiup angin malam, seolah ikut menangis bersama keluarga itu.

Baca Juga:

No Content Available

Jenazah Keni dibawa pulang ke rumah duka. Orang kampung berkumpul, menyanyikan lagu-lagu duka dalam bahasa Mee yang lembut. Malam itu, langit Dogiyai benar-benar gelap, tanpa satu pun bintang yang berani muncul.

Di tengah suasana berduka, suara doa terdengar pelan. Keluarga menyiapkan pemakaman yang akan dilakukan keesokan harinya. Setiap lilin yang menyala di sekitar jenazah seolah berbicara: “Keadilan, jangan lagi datang terlambat.”

Di rumah sakit Paniai, dua korban yang selamat perlahan sadar. Wajah mereka pucat, tapi mata mereka masih menyala. Mereka bercerita lirih kepada keluarga tentang detik-detik penembakan itu,  tentang ketakutan yang tiba-tiba, dan tentang teman mereka yang tak sempat diselamatkan.

Oya Waine berkata dengan suara gemetar, “ Sa hanya mau hidup tenang di tanah sendiri, tapi kenapa peluru datang lagi?” Kalimat itu menggema di ruang perawatan, membuat malam terasa panjang.

Kabar penembakan menyebar cepat ke seluruh Dogiyai. Dari gereja ke pasar, dari rumah ke rumah, orang-orang berbicara dengan nada getir. Mereka bertanya, sampai kapan tanah ini harus dibasahi darah anak-anaknya sendiri.

Pagi hari di Mauwa terasa berat. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan kesedihan. Warga berdatangan membawa bunga. Mereka berdiri berbaris mengiringi jenazah Keni menuju peristirahatan terakhir.

Tanah digali dengan tangan-tangan penuh air mata. Ketika peti diturunkan, semua suara hilang. Hanya angin yang berdesir pelan di antara pepohonan yang tumbuh sepanjang perbukitan itu, seolah berbisik, “Tidurlah dengan tenang, anak Mauwa, Kamu, Dogiyai, Papua Tengah.”

Setelah pemakaman, keluarga duduk di halaman rumah, menatap kosong ke arah jalan tempat peristiwa itu bermula. Mereka berharap keadilan tidak menjadi kabar yang hanya lewat di udara, tapi hadir nyata di tengah mereka.

Sore harinya, aparat keamanan mengumumkan bahwa situasi telah kondusif. Namun di hati warga, luka belum sembuh. Mereka masih mendengar gema tembakan itu dalam mimpi, masih melihat darah di tanah yang belum sempat kering.

Dogiyai kembali tenang, tapi ketenangan itu rapuh. Seperti kaca yang retak tapi belum pecah, ia menunggu sentuhan lembut dari keadilan agar tak hancur lagi.

Keluarga korban, dengan suara yang lemah tapi tegas, menyerukan agar pelaku diusut dan dihukum. Mereka tak ingin balas dendam, hanya ingin kebenaran berdiri di tengah mereka seperti matahari yang adil bagi semua.

Di antara suara doa dan tangis, masyarakat berjanji akan menjaga kedamaian. Mereka tahu bahwa darah yang tertumpah tak boleh dibalas dengan darah, melainkan dengan keberanian untuk mencari kebenaran.

Langit Dogiyai sore itu perlahan memudar. Di antara kabut yang turun, terdengar suara burung-burung yang kembali ke sarang. Di hati orang-orang Mauwa, ada harapan kecil yang tetap hidup, bahwa suatu hari nanti, peluru akan berhenti berbicara, dan manusia akan saling menatap tanpa rasa takut.

Dan malam pun tiba. Di balik keheningan, tanah Dogiyai berdoa sendiri, untuk keadilan, untuk kedamaian, dan untuk mereka yang sudah pergi terlalu cepat.

Post Views: 1,956
Tags: Tanah Dogiyai Menangis di Bawah Langit Kelabu
Previous Post

Yan Permenas Mandenas : Pembakaran Simbol Adat Papua Dinilai Langgar UUD 1945 dan Sejumlah Undang-Undang Nasional

Next Post

DPUPR Dogiyai Gelar Monitoring dan Evaluasi Tahap I, Tekankan Penyelesaian Pekerjaan Fisik Sebelum Akhir Tahun

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Sastra

Senja yang Luka di Lagari

3 bulan ago
Sastra

Rimba Papua Menjadi Saksi

7 bulan ago
Berita

Forum Pegiat Literasi Papua Tengah Akan Gelar Diskusi Publik Ukur Kemajuan Literasi Menuju Papua Tengah Terang

8 bulan ago
Sastra

Bayang-Bayang Elit Kolaborator di Nabire, Papua Tengah

8 bulan ago
Sastra

Di Senja Teluk Cenderawasih, Yonike Bicara tentang Identitas yang Tak Bisa Dipadamkan

8 bulan ago
Sastra

Di Balik Rumah Seng Itu, Kami Bertahan: Kisah Ibu Regina Mansi dan Sebelas Jiwa yang Terlupakan

10 bulan ago
Next Post

DPUPR Dogiyai Gelar Monitoring dan Evaluasi Tahap I, Tekankan Penyelesaian Pekerjaan Fisik Sebelum Akhir Tahun

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved