Oleh: Pengamat hip-hop lokal Papua tengah “@lmcrecording”
Di Balik Tawa Ada Tangisan
Kawan-kawan, atau saudara-saudara sekalian, kita semua tahu apa yang terjadi di sekeliling kita di tanah Papua termasuk Provinsi Papua selatan bahwa, di Merauke tanah yang kita banggakan bersama sedang terluka dalam.

Di mana-mana di tanah ini kita melihat dengan amat sangat jelas bahwa tanah diambil, hutan ditebang, warga diusir, dipersekusi, bahkan disakiti. Orang turun ke jalan, protes atas ketidakadilan, menangis, dan lain sebagainya namun suaranya belum cukup didengar oleh para pemegang kekuasaan.
Di saat yang sama, hip-hop Merauke makin ramai. Banyak nama baru bermunculan, suaranya keren, gayanya khas, karyanya bagus, sungguh bakat yang luar biasa. Tapi ada satu hal yang bikin hati perih yaitu tak satu pun dari lagu-lagu itu menyentuh apa yang sedang terjadi di depan mata kita.
Yang kita dengar cuma pesta, asmara, kesenangan. Seolah-olah semua baik-baik saja. Seolah tanah kita tak sedang dirampas. Seolah tetangga kita tak sedang kehilangan tempat tinggal.
Ini bukan cuma kurang peka. Ini seperti berpura-pura tidak tahu saat orang lain sedang jatuh sakit. Lebih dari itu mengajak anak muda ikut lupa, ikut asyik, ikut buta padahal masalahnya makin besar setiap hari.
Angka yang Tak Bisa Dibantah
Saya tidak mengarang. Semua ini sudah ada di depan kita, sudah dibicarakan, sudah terekam. Misalnya soal tanah dan hak ulayat:
Hampir 2 juta hektar tanah adat Merauke disentuh proyek tanah tempat hidup suku Malind, Yei, Muyu, dan saudara-saudara kita.
Pada Januari 2024 sampai Juni 2025, sekitar 22.272 hektar hutan hilang dibabat begitu saja.
PT Murni Nusantara Mandiri saja sudah buka sekitar 6.996 hektar, naik menjadi 61,9% dalam waktu singkat.
Mereka mulai kerja September 2024, izinnya baru keluar setahun kemudian. Artinya satu tahun beroperasi tanpa izin sah dan warga yang dirugikan yang menggugat ke pengadilan.
Lebih dari 50.000 orang masyarakat adat terancam kehilangan tanah bahkan PBB sudah memperhatikan hal ini.
Jika demikian bagaimana Soal Kekerasan & Penderitaan Nyata yang dialami oleh masyarakat adat kita?
Vincent Kwipalo menolak tanahnya diambil lalu diserang 4 orang di rumahnya sendiri.
Pada tanggal 16 Agustus 2026 di Tanah Miring, ada 5 warga sipil yang terluka saat diusir tanpa ganti rugi.
Sepanjang tahun 2025: 115 peristiwa kekerasan, 130 meninggal, 88 terluka di Papua. Sampai Mei 2026 saja: 43 peristiwa, 32 meninggal, 39 terluka warga biasa jadi korban terbanyak.
Di Boven Digoel, warga mengungsi dari kampung halaman rumah dan sekolah dibakar, tak berani kembali.
Anak muda ikut terlibat kerusuhan bukan karena mereka kejam, tapi karena tak punya suara yang benar-benar membela mereka.
Orang Sudah Berjuang Tapi Suara Mereka Tak Kalian Bawa
Ada luka dan penderitaan yang dialami disana. Tak bisa dipungkiri bahwa krisis ekologi dan kemanusiaan ini semakin parah, yaitu:
Ibu-ibu adat Malind Makleuw turun ke jalan, wajah dilumuri tanah putih sebagai tanda duka pada September 2024, dua tahun yang lalu.
Lima warga adat ajukan gugatan ke PTUN Jayapura Perkara No. 9/G/LH/2026.
Lalu ada sejumlah Warga datang ke Keuskupan Agung Merauke dan pergi ke Jakarta demi menolak tanah mereka diambil, supaya didengarkan dan disurakan namun sampai saat ini tak membuahkan hasil yang holistik.
Ingat bahwa masyarakat adat mereka tidak diam. Mereka berteriak dan bersuara atas nama hak, kewajiban, kemanusiaan dan perlindungan. Tapi kalian yang punya suara, yang bisa bernyanyi yang didengar banyak orang diam saja.
Bernyanyi Saat Tetangga Menangis
Inilah yang bikin sedih sekaligus kecewa. Saat ini tanah diinjak, hutan habis, saudara kita kehilangan tempat tidur, rumah, kebun, kemudian lagu yang keluar cuma bicara pesta, cinta, gaya. Seolah itu semua yang penting, manakah yang lebih penting?. Kalian bangga punya ciri khas Merauke. Memang keren. Tapi ciri khas apa yang lupa pada tanah yang memberi kalian makan?
Dulu ada Nick Young Money. Dia nyanyi bukan sekadar untuk asyik. Dia bilang hutan kita sedang habis, orang Papua akan terlupakan. Dia berani bicara. Sekarang dia sudah tiada dan suaranya ikut hilang.
Yang ada sekarang: hanya yang bebas, yang dikenal, yang punya panggung malah bikin lagu yang melenakan anak muda. Mengajarkan mereka lupa akan semua masalah, yang sedang terjadi didepan mata. Ini bukan hiburan. Ini menyesatkan. Anak muda yang seharusnya bangun, malah dibuai tidur. Yang seharusnya peduli, malah diajarkan acuh tak acuh.
Pesta Babi Saat Semua Habis, Kemana Pergi?
Saya sebut ini “Pesta Babi” makan sepuasnya, tak peduli tempatnya rusak, sampai tak ada yang tersisa, lalu pergi. Perusahaan ambil hutan, pergi. Penguasa ambil untung, pergi. Dan kalian makan tepuk tangan, lalu diam saat warga kehilangan segalanya.
Ada yang bilang: “Musik itu hiburan, tak harus berat.” Hiburan di atas penderitaan orang lain? Tertawa saat tetangga kehilangan rumah? Itu bukan hiburan. Itu tidak tahu malu. Ada yang bilang: “Saya cuma seniman, bukan pejuang.” Kalau bukan kalian yang pakai suara, siapa lagi? Pejabat yang jual tanah? Perusahaan yang tebang hutan? Atau warga yang sudah tak punya suara?
Hip-hop itu lahir dari orang-orang yang tak didengar. Tugasnya menyuarakan yang tak bersuara. Kalau di Merauke cuma jadi lagu pesta, berarti kalian sudah melupakan asal-usulnya sendiri.
Bangun Sebelum Terlambat
Saya tulis ini bukan untuk membenci. Saya tulis karena sayang pada bakat yang luar biasa, pada suara yang didengar banyak orang, pada generasi yang seharusnya memimpin daerah ini. Tapi jujur bahwa diam di saat seperti ini sama saja membantu perusak. Saat kalian mengalihkan perhatian anak muda dari masalah nyata ke hal yang kosong kalian bukan netral. Kalian membuat mereka lupa untuk peduli.
Maka itu menurut hemat kami ada dua jalan yang menjadi solusi atau alternatif, yaitu:
Pertama, Buka mata. Keluar lihat keadaan. Temui warga di Tanah Miring, Jagebob, Ilwayab, tempat-tempat lain. Dengarkan cerita mereka. Masukkan ke dalam karya. Bukan sekadar sekali-sekali jadikan itu bagian dari siapa kalian.
Kedua, Tetap seperti sekarang. Terus bernyanyi saat hutan ditebang. Terus berpesta saat tetangga diusir. Tapi ingat: suatu hari pesta akan berakhir. Lalu kalian berdiri di tanah yang gundul, di antara orang-orang yang kecewa dan tak ada lagu yang bisa menutupi rasa malu itu. Karena pada akhirnya: ketika tanah tak punya lagi, tak ada panggung yang cukup besar untuk menutupi kehilangan itu. Ingat bahwa bakat yang tak membela tanahnya, adalah harta yang disimpan untuk diambil orang lain.
Sumber Rujukan
Lih, Data hutan dan perusahaan: Satya Bumi, Pusaka Bentala Rakyat, 2025-2026.
Bdk, Kekerasan dan korban: Komnas HAM, CNN Indonesia, 2026.
Bdk, Gugatan warga: PTUN Jayapura Perkara No. 9/G/LH/2026.
Lih, Kasus Vincent Kwipalo: Selamatkan Hutan Hujan, Pusaka Bentala Rakyat.
Aksi warga: The Stance, Tempo, Jubi.
Bdk, Nick Young Money dan suara lewat lagu: Papuans Speak, Jubi.
Bdk, Peringatan PBB soal penggusuran: Mongabay, Juni 2025.