Karya: Gusanncladote
Aku adalah pembunuh tanpa suara. Ingat baik-baik, Maimuna dan Paimuna, sepasang kekasih dari Kampung Maimani, Kamuu, Dogiyai, Papua Tengah, yang baru menikah tahun 2024 lalu.
Namaku sering kalian dengar, tapi kalian lebih suka menyebutku dengan bisik-bisik. Aku adalah rahasia di balik hasil lab. Aku adalah rasa takut di balik pelukan. Aku tidak datang dengan suara keras. Aku datang pelan-pelan, diam-diam. Tanpa senja.
Aku masuk lewat luka kecil, lewat darah, lewat cairan tubuh yang penuh hasrat. Di situlah aku mulai bekerja. Tak terlihat, tapi aku masuk jauh ke dalam tubuhmu. Aku cari tempat tinggal, dan aku temukan itu di sel darah putihmu.
Tubuhmu indah, seperti tanah Papua yang indah. Tapi aku tahu cara merusaknya dari dalam. Aku cari sel CD4, pemimpin pasukan tubuhmu. Aku peluk dia, lalu perlahan aku hancurkan dia, tanpa dia sadari.
Saat jumlah CD4 menurun, aku senang. Tanpa mereka, tubuhmu tidak bisa melawan penyakit. Meski kamu merasa sehat, sebenarnya tubuhmu sudah rusak dari dalam.
Aku suka darahmu. Aku ikut mengalir di nadimu, ke jantungmu, mengikuti detak yang jadi musik untukku. Aku masuk ke limpa, pusat pertahanan tubuh. Aku hancurkan semuanya. Tubuhmu jadi lemah. Pasukanmu capek bertempur.
Aku datangi kelenjar getah bening, tempat sel-sel tubuh saling kirim pesan. Aku bikin sinyalnya rusak. Mereka jadi bingung, tak tahu siapa musuh. Di situlah aku menang.
Aku masuk ke sumsum tulang belakang, tempat darah dibentuk. Aku hancurkan dari sana, sehingga darahmu tak lagi bisa lahirkan pasukan baru. Tubuhmu tetap berdiri, tapi sebentar lagi kau akan tumbang.
Paru-parumu? Aku tidak langsung ke sana. Tapi nanti, saat tubuhmu lemah, kuman kecil bernama Pneumocystis jirovecii akan datang. Lalu kamu akan batuk, sesak napas, dan pakai tabung oksigen.
Di mulutmu akan tumbuh jamur putih. Dokter bilang itu infeksi oportunistik. Buatku, itu tanda pesta kemenangan.
Kulitmu berubah. Luka kecil sulit sembuh. Ada bercak kehitaman yang disebut sarkoma Kaposi. Warnanya seperti mala, tapi malam tanpa bulan. Malam tanpa harapan.
Otakmu juga kena. Aku bisa bikin kamu bingung, lupa, bahkan berubah sikap. Dokter menyebutnya HIV encephalopathy. Buatku, ini permainan pikiran. Pelan-pelan kamu tidak tahu lagi siapa dirimu.
Begitulah aku menguasai tubuh Maimuna.
Maimuna, kamu dulu gadis manis dari Maimani. Cantik, pemalu, dan menawan. Tapi satu luka, satu pelukan tanpa pengaman, sudah cukup buatku masuk. Aku diam, menunggu. Dan ketika kamu mulai lelah, aku mulai bicara lewat tubuhmu.
Aku suka wajah cerahmu dulu. Kini sudah pucat. Rambut kritingmu dulu panjang, sekarang rontok satu-satu. Tawa ceriamu kini hilang, diganti napas lelah. Kau bahkan tak kuat berdiri menyambut matahari pagi.
Dan kau, Paimuna. Lelaki kuat dari pegunungan, penjaga kebun dan hutan dan sekitarnya. Tapi sekarang tubuhmu sudah lemah. Aku membuatmu seperti reruntuhan kekuatanmu sendiri.
Kau tidak tahu kapan aku masuk. Mungkin lewat jarum suntik yang kau pakai bersama teman. Mungkin lewat pelukan yang tak kau lindungi. Tapi itu bukan salahmu sendiri. Tak ada yang beri tahu kau tentang aku.
Sekarang napasmu pendek. Matamu cekung. Kulit hitammu kering. Bahkan cangkul, kampak dan parang tak bisa kau genggam lagi. Kau hanya terbaring, sementara aku terus menari dalam darahmu.
Maimuna dan Paimuna, kalian bukan korban pertama. Dan bukan yang terakhir. Karena selama orang diam, aku akan tetap hidup.
Aku suka ketidaktahuan. Di kampung-kampung yang jarang ada tes, yang malu bicara soal seks, yang takut buka hasil lab, di sanalah aku tumbuh subur.
Obat antiretroviral bisa memperlambatku. Tapi tidak semua kampung punya akses. Tidak semua orang tahu caranya bertahan. Aku hanya tertidur jika kalian minum obat teratur. Tapi kalau kalian berhenti, aku bangkit lagi.
Aku diam, tapi kejam. Aku tidak bunuh kalian dalam sehari. Aku rusak tubuh kalian pelan-pelan, seperti rayap. Sampai Maimuna tinggal tulang, sampai Paimuna kehilangan suara.
Tapi aku bukan akhir. Jika kalian rajin minum obat, kalian bisa hidup normal. Bisa bekerja, mencintai, menyanyi di gereja. Tapi hanya jika kalian menerima bahwa aku ada, dan melawanku dengan pengetahuan.
Aku akan terus hidup jika kalian sebarkan stigma. Tapi aku bisa hilang jika kalian peduli. Jika kalian tes. Jika kalian jaga diri dan pasangan. Jika kalian berani bicara.
Aku bukan kutukan. Tapi stigma membuatku seperti momok. Aku virus, bukan aib.
Hari ini aku masih hidup. Tapi kalau kalian belajar seperti Maimuna dan Paimuna yang kini jadi kisah, mungkin besok aku hanya tinggal sejarah.
Dan jika suatu hari kalian semua bisa bicara tanpa takut, memeluk mereka yang terinfeksi, dan mencegah dengan cinta dan ilmu, maka aku akan hilang. Bukan karena dibunuh, tapi karena kalian tak beri aku ruang lagi.