Karya: Gusanncladote
Setiap menjelang fajar, ketika malam masih memeluk langit dan mentari belum merekah di ufuk timur Tanah Papua, dua ekor burung selalu hadir di dahan pohon depan kamar ini. Mereka bernyanyi dan menari, seolah menyambut pagi dengan pesan dari gunung-gunung jauh hingga ke pinggir Pantai Teluk Cenderawasih yang permai.
Selama lebih dari sepuluh tahun saya tinggal dan melayani di Nabire, Papua Tengah, di tempat sunyi, TOR Jayanti, kedua sahabat kecil itu setia hadir. Saya menamai mereka Pudu dan Wiyai, nama yang berasal dari nama saya sendiri: Puduwiyai. Sebuah nama sakral yang diberikan oleh orang tua saya, suku Mee dari wilayah Meepago, melalui sebuah upacara adat penuh makna. Nama itu diberikan sebagai tanda tugas suci saya sebagai seorang imam.
Pudu dan Wiyai bukan sekadar burung, mereka adalah teman karib yang membawa kabar pagi dari semesta. Nyanyian mereka adalah doa, gerak tarinya adalah penyambutan hari baru. Tapi kini, lagu itu telah usai.
Saya harus berpindah tugas, menjalankan panggilan pelayanan yang dipercayakan Sang Pencipta. Saya akan kembali jika waktu memungkinkan. Tapi saya tahu, hari itu adalah hari perpisahan.
Di siang yang terik, di bawah pohon besar yang meneduhi tempat ini dan menjadi penghasil oksigen bagi sekitar, saya berbicara kepada mereka:
“Jika kalian hendak pergi, terbanglah ke hutan seberang. Namun jangan tinggal di situ terlalu lama. Terbanglah lebih jauh, dari satu gunung ke gunung lainnya, hingga ke belantara yang belum dijamah manusia.”
Keduanya mengepakkan sayap, tanda setuju. Mereka menari sejenak di dahan sebelah, seolah memberi hormat terakhir.
“Ingat,” lanjutku, “jangan sampai kalian ditangkap oleh tangan-tangan rakus. Jika hutan tempat kalian tinggal ditebang, jangan ragu pergi. Jauhkan diri dari manusia-manusia yang tak menghargai kehidupan, yang mengambil kekayaan alam secara serampangan, bahkan melakukan penembakan liar di hutan-hutan kalian.”
Kata-kata itu saya sampaikan penuh haru. Setelahnya, Pudu dan Wiyai mengepakkan sayap sekali lagi, lalu terbang tinggi mengelilingi tempat ini. Hingga akhirnya menghilang, entah ke mana.
besok paginya, mereka tak datang seperti biasa. Begitu pula lusa, dan hari-hari selanjutnya. Hening menggantikan nyanyian pagi. Saya tahu, itu adalah hari terakhir mereka di sini. Kepakan sayap itu adalah tanda perpisahan yang sesungguhnya.
Kalian berdua adalah sahabat sejati. Yang selalu menyambutku dengan nyanyian dan tarian pagi, menyampaikan pesan dari dunia kalian yang sunyi dan agung. Terima kasih, Pudu dan Wiyai. Semoga kalian menemukan hutan yang damai, jauh dari kebisingan dan kekacauan dunia manusia.