Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

    Segera Hentikan Operasi Tambang Emas Ilegal di Kampung Mogodagi

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    TPNPB Bertanggung Jawab atas Penembakan Satu Aparat TNI di Nduga

    Alumni IMPT Manokwari Papua Tengah Lakukan Kesiapan Reuni Akbar di Nabire

    Demi Galang Dana Jelang Mubes, Turnamen Bola Voli IKAPPMMA Jayapura dan Nabire Sukses Digelar

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Ucapkan Selamat atas Anugerah Satyalancana Wira Karya kepada Don Muzakkir

    TPNPB Klaim Tembak Drone Militer di Dekai, Yahukimo

    Festival Media Se-Tanah Papua Siap Digelar 13–15 Januari 2026 di Nabire

    DPR Papua Tengah: Peradilan Adat Dinilai Kunci Perdamaian Konflik Sosial di Papua

    Jhon NR Gobai: Usulkan Pilkada Asimetris di Tanah Papua Dikembalikan ke DPRP/DPRK

    Ketua MRP Papua Tengah Tegaskan Konflik Kwamki Narama Kriminal Murni, Desak Aparat Bertindak Tegas

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

    Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

    Kapiraya Kritis! Rumah Dibakar, Warga Tewas, Aktivis HAM Ketuk Pintu Pemerintah

    Kapitalisasi Dunia Kesehatan: Pintu Masuk Pelanggaran HAM Berat di Papua

    Ketika Hukum Menjanjikan, Tapi Realitas Mengingkari: Otsus Papua di Antara Teks dan Hidup Sehari-hari

    Victor Yeimo: Evaluasi Kritis 63 tahun UNCEN: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Penjajahan

    Rambut Putih, Cahaya Tak Padam: Kesaksian Elias tentang Pastor Nato Gobay

    Sagu: Sumber Kehidupan dan Identitas Budaya Masyarakat Sentani

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    KNPB Konsulat Makassar Tegaskan: Kami bukan Separatis

    Hari HAM Sedunia 10 Desember 2025: Operasi Militer di Gearek Nduga Picu Pengungsian Warga Sipil

    Konflik Yahukimo Memanas, TPNPB Klaim Rumah Agen Intel DibakarKonflik Yahukimo Memanas, TPNPB Klaim Rumah Agen Intel Dibakar

    Kontak Tembak Senjata di Yahukimo, Satu Anggota TPNPB Luka, TPNPB Kalim Tiga Prajurit TNI Tewas

    TPNPB: 6 Helikopter Militer Lakukan Serangan Udara di Nduga, Warga Distrik Gearek Mengungsi ke Hutan

    Kontak Tembak Terjadi di Yahukimo, TPNPB Klaim Aparat Lakukan 98 Kali Serangan Bom

    HRD: Tepat Hari HAM Sedunia, Militer Indonesia Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Papua

    KNPB Yahukimo Nyatakan 13 Tuntutan Papua dalam “Fase Darurat HAM”, Serukan Investigasi Internasional

    KNPB Serukan Kapolres Dogiyai Hentikan Pengejaran dan Penembakan Warga Sipil

  • Kesehatan

    Dinas Kesehatan Paniai Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Massal di Distrik Bayabiru

    KPA Paniai Gelar Deklarasi dan Penandatanganan MOU Penanggulangan HIV/AIDS Bersama 24 Distrik dan 216 Desa

    Hari AIDS Sedunia, Dinkes dan KPA Paniai: Tegaskan Komitmen Lawan AIDS 

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS pada Temu Mudika Dekenat Paniai di Paroki Santo Yusuf Enagotali

    KNPI Paniai Gelar Rakerda, KPA Dorong Pemuda Jadi Garda Terdepan Cegah HIV/AIDS

    POHR: Kematian Ibu Hamil di Jayapura Akibat Bobroknya Pelayanan Kesehatan

    Emanuel Gobai: Kematian Irene Sokoy, Alarm Gagalnya Otsus di Sektor Kesehatan

    Kapitalisasi Dunia Kesehatan: Pintu Masuk Pelanggaran HAM Berat di Papua

    Dugaan Penyimpangan Obat di RSUD Nabire: Pasien Diarahkan ke Apotik Luar, Publik Protes

  • Lingkungan

    GPPMMA Aikai Gelar Aksi Bersihkan Sampah di Pelabuhan Aikai dan sekitarnya 

    Anggota DPR Papua Tengah Mendesak Pemerintah dan Aparat Hentikan Konflik di Timika

    Bupati Paniai Imbau Pelaku Usaha Tak Naikkan Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

    HRD: Tepat Hari HAM Sedunia, Militer Indonesia Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Papua

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Tiga Kepala Badan Baru dan Siapkan Program Kerja 2026

    DLH Dogiyai Gencar Distribusikan Tempat Sampah untuk Ciptakan Lingkungan Bersih

    Intelektual Deiyai Soroti Konflik di Kapiraya, Tuding Dalangnya Sekelompok Non OAP

    Kelompok Bintang Timur Tani Merdeka Nabire Berhasil Panen Jagung

  • Pendidikan

    Bupati Kab. Dogiyai Tekankan Pentingnya Noken, Regenerasi, dan Penguatan Pendidikan

    IPPM-DW HIMLEKS Rayakan Natal dan Dies Natalis di Sentani

    Pemkab Dogiyai Melalui Dikpora  Gelar Launching SSH di SD YPPK Goodide

    TK Negeri Bogodide Resmi Terakreditasi Tepat di Hari Guru Nasional

    Marten Yogi dan Marius Kayame Rayakan Syukuran Bersama Wisudawan USWIM dan Anggota DPRK Paniai

    IPMB Rayakan Wisuda Mikerla Iyai, S.T: Bukti Perjuangan Mengalahkan Tantangan

    Dari Rumah Pribadi ke Sekolah Negeri: Perjuangan Panjang TK Waikato Paapaa Aikai Akhirnya Berbuah Manis

    TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Gelar Kegiatan Parenting dan Pembagian Seragam untuk Peserta Didik

    Kemendikdasmen Resmi Buka Seleksi PPG Calon Guru 2025, Pendaftaran Dimulai 14 Oktober

  • Religi

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

    Natal Penuh Damai di Pos PI Maranatha: Jemaat Rayakan Kelahiran Yesus Raja Damai

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

    Gelar Dialog Terkait “Postingan Viral”, Dewan Pastoral Paroki Imakulata Moanemani Tegaskan Gereja Tidak Berafilias dengan Pihak Manapun

    Masalah dan Harapan OMK Dekenat Paniai Bahas: Iman, Ekonomi, dan Advokasi Sosial

    Kingmi Pos PI Inii Enaimo Merayakan Natal dan HUT Ke-XII: Yesus Menjadi Pusat Hidup Jemaat

    Mahasiswa Semester VII STAK Nabire Rayakan Natal di Pantai Tiba Lakukan: “Tuhan Survei Hati Setiap Orang”

    Sekolah Minggu Jemaat Firadelfia Sarera Rayakan Natal: “Yusuf Jangan Takut, Kelahiran Yesus Membawa Damai”

    Umat Katolik Amungme Gelar Rekonsiliasi Historis dan Rayakan 72 Tahun Misi Katolik di Amungsa

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Mengapa Kenyataan Terasa Begitu Pahit? Hai Tanah Papua

(refleksi atas a call to revive the holiness of Papua)

by Redaksi
31 Juli 2024
in Artikel Opini
0
SHARES
156
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Martinus Tenouye

OPINI – Ada baiknya, kita menyikapi hal tersebut dengan melakukan evaluasi diri. Pentingnya perenungan bahwa melakukan kejahatan adalah tidak baik. Hal yang tidak baik mengingatkan kita pada kekurangan yang harus diperbaiki dan rekonsiliasi diri. Bisa jadi, kenyataan yang tidak sesuai keinginan karena kita salah dalam menyerapkan rencana atau gagal dalam melaksanakan trategi memcapai tujuan. Maka yang pentinnya adalah kita musti menyemukan trategis untuk melawan kejahatan.

Baca Juga: Pemkab Dogiyai Gelar Musrenbang RPJPD Tahun 2025-2045

Kita bisa belajar dari orang-orang yang berani melawan kejahatan tanpa kekerasan. Nelson Mandela adalah seorang murid dari Mahatma Gandhi yang sangat berpengaruh kuat dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Bersama gurunya yakni Mahatma Gandhi mengunakan kekuatan Aihmsa untuk melawan berbagai kejahatan di India. Mereka terinspirasi oleh kekuatan aihmsa atau puasa kekerasan dalam menuntut persamaan hak dan penghapusan tindakan kejahatan seperti diskriminasi dan lain sebagainya, oleh kulit putih terhadap masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan.

Human & Safety

Baca Juga: Demi SDM, Kakam Ikebo di Dogiyai ini Peruntukan Dana Desa Untuk Biaya Anak-anak Sekolah

Jika ajaran Mahatma Gandhi diikuti, maka kejahatan dapat terhindarkan. Apabila banyak pihak mengikuti gerakan ahimsa (pantang kekerasan, maka korban kemanusiaan tidak akan terjadi. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kejahatan dan bibit-bibit permusuhan yang baru. Karna itu, dalam hal ini Gandhi mengajarkan pada setiap pihak tentang pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran. semua bentuk perjuangan harus berada di jalan yang benar dan bermoral.

Baca Juga: ULMWP Mengecam Sejumlah Aksi Penembakan di Papua

Pemerintah Indonesia dan bangsa Papua, khususnya bangsa Papua sejak tahun 1961 sampai dengan tahun 2024 hidup dalam sebuah goa yang gelap. Artinya, hidup dalam penderitaan, penindasan, pemerkosaan, pembunuhan, penembakkan dan kejahatan-kejahatan lainnya. Kalau kita melihat dari situasi seperti sekarang ini, kita tidak tahu kapan akan berakhir kejahatan-kejahatan itu. Karna kenyataan bahwa di dunia sekarang ini semua pihak selalu saja tutup mata untuk melihat kebenaran yang terjadi di atas tanah Papua. Sejarah pun selalu dibungkan oleh pihak-pihak tertentu. Kapan datang keadilan untuk buka mata agar melihat kebenaran yang sebenarnya.

Baca Juga: Hari Ke-5 KYD, Menggali Potensi Orang Muda Katolik melalui Lomba Outdoor

Saya ingin tegaskan kepada pihak pemerintah dan pihak agama. Pentinnya kerja sama dalam hal melunaskan krisis kemanusiaan di tanah Papua. Jangan lakukan seperti benda yang tidak punya mata, ada mata tetapi seolah-olah tidak memiliki mata, ada telingah tetapi seolah-oleh tidak memiliki telingah. Hai, pihak agama bukalah matamu untuk melihat realitas yang terjadi di depan mata anda. Ini khusus para pastor dan para imam di tanah Papua, baik ramput kritin maupun rambut Panjang, bukalah matamu, dan bersuaralah tentang kebenaran dan keadilan di atas tanah Papua, sampaikanlah kesaksianmu, kepada banyak orang. Kesaksian yang utama dan terutama adalah menampaikan kesaksian tentang kebenaran, kepada semua pihak, menyampaikan hal itu bukan hanya pihak pemerintah Indonesia saja tetapi juga bangsa Papua.

Baca Juga: AWP: Penghentian Penyidikan Teror Bom terhadap Victor Mambor Tidak Sah dan Cacat Hukum

Rahmat khusus yang diterima pada saat pentahibisan imamat adalah kekuatan paling hampu (kekuatan Tuhan). Tentu kalau seorang imam ia hendak bersuara tentang realitas di atas tanah Papua pasti Tuhan akan berikan Rahmat yang lebih besar lagi. Kita tahu bahwa kita seorang imam ini sudah memiliki Rahmat khusus. Jika kita bertanya, Tuhan berikan Rahmat khusus bagi para imam, lalu Rahmat itu untuk apa? Apakah mendapatkan Rahmat supaya orang dipuji dan dihormati, apakah mendapatkan Rahmat khusus supaya gampang mendapat makanan yang enak dan ingin memiliki kekayaan-kekayaan tertentu?

Rahmat khusus berarti suci, kudus, luhur, murni dll. Tuhan berikan Rahmat kepada semua orang khusus para imam dan para calon imam supaya mereka betul-betul mewartakan kesaksian Yesus. Memanggil mereka dalam panggilan khusus supaya mereka tetap berada pada yang benar. Artinya bahwa mereka berani menjadi seorang imam, seorang pemimpin yang kokoh dan kuat. Sebenarnya menjadi seorang pemimpin “pastor” itu tidak muda. Oleh karena itu, ia harus tahu tugas dan tanggunjawabnya. Tugas dan tanggun jawab adalah hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan berarti menjaga Rahmat khusus tersebut dan melakukan hal-hal baik dalam hidupnya.

Baca Juga: KPU Paniai Gelar Tes Tertulis CAT Bagi Calon PPD

Sebenarnya seorang pemimpin “pastor” sebagai identitasnya dia adalah orang umum. Dia hidup ditengah kedua pihak. Sementara ia hidup ditengah-tengah kedua pihak, sebagai pemimpin “pastor” dia harus tahu tugas dan tanggun jawabanya. Contoh; pemerintah Indonesia dan bangsa Papua. Kedua pihak tersebut yang paling banyak korban nyawa manusia ialah orang Papua, mati banyak banyak, karna ditembak, disiksa, diperkosa, dipenjarah dan lain-lain. Peristiwa ini benar-benar apa yang terjadi di depan mata semua orang? Oleh sebab itu, para pastor maupun pihak-pihak lain yang berjuang demi kemanusiaan di tanah Papua, semua pihak berhak untuk berbicara hal ini. Pendeta, pewarta, maupun pastor, berbicara tentang kasih di depan altar, ia juga harus bicara tentang realitas yang terjadi di tengah-tengah umatnya. Tuhan Yesus disalibkan, disiksa oleh karena menuarakan kebenaran bukan karna hal-hal lainnya.Tuhan Yesus membela kebenaran, perhatikan yang menderita, membantu orang miskin dan menyelamatkan yang dianiaya serta perhatikan orang janda. Pendeta, pewarta dan pastor adalah pengikut Yesus Kristus. Pertanyaan adalah apakah mereka menuarakan kebenaran seperti Yesus Kristus? Dan apakah mereka berkorban demi banyak orang, dan perhatikan yang menderita,dianiya,dipenjara dll? apakah mereka percaya akan panggilan dan umat-umatnya, atau pura-pura tuli. Selalu dengar kelu-kesa dari umat tetapi pura-pura tuli dan diam begitu saja. Apakah hal seperti ini Tuhan Yesus sendiri yang mengajar mereka sehingga takut untuk bersuara dan bersaksi atas kebenaran?

Baca Juga: Didimus Tebai: Generasi Muda Harus Berani Menjadi Pahlawan

Dibawah ini bagaimana Mahatma Gandhi mengandalkan Tuhan dalam perjuangan bangsa India. Dan menggunakan kekuatan aihmsa (puasa kekerasan). Gandhi mengajarkan pada semua pihak tentang pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran. semua bentuk perjuangan harus berada di jalan yang benar dan bermoral. Gandhi mendapatkan kekuatan besar dalam perjuangannya, karena ia melakukan puasa demi keluar dari kekerasan. Selain puasa itu Gandhi juga sangat mencintai negerinya sendiri. ketika memperjuangkan suatu bangsa itu Gandhi mengatakan seperti berikut:

Jika kita percaya kepada Tuhan, tidak hanya dengan kepandaian kita, tetapi dengan seluruh diri kita maka kita akan mencintai seluruh umat manusia tanpa membedakan ras atau kelas, bangsa atau pun agama. kita akan bekerja untuk kesatuan umat manusia. “Semua kegiatan saya bersumber pada cinta kasih saya yang kekal kepada umat manusia. Saya tidak mengenai perbedaan antara kaum keluarga dan orang luar, orang sebangsa dan orang asing, berkulit putih atau berwarna, orang Hindu atau orang India beragama lain, orang Muslim, Parsi, Kristen, atau Yahudi. Saya dapat mengatakan bahwa jiwa saya tidak mampu membuat perbedaan-perbedaan semacam itu ” melalui suatu proses panjang melakukan disiplin keagamaan, saya telah berhenti membenci siapa pun juga selama lebih dari empat puluh tahun ini”. Semua anak manusia bersaudara dan janganlah hendaknya manusia yang satu merasa asing terhadap yang lain. Kebahagiaan semua manusia (sarvodaya) seharusnya menjadi tujuan kita. Tuhan merupakan daya pengikat yang menyatukan semua manusia. Memutuskan ikatan ini walaupun dengan musuh terbesar kita sekalipun berarti merobek-robek Tuhan itu sendiri. Rasa perikemanusiaan, masih terdapat pada orang yang paling jahat sekalipun.

Baca Juga: Kehancuran

Pandangan ini dengan sendirinya menyebabkan diterima paham pantang kekerasan sebagai cara yang paling baik untuk mengatasi segala persoalan nasional maupun internasional. Gandhi menegaskan bahwa ia bukanlah seorang tukang mimpi, tetapi sebaliknya seorang idealis praktis. Pantang kekerasan bukanlah dimaksudkan hanya untuk orang suci dan orang baik saja tetapi juga untuk orang biasa. “Pantang kekerasan adalah hukum bagi makhluk manusia. sedangkan kekerasan adalah hukum bagi orang yang kejam. Daya rohani terlena dalam diri manusia kejam itu dan ia tidak mengenai hukum lain selain kekuatan jasmani. martabat manusia menuntut ketaatan terhadap suatu hukum yang lebih tinggi, yaitu kekuatan rohani.
Upaya Gandhi untuk menegaskan pentingnya gerakan tanpa kekerasan di India itu menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Salah satu gerakannya disebut savodaya yang mencakup ahimsa, hartal, satyagraha dan swadesi. Pemikiran kemanusiaan yang dikembangkan Gandhi mengandung ajaran moral. Melalui pendekatan yang humanis, ia menegaskan bahwa perjuangan demi kemanusiaan seharusnya ditempuh dengan cara yang manusiawi pula. Upaya pembalaan terhadap kebenaran atau kemanusiaan yang dilakukan melalui perlawanan tanpa kekerasan pada dasarnya diharakan bukan untuk membuat lawan menderita. Siapa pun yang menjalankan prinsip tersebut dalam perjuangan harus senantiasa berupaya membalas setiap kejahatan yang diterimanya dengan kebaikan.

Semua tindakan manusia harus berdasar pada kejujuran dan kebenaran. Kejujuran mendorong kita untuk berani menyatakan sikap secara terbuka, terbebas dari segala kepalsuan dan ketidakbenaran. Kita harus berusaha menjunjung tinggi nilai kejujuran di setiap sisi kehidupan yang kita jalani. Memulai sagala sesuatu dengan jujur merupakan cara hebat untuk mengalahkan kejahatan. Prinsip ini perjuangkan supaya, kedua belah pihak itu tidak melakukan kekerasan, melainkan menemukan kebenaran. Dengan jujur, kedua pihak tersebut harus duduk bersama lalu menemukan solusi bersama agar ke depan tidak terjadi kekerasan lagi.

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “fajar timur” Jayapura-Papua.

Sumber:
Mali Mateus Perjumpaan Pancasila dan kristianitas (Yogyakarta: lamalera, 2009)
Age Lars-Johan Sama-Sama Happy (Jogya: PT Gramedia, 2023)
Wang Andri The Wisdom Of Confucius, (Jakarta: PT Gramedia,2012)

 

Post Views: 2,177
Tags: Kenyataan terasa PahitTanah PapuaWest Papua
Previous Post

Demi SDM, Kakam Ikebo di Dogiyai ini Peruntukan Dana Desa Untuk Biaya Anak-anak Sekolah

Next Post

Tanah Papua Bagaikan Ekaristi

Redaksi

Redaksi

Next Post

Tanah Papua Bagaikan Ekaristi

Please login to join discussion

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2024 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2024 All rights reserved