Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Koalisi HAM Papua Kecam Pembatasan Bantuan Hukum bagi Warga Adat Malind di Merauke

    Tolak Eksploitasi: Mahasiswa Paniai Desak Cabut DOB dan Tambang 

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    BEM UNIPA kecam pernyataan Ketua KNPI Papua Tengah terkait pembungkaman kebebasan berpendapat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

    LBH Papua Desak Komnas HAM Tetapkan Dogiyai Berdarah Sebagai Dugaan Pelanggaran HAM Berat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

    Pemutaran film Pesta Babi di Universitas Mataram dibubarkan, Mahasiswa lanjutkan Nobar di luar Kampus 

    Diskusi dan Peluncuran Buku “Tragedi Dogiyai Berdarah” Digelar di Nabire

  • Kesehatan

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

  • Lingkungan

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    HP-SP Paniai Gelar Diskusi Panel Kenakalan Remaja, Despia Yeimo Ajak Pelajar Bangun Masa Depan

    HP-SP Paniai Bentuk Panitia Musyawarah dan Seminar, Dorong Penguatan Literasi Generasi Muda

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

    Kelompok Tani Anak Muda Maju, DPW Tani Merdeka Papua Tengah tanam padi di Wanggar

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

  • Pendidikan

    IPPM-NTD Jayapura gelar Lapak Baca dan diskusi, demi tingkatkan budaya kritis Mahasiswa

    26 Siswa TK GKI Zaitun Enarotali Resmi Tamatkan, Kepala Bidang TK-PAUD Apresiasi Dedikasi Guru dan Orang Tua

    TK Negeri Bogodide Gelar Wisuda Angkatan III, 9 Siswa Resmi Diwisudakan 

    BEM FISIP UNCEN Soroti Penutupan Jalur Mandiri Kedokteran Tahun 2026

    SMK Karel Gobai umumkan kelulusan 100 persen, Kepala Sekolah: hasil perjuangan tiga tahun

    SMK Karel Gobai gelar ibadah pelepasan 95 siswa, tekankan peran tiga pilar penentu masa depan

    Melkias Yeimo gelar ibadah syukur atas raih Sarjana Teknik di Nabire

    Atas nama Bupati, Kadinsos Paniai resmikan TK-PAUD YPK Betlehem Madi, Pemerintah tekankan pentingnya pendidikan usia dini

    IPM-IDAKI Nabire Resmi Terbentuk, Paulus Deba Pimpin Organisasi Pelajar Idadagi Kigamani

  • Religi

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Mengapa Kenyataan Terasa Begitu Pahit? Hai Tanah Papua

(refleksi atas a call to revive the holiness of Papua)

by Redaksi
31 Juli 2024
in Artikel Opini
0
SHARES
174
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Martinus Tenouye

OPINI – Ada baiknya, kita menyikapi hal tersebut dengan melakukan evaluasi diri. Pentingnya perenungan bahwa melakukan kejahatan adalah tidak baik. Hal yang tidak baik mengingatkan kita pada kekurangan yang harus diperbaiki dan rekonsiliasi diri. Bisa jadi, kenyataan yang tidak sesuai keinginan karena kita salah dalam menyerapkan rencana atau gagal dalam melaksanakan trategi memcapai tujuan. Maka yang pentinnya adalah kita musti menyemukan trategis untuk melawan kejahatan.

Baca Juga: Pemkab Dogiyai Gelar Musrenbang RPJPD Tahun 2025-2045

Kita bisa belajar dari orang-orang yang berani melawan kejahatan tanpa kekerasan. Nelson Mandela adalah seorang murid dari Mahatma Gandhi yang sangat berpengaruh kuat dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Bersama gurunya yakni Mahatma Gandhi mengunakan kekuatan Aihmsa untuk melawan berbagai kejahatan di India. Mereka terinspirasi oleh kekuatan aihmsa atau puasa kekerasan dalam menuntut persamaan hak dan penghapusan tindakan kejahatan seperti diskriminasi dan lain sebagainya, oleh kulit putih terhadap masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan.

Baca Juga: Demi SDM, Kakam Ikebo di Dogiyai ini Peruntukan Dana Desa Untuk Biaya Anak-anak Sekolah

Jika ajaran Mahatma Gandhi diikuti, maka kejahatan dapat terhindarkan. Apabila banyak pihak mengikuti gerakan ahimsa (pantang kekerasan, maka korban kemanusiaan tidak akan terjadi. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kejahatan dan bibit-bibit permusuhan yang baru. Karna itu, dalam hal ini Gandhi mengajarkan pada setiap pihak tentang pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran. semua bentuk perjuangan harus berada di jalan yang benar dan bermoral.

Baca Juga: ULMWP Mengecam Sejumlah Aksi Penembakan di Papua

Pemerintah Indonesia dan bangsa Papua, khususnya bangsa Papua sejak tahun 1961 sampai dengan tahun 2024 hidup dalam sebuah goa yang gelap. Artinya, hidup dalam penderitaan, penindasan, pemerkosaan, pembunuhan, penembakkan dan kejahatan-kejahatan lainnya. Kalau kita melihat dari situasi seperti sekarang ini, kita tidak tahu kapan akan berakhir kejahatan-kejahatan itu. Karna kenyataan bahwa di dunia sekarang ini semua pihak selalu saja tutup mata untuk melihat kebenaran yang terjadi di atas tanah Papua. Sejarah pun selalu dibungkan oleh pihak-pihak tertentu. Kapan datang keadilan untuk buka mata agar melihat kebenaran yang sebenarnya.

Baca Juga: Hari Ke-5 KYD, Menggali Potensi Orang Muda Katolik melalui Lomba Outdoor

Saya ingin tegaskan kepada pihak pemerintah dan pihak agama. Pentinnya kerja sama dalam hal melunaskan krisis kemanusiaan di tanah Papua. Jangan lakukan seperti benda yang tidak punya mata, ada mata tetapi seolah-olah tidak memiliki mata, ada telingah tetapi seolah-oleh tidak memiliki telingah. Hai, pihak agama bukalah matamu untuk melihat realitas yang terjadi di depan mata anda. Ini khusus para pastor dan para imam di tanah Papua, baik ramput kritin maupun rambut Panjang, bukalah matamu, dan bersuaralah tentang kebenaran dan keadilan di atas tanah Papua, sampaikanlah kesaksianmu, kepada banyak orang. Kesaksian yang utama dan terutama adalah menampaikan kesaksian tentang kebenaran, kepada semua pihak, menyampaikan hal itu bukan hanya pihak pemerintah Indonesia saja tetapi juga bangsa Papua.

Baca Juga: AWP: Penghentian Penyidikan Teror Bom terhadap Victor Mambor Tidak Sah dan Cacat Hukum

Rahmat khusus yang diterima pada saat pentahibisan imamat adalah kekuatan paling hampu (kekuatan Tuhan). Tentu kalau seorang imam ia hendak bersuara tentang realitas di atas tanah Papua pasti Tuhan akan berikan Rahmat yang lebih besar lagi. Kita tahu bahwa kita seorang imam ini sudah memiliki Rahmat khusus. Jika kita bertanya, Tuhan berikan Rahmat khusus bagi para imam, lalu Rahmat itu untuk apa? Apakah mendapatkan Rahmat supaya orang dipuji dan dihormati, apakah mendapatkan Rahmat khusus supaya gampang mendapat makanan yang enak dan ingin memiliki kekayaan-kekayaan tertentu?

Rahmat khusus berarti suci, kudus, luhur, murni dll. Tuhan berikan Rahmat kepada semua orang khusus para imam dan para calon imam supaya mereka betul-betul mewartakan kesaksian Yesus. Memanggil mereka dalam panggilan khusus supaya mereka tetap berada pada yang benar. Artinya bahwa mereka berani menjadi seorang imam, seorang pemimpin yang kokoh dan kuat. Sebenarnya menjadi seorang pemimpin “pastor” itu tidak muda. Oleh karena itu, ia harus tahu tugas dan tanggunjawabnya. Tugas dan tanggun jawab adalah hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan berarti menjaga Rahmat khusus tersebut dan melakukan hal-hal baik dalam hidupnya.

Baca Juga: KPU Paniai Gelar Tes Tertulis CAT Bagi Calon PPD

Sebenarnya seorang pemimpin “pastor” sebagai identitasnya dia adalah orang umum. Dia hidup ditengah kedua pihak. Sementara ia hidup ditengah-tengah kedua pihak, sebagai pemimpin “pastor” dia harus tahu tugas dan tanggun jawabanya. Contoh; pemerintah Indonesia dan bangsa Papua. Kedua pihak tersebut yang paling banyak korban nyawa manusia ialah orang Papua, mati banyak banyak, karna ditembak, disiksa, diperkosa, dipenjarah dan lain-lain. Peristiwa ini benar-benar apa yang terjadi di depan mata semua orang? Oleh sebab itu, para pastor maupun pihak-pihak lain yang berjuang demi kemanusiaan di tanah Papua, semua pihak berhak untuk berbicara hal ini. Pendeta, pewarta, maupun pastor, berbicara tentang kasih di depan altar, ia juga harus bicara tentang realitas yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Tuhan Yesus disalibkan, disiksa oleh karena menuarakan kebenaran bukan karna hal-hal lainnya.Tuhan Yesus membela kebenaran, perhatikan yang menderita, membantu orang miskin dan menyelamatkan yang dianiaya serta perhatikan orang janda. Pendeta, pewarta dan pastor adalah pengikut Yesus Kristus. Pertanyaan adalah apakah mereka menuarakan kebenaran seperti Yesus Kristus? Dan apakah mereka berkorban demi banyak orang, dan perhatikan yang menderita,dianiya,dipenjara dll? apakah mereka percaya akan panggilan dan umat-umatnya, atau pura-pura tuli. Selalu dengar kelu-kesa dari umat tetapi pura-pura tuli dan diam begitu saja. Apakah hal seperti ini Tuhan Yesus sendiri yang mengajar mereka sehingga takut untuk bersuara dan bersaksi atas kebenaran?

Baca Juga: Didimus Tebai: Generasi Muda Harus Berani Menjadi Pahlawan

Dibawah ini bagaimana Mahatma Gandhi mengandalkan Tuhan dalam perjuangan bangsa India. Dan menggunakan kekuatan aihmsa (puasa kekerasan). Gandhi mengajarkan pada semua pihak tentang pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran. semua bentuk perjuangan harus berada di jalan yang benar dan bermoral. Gandhi mendapatkan kekuatan besar dalam perjuangannya, karena ia melakukan puasa demi keluar dari kekerasan. Selain puasa itu Gandhi juga sangat mencintai negerinya sendiri. ketika memperjuangkan suatu bangsa itu Gandhi mengatakan seperti berikut:

Jika kita percaya kepada Tuhan, tidak hanya dengan kepandaian kita, tetapi dengan seluruh diri kita maka kita akan mencintai seluruh umat manusia tanpa membedakan ras atau kelas, bangsa atau pun agama. kita akan bekerja untuk kesatuan umat manusia. “Semua kegiatan saya bersumber pada cinta kasih saya yang kekal kepada umat manusia. Saya tidak mengenai perbedaan antara kaum keluarga dan orang luar, orang sebangsa dan orang asing, berkulit putih atau berwarna, orang Hindu atau orang India beragama lain, orang Muslim, Parsi, Kristen, atau Yahudi. Saya dapat mengatakan bahwa jiwa saya tidak mampu membuat perbedaan-perbedaan semacam itu ” melalui suatu proses panjang melakukan disiplin keagamaan, saya telah berhenti membenci siapa pun juga selama lebih dari empat puluh tahun ini”. Semua anak manusia bersaudara dan janganlah hendaknya manusia yang satu merasa asing terhadap yang lain. Kebahagiaan semua manusia (sarvodaya) seharusnya menjadi tujuan kita. Tuhan merupakan daya pengikat yang menyatukan semua manusia. Memutuskan ikatan ini walaupun dengan musuh terbesar kita sekalipun berarti merobek-robek Tuhan itu sendiri. Rasa perikemanusiaan, masih terdapat pada orang yang paling jahat sekalipun.

Baca Juga: Kehancuran

Pandangan ini dengan sendirinya menyebabkan diterima paham pantang kekerasan sebagai cara yang paling baik untuk mengatasi segala persoalan nasional maupun internasional. Gandhi menegaskan bahwa ia bukanlah seorang tukang mimpi, tetapi sebaliknya seorang idealis praktis. Pantang kekerasan bukanlah dimaksudkan hanya untuk orang suci dan orang baik saja tetapi juga untuk orang biasa. “Pantang kekerasan adalah hukum bagi makhluk manusia. sedangkan kekerasan adalah hukum bagi orang yang kejam. Daya rohani terlena dalam diri manusia kejam itu dan ia tidak mengenai hukum lain selain kekuatan jasmani. martabat manusia menuntut ketaatan terhadap suatu hukum yang lebih tinggi, yaitu kekuatan rohani.
Upaya Gandhi untuk menegaskan pentingnya gerakan tanpa kekerasan di India itu menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Salah satu gerakannya disebut savodaya yang mencakup ahimsa, hartal, satyagraha dan swadesi. Pemikiran kemanusiaan yang dikembangkan Gandhi mengandung ajaran moral. Melalui pendekatan yang humanis, ia menegaskan bahwa perjuangan demi kemanusiaan seharusnya ditempuh dengan cara yang manusiawi pula. Upaya pembalaan terhadap kebenaran atau kemanusiaan yang dilakukan melalui perlawanan tanpa kekerasan pada dasarnya diharakan bukan untuk membuat lawan menderita. Siapa pun yang menjalankan prinsip tersebut dalam perjuangan harus senantiasa berupaya membalas setiap kejahatan yang diterimanya dengan kebaikan.

Semua tindakan manusia harus berdasar pada kejujuran dan kebenaran. Kejujuran mendorong kita untuk berani menyatakan sikap secara terbuka, terbebas dari segala kepalsuan dan ketidakbenaran. Kita harus berusaha menjunjung tinggi nilai kejujuran di setiap sisi kehidupan yang kita jalani. Memulai sagala sesuatu dengan jujur merupakan cara hebat untuk mengalahkan kejahatan. Prinsip ini perjuangkan supaya, kedua belah pihak itu tidak melakukan kekerasan, melainkan menemukan kebenaran. Dengan jujur, kedua pihak tersebut harus duduk bersama lalu menemukan solusi bersama agar ke depan tidak terjadi kekerasan lagi.

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “fajar timur” Jayapura-Papua.

Sumber:
Mali Mateus Perjumpaan Pancasila dan kristianitas (Yogyakarta: lamalera, 2009)
Age Lars-Johan Sama-Sama Happy (Jogya: PT Gramedia, 2023)
Wang Andri The Wisdom Of Confucius, (Jakarta: PT Gramedia,2012)

 

Post Views: 2,311

Baca Juga:

Tolak Eksploitasi: Mahasiswa Paniai Desak Cabut DOB dan Tambang 

Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

Kantor KNPB Pusat Dijatuhkan Bom, Sebelumnya Pernah Diincar Upaya Pembakaran

Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

Tags: Kenyataan terasa PahitTanah PapuaWest Papua
Previous Post

Demi SDM, Kakam Ikebo di Dogiyai ini Peruntukan Dana Desa Untuk Biaya Anak-anak Sekolah

Next Post

Tanah Papua Bagaikan Ekaristi

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

3 hari ago
Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

6 hari ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

2 bulan ago
Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

2 bulan ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

3 bulan ago
Artikel Opini

Manusia Mee Bukan Binatang

3 bulan ago
Next Post

Tanah Papua Bagaikan Ekaristi

Please login to join discussion

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved