SENTANI, JELATANEWSPAPUA.COM — Badan Pengurus Komite Nasional Papua Barat (BPW KNPB) Wilayah Sentani menyerukan kepada masyarakat sipil di Tanah Papua untuk mempersiapkan diri menyambut Aksi Nasional 15 Agustus 2026 di Tanah Tabi.
Seruan tersebut disampaikan pada 11 Agustus 2026 oleh Ketua KNPB Wilayah Sentani, Sadracks Lagowan. Dalam himbauannya, KNPB Sentani mengajak masyarakat untuk merapatkan barisan dan menyampaikan aspirasi secara damai dan bermartabat.
“Tanggal 15 Agustus nanti adalah panggung politik bagi rakyat Tabi dan seluruh masyarakat Papua untuk bersuara,” kata Sadracks Lagowan.
Menurut Lagowan, aksi tersebut mengangkat tema “Papua, Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan” dan disebut sebagai kelanjutan dari aksi yang berlangsung pada 3 Agustus 2026.
“Kami mengajak seluruh komponen masyarakat sipil, baik orang asli Papua maupun non-OAP, serta seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama memperhatikan persoalan kemanusiaan di Tanah Papua,” ujarnya.
Ia mengatakan masyarakat yang hendak mengikuti aksi diminta mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk menyampaikan aspirasi, termasuk pamflet dan perlengkapan budaya tradisional dari berbagai suku di Papua.
“Budaya adalah identitas rakyat Papua. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk menampilkan berbagai alat dan simbol budaya dalam menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan,” kata Lagowan.
KNPB Sentani juga menyerukan masyarakat adat Tabi dan wilayah Mamta agar melakukan konsolidasi serta berpartisipasi dalam aksi yang direncanakan berlangsung di sejumlah titik di Sentani dan Jayapura.
“Rakyat Tabi harus mengambil bagian dalam menyampaikan suara mereka. Ini bukan hanya persoalan satu kelompok, tetapi menyangkut masa depan demokrasi dan kemanusiaan,” ujarnya.
Selain aksi jalanan, Lagowan menyebut akan disiapkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan dan aspirasi melalui panggung politik.
“Panggung politik ini kami maksudkan sebagai ruang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka,” katanya.
Dalam seruannya, KNPB Sentani juga menyinggung sejumlah persoalan yang menurut mereka membutuhkan perhatian serius, termasuk isu pengungsian akibat konflik, persoalan hak asasi manusia, serta polemik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Terkait angka yang disebut dalam pernyataan mengenai kasus keracunan makanan dan jumlah pengungsi, KNPB Sentani meminta pemerintah memberikan perhatian serius dan membuka informasi secara transparan kepada masyarakat.
“Persoalan kemanusiaan harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah harus mendengar suara masyarakat dan memberikan solusi terhadap persoalan yang terjadi di lapangan,” ujar Lagowan.
Ia menegaskan bahwa aksi 15 Agustus tersebut harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dengan tertib dan damai.
“Kita rakyat Papua harus bersatu tanpa membedakan suku, agama dan ras demi masa depan demokrasi dan kemanusiaan di tanah kita tercinta,” katanya.
KNPB Sentani juga menyerukan kepada masyarakat agar menjaga ketertiban selama menyampaikan aspirasi serta menghormati hak masyarakat lainnya.
Menurut Lagowan, perhatian terhadap hak asasi manusia dan kondisi kemanusiaan di Papua tidak boleh berhenti pada momentum demonstrasi, tetapi harus dilanjutkan melalui dialog dan langkah-langkah konkret.
“Kami berharap pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan dapat mendengarkan aspirasi rakyat dengan serius,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat internasional juga diharapkan memperhatikan perkembangan situasi kemanusiaan di Tanah Papua.
“Yang kami dorong adalah agar suara rakyat didengar dan persoalan kemanusiaan mendapatkan perhatian yang serius,” kata Ketua KNPB Wilayah Sentani.
KNPB Sentani kembali mengajak masyarakat Tabi dan seluruh komponen masyarakat yang hendak berpartisipasi untuk mengikuti aksi dengan damai, tertib, dan bertanggung jawab.
“Aksi ini harus menjadi ruang bagi rakyat untuk menyampaikan suara dan harapan mereka tentang masa depan Papua,” pungkas Sadracks Lagowan. (*)