Karya: Gusanncladote
Hutan itu masih memegang erat sisa gelap ketika suara langkah-langkah berat mulai mengepung rumah kayu kecil di tengah belantara. Embun menggantung di pucuk-pucuk rumput, burung-burung belum sempat berkicau, dan matahari baru bersiap menembus malam yang mundur perlahan. Tetapi sebelum cahaya sempat menyapa daun-daun yang basah, suara itu datang: berat, teratur, dan menandakan bahaya.
Pagi yang mestinya lahir dengan lembut berubah menjadi pagi yang berwarna darah.
Rumah itu, berdiri di antara pepohonan besar seperti penjaga zaman, kini dikepung. Mereka menyebutnya drakula, bukan karena berkaitan dengan cerita Eropa, melainkan karena keganasan, dinginnya hati, dan kesenangan aneh yang mereka tunjukkan ketika melukai siapa pun. Bagi warga kampung-kampung yang sering dikejar, kata “drakula” berarti satu hal: musibah.
Tanpa aba-aba, pelatuk senjata ditarik. Rentetan peluru menghancurkan semak belukar, melubangi batang pohon, merobek udara pagi. Rumah kayu itu bergetar. Yosep, Mika, Simon, dan Yermia berlari dari pintu belakang, menembus dedaunan yang masih gelap. Namun Wayen, yang berada di dekat dinding selatan, tidak sempat ikut. Peluru menembus kakinya. Ia jatuh, meraba tanah, lalu melihat darah mengalir cepat, menjalar di bulu kakinya yang menghitam menjadi merah pekat.
Ia mencoba berdiri, namun lututnya patah oleh rasa sakit. Tubuhnya tidak lagi taat pada keinginan. Di dalam cahaya yang masih enggan menyentuh hutan itu, Wayen terkapar.
Beberapa drakula mendekatinya. Mereka tidak terburu-buru. Langkah mereka seperti orang yang sudah hafal betul apa yang akan dilakukan. Seseorang menghunus sangkur yang panjang dan tajam. Dengan gerakan cepat, perut Wayen diseret oleh logam mematikan itu. Tali perut terburai. Jatuh di tanah, bercampur dengan lumpur dan embun pagi.
Hutan terdiam. Sunyi seperti berhenti bernapas.
Wayen memegang sisi tubuhnya, tapi jari-jarinya licin oleh darah. Kayu akar besar yang tumbuh melintang menjadi semacam bantal baginya. Ia bersandar, bergetar, menelan udara dengan susah payah. Di antara kabut tipis, Wayen melihat isi perutnya sendiri menatap kembali ke arahnya. Untuk sesaat ia ingin memejamkan mata, tetapi rasa sakit membuatnya tetap sadar. Jeritan kecil pecah dari bibirnya—tersekat, namun menembus kesunyian rimba.
Para drakula mengitari tubuhnya. Sebagian tertawa, sebagian mengisi rokok, sebagian menatapnya dengan sinis.
“Kita pasti merdeka…” kata Wayen lirih, suara yang keluar lebih seperti embusan angin.
Seorang drakula mendekat, menunduk sambil mengejek, “Merdeka bagaimana? Kau saja tidak bisa berdiri.” Ia mengelilingi Wayen, memperlihatkan wajah bengis yang seolah menikmati penderitaan di hadapannya.
“Kita pasti merdeka,” ulang Wayen. Nafasnya terengah, tapi nadanya tegas—sebuah keyakinan yang tidak dapat dijatuhkan bahkan oleh sangkur.
“Korupsi uang saja tidak beres,” kata drakula lain, menoyor kepala Wayen dengan ujung senjatanya. “Jangan bicara merdeka.”
“Ingat,” ujar seorang lagi, menunjuk wajah Wayen. “Selama kami masih di sini, kalian tidak akan pernah merdeka.”
Langit mulai memerah. Mentari akhirnya muncul dari balik bukit, tetapi cahaya yang jatuh ke wajah Wayen tampak seperti kesedihan langit itu sendiri. Matahari seperti menyaksikan adegan yang seharusnya tidak terjadi pada siapa pun.
Wayen mengangkat tangan kirinya yang berlumur darah, menggapai udara seolah mencari pijakan terakhir. Lidahnya bergetar. “Merdeka… merdeka… merdeka…” katanya, seperti mantra yang diucapkan oleh seseorang yang tahu bahwa hidupnya tinggal hitungan menit.
Drakula-drakula itu tertawa. “Kau mau merdeka? Tidak akan pernah selama kami ada di sini,” kata salah satunya sebelum mereka berputar pergi, meninggalkan tubuh Wayen di tengah tanah yang perlahan mengering oleh cahaya pagi.
Perutnya masih terbuka. Tali perut yang terburai itu digenggamnya, seakan ingin memasukkannya kembali ke dalam tubuh. Tapi luka itu terlalu besar, terlalu dalam, terlalu kejam. Wayen mencoba bergerak. Merayap. Setiap sentuhan tanah pada lukanya membuat ia merintih seperti anak kecil yang ketakutan.
Namun ia terus melangkah. Beberapa meter. Lalu beberapa meter lagi.
Tiba-tiba, di antara suara ranting patah dan desah angin, terdengar sesuatu yang tidak berasal dari tanah: nyanyian. Kidung halus. Melodi yang tidak dilahirkan oleh mulut manusia. Cahaya putih mulai turun, perlahan, menyelimuti tubuh Wayen. Suara itu semakin dekat, dan Wayen mengangkat kepalanya untuk melihat.
Malaikat-malaikat datang menyambutnya.
Tanah di bawah tubuhnya seakan ikut berduka. Rumput-rumput seolah menunduk. Pepohonan bergeming seperti manusia yang kehilangan sahabat lama. Rimba menjadi saksi terakhir kepergian seorang penjaga kecil tanah ini.
Di sisi lain bukit, Yosep dan tiga temannya berhenti berlari. Nafas mereka tersengal, keringat bercampur dengan tanah. Ketika mereka sadar bahwa Wayen tidak bersama mereka, semuanya terdiam. Mereka tidak perlu melihat untuk tahu apa yang telah terjadi.
“Wayen… sudah meninggalkan kami,” bisik seseorang, dan kalimat itu pecah menjadi tangis yang panjang, dalam, dan pahit.
Beberapa hari kemudian, setelah proses pencarian dan bantuan warga kampung, tubuh Wayen dibawa pulang. Ia dimakamkan di tanah yang paling ia cintai, Serui. Pelabuhan menjadi saksi kedatangan peti kayunya. Tahun 2015 mencatat peristiwa itu dalam ingatan orang-orang yang mengenalnya, dan angin laut membawa kabar kepergiannya ke seluruh mereka yang pernah mendengar namanya.
Mungkin Indonesia tidak membacanya. Mungkin dunia tidak sempat menoleh.
Namun rimba telah melihat semuanya.
Dan rimba, seperti semua saksi yang jujur, tidak pernah lupa.