Oleh: Elias Awekidabi Gobay
Dari balik rumah seng yang rapuh, berdiri miring di antara tumpukan batu, terdengar suara tawa pelan anak-anak. Tawa itu bukan tawa lepas, melainkan tawa yang menyembunyikan lapar, lelah, dan ketidakpastian.
Di rumah kecil itu, Ibu Regina Mansi tinggal bersama empat anak dan lima cucu. Sebelas jiwa ini hidup dalam keterbatasan akut: tanpa penghasilan tetap, tanpa toilet, tanpa air bersih, tanpa listrik yang stabil, dan tanpa kepastian apakah hari esok mereka bisa makan.
Dua anaknya, meski sudah menamatkan Sekolah Dasar, terpaksa berhenti melanjutkan pendidikan karena ketiadaan biaya. Seorang anaknya lagi mengalami kecelakaan tiga tahun lalu hingga patah kaki. Sampai hari ini, ia belum pernah mendapat pengobatan medis, hanya berbaring di rumah, menahan sakit dalam diam. Ia luput dari perhatian pemerintah.
Tidak ada suara televisi di rumah itu, tidak ada cahaya lampu terang seperti rumah-rumah lain. Hanya ada dengung nyamuk, bunyi gesekan seng kala angin malam datang, dan sesekali suara perut yang lapar.
Sejak tahun 2016, saat sang suami meninggal dunia, Ibu Regina menjanda dan menjadi satu-satunya penopang keluarga. Empat anak dan lima cucunya menggantungkan hidup padanya. Tak ada yang memiliki pekerjaan tetap. Bahkan kebutuhan dasar air minum dan mandi, mereka harus membeli.
Anak-anak yang semestinya bermain dan belajar di sekolah kini justru belajar bertahan hidup. Cucu-cucu yang masih belia tumbuh dalam kekurangan, menjadi dewasa sebelum waktunya. Mereka mengerti rasanya tidur dengan perut kosong dan bangun pagi hanya untuk mencari tahu apakah hari ini akan ada makanan.
Rumah mereka berdiri kakuh di Jl. Argapura I Kamboja RT 002/RW 001, Kelurahan Argapura, Kecamatan Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua. Sebuah bangunan di atas batu, berdinding seng dan papan tua. Tak ada toilet, tak ada dapur yang layak. Air bersih tidak mengalir, listrik hanya mengandalkan sambungan dari rumah tetangga.
Ironisnya, lokasi ini berada di wilayah Kota Jayapura, wilayah yang mestinya menjadi wajah perkotaan. Namun, rumah ini seperti tak pernah benar-benar terlihat oleh para pengambil kebijakan. Seolah tidak ada di peta kepedulian.
Sejak sang suaminya meninggal, hidup keluarga ini berubah drastis. Kebutuhan tetap ada, tetapi penghasilan tiada. Sekolah anak-anak terputus satu demi satu. Cita-cita anak-anak dan cucu-cucunya pupus di jalan. Pada tahun 2022, salah satu anak mengalami patah kaki, namun pengobatan tak pernah dilakukan karena tidak ada biaya untuk ke rumah sakit.
Lebih dari delapan tahun, mereka hidup dalam bayang-bayang penderitaan dan pengabaian. Mereka ada, tetapi seperti tak dianggap ada.
Kemiskinan struktural, ketiadaan perlindungan sosial, dan minimnya akses terhadap fasilitas dasar membuat mereka terus terjebak dalam lingkaran yang sama.
Karena menjadi miskin di tanah sendiri kadang berarti harus diam dan menunggu-menunggu siapa yang sudi peduli.
“Kalau ada makanan, kami makan. Kalau tidak ada, ya tidak makan. Kami tunggu sampai besok cari makan,” ucap Ibu Regina dengan suara lemah.
Kehidupan mereka bergantung pada belas kasih tetangga. Air mandi dan cuci harus dibeli. Penerangan berasal dari sambungan listrik warga sekitar. Tidak ada dapur, tidak ada WC. Makanan dimasak dengan kayu, atau kadang tidak dimasak sama sekali. Seringkali, malam dilalui dengan perut kosong.
Namun, di tengah segala keterbatasan, mereka masih menyimpan harapan.
Harapan dari Ibu Regina Mansi dan Keluarga “Saya, Regina Mansi, bersama empat anak dan lima cucu, memohon kepada Pemerintah Kota Jayapura, tolong bantu kami. Kami butuh rumah layak, air bersih, WC, makanan, sekolah untuk anak-anak, dan pengobatan untuk anak saya yang sakit. Kami juga manusia. Kami juga warga Kota Jayapura.”
Penutup
Di tengah gemerlap lampu kota, ada satu rumah yang gelap.
Di tengah gedung-gedung megah dan jalan yang mulus, ada satu keluarga yang bahkan tidak memiliki toilet.
Di balik angka-angka statistik pembangunan, ada sebelas jiwa yang tak tercatat.
Kisah keluarga Ibu Regina Mansi bukan sekadar cerita sedih, ini adalah jeritan yang terlalu lama dibiarkan. Luka sosial ini tidak boleh terus diabaikan.
Sudah saatnya Pemerintah Kota Jayapura hadir, bukan sekadar dengan janji, tetapi dengan tindakan nyata. Bukan hanya melihat, tetapi menyentuh. Karena kemanusiaan bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang peduli.
Jayapura, Agustus 2025
Catatan:
Cerita ini diangkat dari kisah nyata kehidupan Ibu Regina Mansi bersama keluarga di Jl. Argapura I Kamboja, Kota Jayapura. Ditulis untuk menggugah kepedulian terhadap kondisi kemanusiaan yang kerap luput dari perhatian, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan kota masih ada warga yang berjuang dalam keterbatasan, menanti uluran tangan dan tindakan nyata.