DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Perjalanan panjang pembangunan dan pemberkatan Gedung Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Idakebo, bermula dari pembentukan panitia pada 2 Maret dan pelantikan pada 5 Maret 2026. Sepanjang masa persiapan, panitia hanya menggelar empat kali pertemuan, namun mampu menyelesaikan pekerjaan besar dalam waktu dua bulan – Agustus hingga September 2026.
Hal itu disampaikan Ketua Panitia Peresmian, David Goo, kepada wartawan melalui keterangannya yang diterima media ini, Kamis [08/10].
Pertemuan pertama membahas penyusunan program kerja seksi-seksi. Di sini diputuskan masa kerja penuh persiapan selama dua bulan, mengingat seluruh beban kegiatan – dari perencanaan, penggalangan dana, pelaksanaan, hingga puncak acara – dipikul sepenuhnya oleh umat di setiap stasi. Paroki tidak memiliki dana sendiri; segala sesuatu berpulang pada pengorbanan umat yang bekerja, mencari nafkah, sekaligus mempersiapkan acara.
Pertemuan kedua membahas pelaksanaan program kerja, pertemuan ketiga mengatur langkah kerja dan pengalokasian dana, dan pertemuan keempat meninjau kekurangan yang perlu dilengkapi.
Dari Pesimis Menuju Keyakinan: Tuhan yang Menyelesaikan
Pada awalnya, panitia merasa pesimis. Pekerjaan yang direncanakan begitu besar, bahkan ada yang tidak masuk rencana, terasa mustahil dilakukan. Namun kenyataan membuktikan sebaliknya – bangunan kini berdiri tegak.
“Kami percaya penuh bahwa Tuhan ikut campur tangan menyelesaikan tugas ini. Sekali lagi, kami yakin sepenuhnya: pekerjaan ini diselesaikan dengan campur tangan Tuhan,” tegas David.
Dua Sisi Persiapan: Pengorbanan Luar Biasa dan Tantangan yang Dihadapi
Selama dua bulan persiapan, tercatat hal-hal positif sekaligus kendala yang dihadapi:
Sisi Positif:
-Dukungan umat sangat kuat, tercurah lewat doa, tenaga, air mata, sumbangan dana, dan berbagai bentuk bantuan lainnya. Hal ini menunjukkan kerinduan umat yang mendalam terhadap paroki ini.
– Segala urusan berjalan sesuai rencana dan harapan, hingga kerinduan umat terwujud.
– Ada sejumlah umat yang menjadi “pemenang sejati” – mereka rela melupakan kepentingan pribadi, keluarga, dan rumah demi menyelesaikan pekerjaan ini.
– Para donatur senantiasa hadir dan siap membantu setiap kali dibutuhkan.
Sisi Negatif:
– Sebagian pihak memandang pembangunan ini sekadar “proyek”. Bagi panitia, ini adalah proyek Allah – tidak menguntungkan secara finansial, tidak memiliki anggaran resmi seperti instansi pemerintah, tidak ada tekanan waktu dari pemeriksa. Sifatnya yang baru mungkin memunculkan pandangan tersebut.
– Keterlibatan pemuda masih dirasakan kurang. Pola kebiasaan lama membuat sebagian pemuda ragu, maju-mundur, kurang bersemangat, atau menginginkan hasil instan. Beban kerja pun jatuh pada kelompok kecil yang rela berkorban.
– Saat pembentukan panitia, banyak yang ingin namanya masuk dalam struktur. Namun sebelum pekerjaan dimulai, sebagian sudah tidak tampak. Di sinilah iman diuji – apakah bertahan atau menyerah sebelum berjuang.
Tantangan ke Depan dan Harapan Goa Bunda Maria
Goo menegaskan tantangan kehidupan umat ke depan masih berat. Wilayah ini penuh dinamika, namun justru di sinilah titik awal perjuangan iman. Meski merasa lemah, umat telah berusaha mengambil peran.
Sebagai langkah berikutnya, umat Paroki Santa Maria Ratu Rosari Idakebo mengimpikan pembangunan Goa Bunda Maria sebagai tempat ziarah rohani. Goa ini diharapkan menjadi penyeimbang sekaligus lambang iman yang menguatkan umat dan menghapus cap negatif yang melekat di wilayah ini.
Pekerjaan ini memerlukan biaya besar, sementara hampir 99 persen umat berasal dari kalangan ekonomi lemah. Meski demikian, keyakinan tetap tegak: kerinduan ini akan terwujud pada waktunya.
“Kehadiran Bapak Bupati Dogiyai dan Bapak Uskup Timika amat kami harapkan untuk meresmikan monumen ini nanti. Kami juga berharap Bapak-Bapak dapat merespons langkah kecil ini dengan positif, agar menjadi awal kolaborasi yang membawa berkat bagi seluruh rakyat Papua,” tutupnya.***