YAHUKIMO, JELATANEWSPAPUA.COM – Manajemen Markas Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengumumkan dua anggota TPNPB Kodap XVI Yahukimo dan seorang warga sipil meninggal dunia dalam operasi yang disebut dilakukan aparat militer Indonesia di Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua, pada Jumat (17/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterbitkan pada Sabtu (18/7/2026). Informasi itu, menurut TPNPB, berasal dari laporan Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka.
Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom menyebut dua anggotanya yang meninggal adalah Homilek Heluka (22) dan Ereminus Heluka (20). Keduanya disebut sebagai anggota aktif TPNPB Kodap XVI Yahukimo sejak 2024.
Selain itu, TPNPB juga mengatakan seorang warga sipil bernama Yafulok Heluka (30) turut tewas dalam operasi yang sama.
“Kami secara resmi mengumumkan duka nasional kepada seluruh pasukan TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh Tanah Papua atas gugurnya dua pasukan khusus yang ditembak mati oleh aparat militer Indonesia pada 17 Juli 2026 di pusat Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo,” ucap Komnas TPNPB-OPM.
Lebih jauh, operasi tersebut disertai penembakan ke arah kawasan permukiman warga. Menurutnya, situasi tersebut membuat sejumlah warga meninggalkan rumah mereka karena khawatir menjadi sasaran penembakan maupun penangkapan.
“Aparat militer Indonesia juga melakukan penembakan di permukiman warga sipil sehingga warga mengungsi akibat takut menjadi sasaran penembakan dan penangkapan,” katanya.
Dalam pernyataan yang sama, Mayor Kopitua Heluka, sebagaimana dikutip siaran pers TPNPB, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Homilek Heluka dan Ereminus Heluka. Ia juga menyampaikan penghormatan kepada kedua anggota tersebut yang disebut gugur dalam konflik bersenjata di Yahukimo.
Sementara itu, TPNPB-OPM secara organisasi meminta adanya penyelidikan terhadap kematian Yafulok Heluka yang mereka sebut sebagai warga sipil.
“Kami meminta kepada semua pihak untuk melakukan penyelidikan terhadap kematian Yafulok Heluka yang ditembak mati oleh aparat militer Indonesia saat operasi berlangsung,” ucap Sebby.
Sambom, juga menyerukan agar operasi militer tidak dilakukan di kawasan permukiman warga serta meminta pos-pos militer yang berada di sekitar pemukiman sipil dipindahkan dengan alasan untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat. [*]