MOWANEMANI, JELATANEWSPAPUA.COM – Rangkaian kegiatan Kamapi Youth Day [KYD] ke-5 berlangsung mulai 26 Juni hingga 1 Juli 2026 di Gereja Paroki St. Maria Imaculata, Moanemani, Kabupaten Dogiyai. Salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah tentang Pemberantasan Penyakit Sosial, dengan tujuan mengajak pemuda menjadi agen perubahan yang tangguh.
Diakon sekaligus Kepala Distrik Kamuu, Markus Auwe, mengajak seluruh orang muda Katolik [OMK] di wilayah Dekenat Kamuu, Mapia dan Piyaiye [KAMAPI] Keuskupan Timika untuk berani menghadapi berbagai tantangan nyata. Menurutnya, hal ini menjadi sarana mengokohkan iman, membangun karakter kuat, serta menghidupkan kembali warisan nilai budaya leluhur Suku Mee.
Di hadapan ratusan peserta, ia menegaskan bahwa kesulitan bukan sekadar hambatan, melainkan jalan yang dipakai Tuhan untuk membentuk keteguhan hati.
“Ada makna tersembunyi di balik setiap persoalan. Di tengah masalah itulah kita diuji kekuatan mental dan iman, supaya apa yang kita pegang menjadi keyakinan yang benar-benar teruji,” ujarnya saat sesi pada Minggu [28/06].
Ia pun melontarkan pertanyaan kepada seluruh peserta: “OMK, apakah kita siap menerima ujian iman ini?” Jawaban tegas serempak pun bergema: “Siap!” Jawaban itu menjadi bukti tekad tampil sebagai pengikut Kristus yang berkualitas, bukan pribadi yang lemah dan mudah goyah.
Di wilayah Dogiyai, berbagai penyakit sosial terlihat makin berkembang. Di antaranya peredaran dan pemakaian minuman keras, pencurian, pemalangan kendaraan, kebakaran dan pembakaran bangunan, perselisihan antarkelompok, kenakalan remaja, praktik jual beli tanah yang tidak teratur, tingginya angka putus sekolah, serta kecelakaan lalu lintas.
“Kita semua adalah saksi mata hidup dari apa yang terjadi di tanah ini,” tambah Diakon Auwe.
Menurutnya, akar utama masalah itu adalah melemahnya penghayatan terhadap nilai budaya. Masyarakat Suku Mee sesungguhnya memiliki ajaran luhur yang dititipkan sejak dahulu, namun seiring perkembangan zaman, nilai-nilai itu perlahan terlupakan.
“Tanpa fondasi budaya dan iman yang kuat, kita hanya sibuk mengatasi dampak masalah tanpa mampu mencegahnya sejak dini,” jelasnya.
Ia mengingatkan, kesiapan pemuda harus meliputi tiga hal: mental, moral, dan iman. Ketiganya tidak tumbuh sempurna tanpa melalui proses penempaan.
“Selama hidup, tantangan pasti ada. Salah satu pemicu konflik saat ini adalah maraknya berita bohong atau hoaks yang menyebar cepat lewat media sosial,” tegasnya.
Oleh karena itu, pemuda dituntut bersikap kritis.
“Sebelum menerima atau menyebarkan informasi, pastikan kebenaran dan dasarnya jelas. Hal ini penting agar tidak memperparah masalah sosial yang ada,” imbuhnya.
Melalui kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari ini, diharapkan OMK Dekenat KAMAPI tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku perubahan. Peserta diharapkan siap ditempa lewat pengalaman hidup, memelihara iman yang teruji, serta menghidupkan kembali warisan budaya demi kemajuan, persatuan, dan kedamaian di Kabupaten Dogiyai serta wilayah Papua pada umumnya.***
Editor: Yance Agapa