Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

    Segera Hentikan Operasi Tambang Emas Ilegal di Kampung Mogodagi

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Bupati Paniai launching Kopdes Merah Putih, dorong ekonomi rakyat berbasis Desa

    Polisi Ditikam OTK di Dogiyai, Tiga Warga Sipil Dikabarkan Menjadi Korban Penembakan

    Dogiyai Gelar Musrenbang Otsus, Rancang Pembangunan 2027 Berpihak pada OAP

    IPPMMA-WUBWE Nabire rayakan HUT ke-31, Pengurus tegaskan persatuan dalam kasih Kristus

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    IPPM-NTD se-Jayapura gelar pelatihan dan simulasi mekanisme persidangan

    Bupati Dogiyai Keluarkan Intruksi, Larangan Miras Hukuman 10 Tahun Penjara

    Pemaksaan penurunan bendera KNPB di Sentani picu ketegangan

    DPT, Uang Permisi, Hak Ulayat Hambat Pembangunan Dogiyai

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

    Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Polisi Ditikam OTK di Dogiyai, Tiga Warga Sipil Dikabarkan Menjadi Korban Penembakan

    Koalisi HAM Papua desak Presiden perintahkan Aparat hentikan dugaan penangkapan sewenang-wenang di Tambrauw

    Bupati Dogiyai Keluarkan Intruksi, Larangan Miras Hukuman 10 Tahun Penjara

    Koalisi HAM Papua desak Presiden perintahkan Aparat tangkap pelaku teror terhadap Andrie Yunus

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Biro HAM Klasis Debei Sesalkan Penghadangan Tim Harmonisasi di Kapiraya, Polisi Dinilai Lalai

    DPR Papua Tengah Minta Semua Pihak Dukung Upaya Penyelesaian Konflik Horizontal di Kapiraya

    KNPB Yahukimo Nyatakan Sikap atas Situasi “Darurat Penangkapan Liar” di Dekai

    Polemik Pernyataan Uskup Agung Merauke, Suara Kaum Awam Katolik Papua Desak Dialog Terbuka

  • Kesehatan

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

    33 Tenaga Medis dari Kemenkes Tiba di Dogiyai, Siap Layani Masyarakat di 15 Puskesmas

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

  • Lingkungan

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

    Komunitas Porter Paniai gelar evaluasi efektivitas layanan transportasi publik

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    Penyuluh Papua Tengah bagikan bibit bawang merah unggul ke Kabupaten Deiyai

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Bupati Dogiyai Ajak Masyarakat Tangani Penyakit Sosial

    Deiyai dan Dogiyai Desak Mimika Berkolaborasi Tangani Konflik Horizontal di Kapiraya

    Pemda Paniai gelar kerja bakti bersihkan wajah kota Enarotali

    DLH Paniai aktifkan Bak sampah di Enarotali dan Madi, dukung program “Paniai bebas sampah 2026”

  • Pendidikan

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

    SMK Karel Gobai Bagikan Seragam Sekolah, Tanamkan Semangat Disiplin dan Motivasi Belajar

    Kisah Inspiratif: Ev. Dr. Yefri Edowai Raih S3 Lewat Perjuangan Mandiri

    Sekolah Dasar di Paniai Gelar MBG untuk Siswa

    BEM STAK Nabire Gelar Seminar Nasional dan Pelatihan Jurnalistik, Wakil Ketua III Resmi Membuka Kegiatan

    SD YPPK Santo Yohanes Terima Fasilitas Pembelajaran, Target Hentikan Nyontek dan Tingkatkan Kreativitas

    Komunitas Literasi Dogiyai Dorong Literasi Siswa SD, Sebut Orang Papua Bukan Bodoh

    MUSPASMEE VIII : STK Touye Paapaa tegaskan Pendidikan penentu masa depan generasi muda Papua

    IPPMMA WUBWE Nabire Gelar Musyawarah Besar Ke-VII, Anastasia Agapa Jadi Ketua Baru

  • Religi

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

    Natal Penuh Damai di Pos PI Maranatha: Jemaat Rayakan Kelahiran Yesus Raja Damai

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Tanah Papua Bagaikan Ekaristi

Sebuah Tinjauan dari Teologis, dan Spritualitas

by Redaksi
2 Agustus 2024
in Artikel Opini
0
SHARES
160
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Martinus Tenouye

OPINI – Salah satu nama yang diberikan kepada Ekaristi adalah misa kudus. kata sifat kudus ini sangat penting, sebab ekaristi adalah salah satu tugas pokok imam yakni tugas menguduskan. Ekaristi menguduskan; imam yang merayakan ekaristi adalah imam yang menguduskan dan sendiri dikuduskan.

Baca Juga: Mengapa Kenyataan Terasa Begitu Pahit? Hai Tanah Papua

Mengapa ekaristi adalah kudus? Karena ia menyelamatkan, mengutukan, menyempurnakan, menguatkan dan memberikan kekuatan ketika mengalami suatu penderitaan. Ekaristi membantu para imam dan umat Allah menjadi kudus, menjadi kuat dan menjadi utuh, penuh dan merasa dibebaskan dari kesesakkan dan penderitaan. Ekaristi juga adalah sumber kehidupan, sumber kekuatan, sumber nafas kehidupan yang adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sumber penyelamatan dan kekuatan.

Baca Juga: Demi SDM, Kakam Ikebo di Dogiyai ini Peruntukan Dana Desa Untuk Biaya Anak-anak Sekolah

Sama hal dengan Papua, tanah Papua adalah nafas kehidupan, sumber kehidupan, sumber kekuatan, tanah kudus dan tanah suci sama seperti ekaristi adalah kudus. Tanah Papua adalah mama, karena selalu memberikan kehidupan bagi semua orang. Tanah Papua memiliki alam kekayaan yang begitu besar, di dalamnya memiliki emas, batu tembaga, minyak dan lain-lain.

Baca Juga: Pemkab Dogiyai Gelar Musrenbang RPJPD Tahun 2025-2045

Papua itu simbol ekaristi. Mengapa dikatakan bahwa Papua itu simbol ekaristi? Karena Papua itu sesuatu, Papua itu diberkati, Papua itu tempat sakral, Papua itu tempat tabernakel. Tempat tabernakel adalah tempat untuk menimpan hosti kudus yang sudah diberkati. Tempat itu merupakan tempat sakral, tempat kudus, tempat tinggal Tuhan Yesus. Di dalamnya menimpan kekayaan rohani dan jasmani. Sama hal dengan tanah Papua. Tanah Papua adalah tanah yang diberkati, surga kecil jatuh ke bumi, tanah kudus, tanah suci, taman eden, dan tanah Papua itu tempat sakral. Tanah Papua itu menimpan kekayaan rohani dan jasmani.

Baca Juga: ULMWP Mengecam Sejumlah Aksi Penembakan di Papua

Yesus Kristus adalah tuan rumah ekaristi di tanah Papua. Karna itu tanah Papua itu sendiri merupakan tubuh dan darah Kristus yang mampu mengkurbangkan seluruh diriNya secara tidak sia-sia. Alam kekayaan yang dinikmati semuanya itu berasal dari tubuh dan darah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Sang pembebas, Sang Penelamat, Sang sumber kehidupan. Di dalam-Nya tersembunyi harta dan kekayaan rohani maupun jasmani. Kekayaan dalam bentuk jasmani adalah emas minyak dan lain sebagainya, sedangkan kekayaan dalam bentuk rohani adalah Tuhan Yesus itu sendiri.

Seluruh dunia memandang tanah Papua bagaikan seorang gadis cantik

Tanah Papua itu ada apa? Semua orang memang tanah Papua karena banyak harta dan kekayaannya ada di sana, sehingga banyak orang tak henti-hentinya datang ke Papua. Tanah Papua memiliki alam keindahan, ada hutan, ada gunung emas, ada laut, ada lembah, dan lain-lain. Semua orang ingin menikmtinya seluruh kekayaan itu. Dan saat ini juga semua negara merebut kekayaan tersebut, pertanyaan adalah apakah orang Papua sendiri menikmati kekayaan tersebut? Orang Papua sendiri tidak menikmati kekayaan itu! Yang menikmati kekayaan itu adalah bangsa Indonesia dan negara-negara asing lainnya.
Orang Papua adalah pemilik alam kekayaan dan orang Papua tidur, di atas emas dan kekayaannya tetapi, semuanya itu bukan orang Papua yang menikmati tetapi orang Indonesia dan orang-orang asing “negara asing” yang menikmati. Orang Papua adalah tuan rumah tetapi orang Papua menjadi penonton setia di atas tanahnya sendiri.

Baca Juga: ULMWP Mengecam Sejumlah Aksi Penembakan di Papua

Sebenarnya Orang Asli Papua (OAP) itu harus bahagia selalu sejahtera dalam setiap bidang. Namun orang Papua sungguh menderita. Sejak tahun 60 sampai sekarang tidak berhenti-berhenti mengalami krisis kemanusiaan di tanah Papua. Banyak orang yang mati karena ditembak, diperkosa, disiksa, dipenjara. Banyak jiwa yang korban, manusia-manusia yang tidak berdosa,yang tidak bersalah, mereka adalah manusia murni. Bangsa Indonesia membunuh mereka dengan menggunakan alat negara yakni senjata. TNI/POLRI membunuh OAP seperti hewan peliharaan, dalam diri mereka tidak ada rasa kemanusiaan, dalam diri mereka tidak ada nilai-nilai kemanusiaan sehingga terjadi pembunuh seperti itu.

Baca Juga: Yohanes Gobai: Pemilik Hak Ulayat Suku Mee Mulai Dari Bobaigo Sampai Kolaitaga Bibida

Lihat dari dari realita, semua kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia tidak berjalan berdasarkan sesuai kelima Pancasila. Dalam sila kedua menyatakan bahwa manusia diakui sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha esa, yang sama derajat, yang sama hak dan kawajiban-kawajiban asasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan dan lain sebagainya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Yang terjadi dalam negera Indonesia itu banyak kejahatan; seperti terjadi pembunuhan di mana-mana, diskriminasi di mana-mana. Kita bisa katakana bahwa negara seperti ini belum merdeka secara penuh, itu bukan negara tetapi negara bonega “negara miskin” tidak punya nilai kemanusiaan.

Pancasila “sila kedua” kemanusiaan yang adil dan beradab

Dalam Tap. No. II/MPR/1978, dengan keyakinan akan kebenaran Pancasila, manusia ditempat pada keluhuran harkat dan mertabatnya sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha esa, dengan keasadaran untuk mengembangkan kodratnya sebagai mahkluk pribadi dan sekaligus mahkluk sosial. Kita lihat dari realita dalam nagara ini sebenarnya secara penuh negara tidak jalankan hukum-hukum yang ditetapkan dalam negara tersebut. Filosofi Pancasila ‘sila kedua’ dalam kemanusia yang adil dan beradab dinyatakan bahwa, sila kemanusiaan yang adil dan beradab, manusia harus diakui diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha esa. Tetapi yang terjadi dalam dalam negara itu, adalah negara tidak hargai nilai kemanusiaan, tidak hagar Pancasila sebagai dasar negara. Yang terjadi dalam negara ini adalah terjadi pembunuhan di mana-mana, tidak hargai tanah dan kekayaan orang lain tanpa diizin pemiliki tanah dan kekayaan pemerintah Indonesia mencuri dan marampok dan membunuh banyak jiwa manusia Papua. Membunuh manusia Papua yang belum apa-apa, tidak punya salah dan dosa.

Baca Juga: Pj Gubernur PPT Diminta Segera Fasilitasi Masalah Tapal Batas dan Perusahaan Ilegal di Wakiya

Negara Indonesia tidak menghargai nilai kemanusia dan juga tidak menghargai hukumnya. Mengapa dikatakan bahwa negara Indonesia tidak menghargai nilai kemanusiaan? Karena mereka melanggar nilai kemanusiaan, negara Indonesia melihat manusia itu sebagai binatang dan lansung dengan gunakan alat negara, selain itu negara tidak dihormati hak dan martabatnya. Pemimpin negara maupun TNI/POLRI harus bedakan antara manusia dan hewan, keduanya diciptakan oleh Tuhan namun perannya berbeda-beda. Manusia itu khusus dari Tuhan. Tuhan menciptakan manusia supaya manusia dapat marawat dan menjaga alam penciptaan termasuk hewan. Jadi pemerintah anda harus tau bahwa manusia itu bukan hewan.

Baca Juga: MYD Digelar 3 Hari sebagai Tindak Lanjut KYD

Manusia itu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang dianugerai budi dan karsa merdeka, dihargai, dihormati sesuai dengan martabatnya. Manusia adalah mahkluk rohani sekaligus mahkluk jasmani, dan juga mahkluk sosial. Istilah ini pernah digunakan oleh prof Notonagoro; Setiap manusia diharapkan mendapat apa yang menjadi haknya. Jadi manusia itu harus jaga hak dan martabatnya, karena manusia itu khusus dan citra Allah, bahwa manusia itu segambar dengan Allah, tetapi tidak sama dengan Allah.

Orang Asli Papua (OAP) juga ingin bahagia

Baca Juga:

Kantor KNPB Pusat Dijatuhkan Bom, Sebelumnya Pernah Diincar Upaya Pembakaran

Wakil Bupati Dogiyai Tegaskan Komitmen Perkuat Ekonomi Masyarakat Asli Papua

DPR Papua Tengah Minta Semua Pihak Dukung Upaya Penyelesaian Konflik Horizontal di Kapiraya

Kapolda Papua Tengah Minta Perusahaan Penambang Emas Ilegal di Kapiraya Segera Keluar

Masih adakah orang baik di dunia ini? Masih adakah tindakan murni demi cinta pada sesame tanpa memperhitungkan kepentingan diri? Apa untungnya berbuat kebaikan pada orang yang kita pastikan bahwa banyak orang menderita, sakit, tidak bahagia dan tidak mampu menjamin kehidupannya. Pengorbanan tanpa pamrih telah menjadi barang mahal yang sulit dijumpai. Tetapi sikap seperti itulah yang dibuat Yesus.

Baca Juga: AWP: Penghentian Penyidikan Teror Bom terhadap Victor Mambor Tidak Sah dan Cacat Hukum

“Yang kamu lakukan terhadap saudara-Ku yang paling kecil, kamu lakukan untuk aku; yang tidak lakukan untuk mereka, tidak kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25: 31-46). Itulah prioritas perutusan Yesus, yaitu orang kecil, orang tersingkir, orang yang lemah, orang yang tidak akan mampu memberi imbalan apabila menjadi pilihan untuk ditolong.

Baca Juga: Dinas Perikanan Paniai Salurkan Bantuan Paket Lengkap Budidaya Ikan

Demikan pula ketika Yesus dan murid bersama orang banyak dalam situasi sulit; lapar, hari telah malam, jauh dari perkampungan. Maka secara spontan para menyuruh Yesus supaya mereka mencari makan; sikap seperti itulah yang ditegur oleh Yesus;

“Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Surulah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanana di desa-desa” Dan sikap seperti itulah yang ditegur oleh Yesus.. “…kamu harus memberi mereka makan……” (Mat 14:13-21).

Tanah Papua sejak tahun 60 sampai sekarang tak henti-hentinya selalu mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Ke tahun-tahun belum pernah merasakan namanya kebahagiaan dan kedamaian. OAP pergi melaut di sana ketemu dengan suara penembakkan senjata, OAP pergi ke kebun di sana ketemu dengan suara penembakkan senjata, OAP pergi berburuh ke hutan di sana ketemu dengan suara penembakkan senjata, OAP pergi menjual jualan dipasar di sana ketemu kejadian pembunuhan, OAP pergi ke mana saja di sana ketemu dengan alat negara yakni senjata. Orang Asli Papua (OAP) tidak damai tidak aman dalam seluruh aspek.

Tuhan Yesus datang ke bumi itu untuk mau selamatkan bagi yang menderita, perhatikan orang miskin dan janda dan sembuhkan orang sakit dll. Teladan Tuhan Yesus ini sebenarnya mau mengajar kita khusus “para imam, calon imam, orang beriman” semua terlibat ambil bagian untuk menyampaikan kebenaran kepada pihak-pihak yang bertikai, agar supaya mereka sadar. Sebagai pengikut Tuhan Yesus, semua harus menjadi pembicara kebenaran dan pendoa bagi bagi mereka yang menderita.

Baca Juga: Dua Minggu Hujan Deras Hantam Rumah dan Kebun Milik Warga di Paniai, Bantuan Belum juga Turun!

Teladang Tuhan Yesus sudah tunjukkan kepada pastor /imam/calon imam, pendeta dan semua orang beriman di tanah Papua. Pentingya bekerja sama baik itu siap saja demi kemanusiaan di Papua. Menjadi motivasi utama adalah tokoh agama yakni pastor dan pendeta. Pastor orang asli papua maupun pastor orang pendatang mereka harus menjadi orang pertama untuk berbicara tentang realita di Papua. Jangan tutup mata dan jangan tutup telinga. Ada mata tetapi seolah-olah tidak memiliki mata ada telinga tetapi seolah-olah tidak memiliki telinga. Kalau kita tidak berbicara tentang realita Papua, siapa yang akan menyuarakannya.

Baca Juga: Dewan Pers: Asosiasi Wartawan Papua Harus Tetap Eksis

Sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, mari kita bangkitkan Papua sebagai sebuah Ekaristi. Jaga manusia Papua, jaga alam Papua, jaga hutan Papua, jaga laut, dan jaga martabat manusia Papua. Tidak adil kalau kita sendiri bahagia dan orang lain menangis dan menderita di depan mata kita. Mari kita tetap nyalakan ekaristi sebagai kekuatan. Kalau kita berbicara tentang realita Papua berarti kita lagi sedang aktifkan ekaristi di tanah Papua. Ekaristi sebagai kekuatan utama yang bersumber pada Tuhan Yesus Kristus yang di dalam Dia ada kekuatan dan penyelamatan.

Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Jayapura-Papua.

Sumber:
Nouwen Henrii.M, Diambil Diberkati Dipecah Dibagikan, (Kanisius: Obor, 2009)
Mali Mateus Perjumpaan Pancasila dan kristianitas (Yogyakarta: Lamalera, 2009)
Kesuma Tunjung Kesuma Pr, Imam Jantung Hati Yesus, (Obor: Kanisius, 2009)

 

Post Views: 2,358
Tags: EkaristiMartinus TenouyePapuaTanah Papua
Previous Post

Mengapa Kenyataan Terasa Begitu Pahit? Hai Tanah Papua

Next Post

Banjir dan Longsor di Distrik Kamuu Menelan 4 Korban Jiwa

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

2 minggu ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

3 minggu ago
Artikel Opini

Manusia Mee Bukan Binatang

4 minggu ago
Artikel Opini

Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

1 bulan ago
Artikel Opini

Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

1 bulan ago
Artikel Opini

Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

1 bulan ago
Next Post

Banjir dan Longsor di Distrik Kamuu Menelan 4 Korban Jiwa

Please login to join discussion

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved