PANIAI, JELAJATANEWSPAPUA.COM – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Paniai menggelar sosialisasi pencegahan HIV/AIDS kepada Orang Muda-Mudi Katolik (Mudika) se-Paroki Kristus Jaya Komopa, Rabu (24/6/2026) lalu, malam petang. Kegiatan berlangsung di Komopa, Distrik Fajar Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah.
Sosialisasi ini disambut baik oleh Peserta Mudika, kegiatan ini pula merupakan inisiatif dari rangkaian kegiatan Mudika yang diselenggarakan Koordinator Mudika Paroki Kristus Jaya Komopa dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai wilayah pelayanan, yakni Wilayah Komopa, Wilayah Uwodege, Wilayah Agapo, Wilayah Tuguwai, serta para simpatisan dan anggota KPA Kabupaten Paniai.
Ketua KPA Kabupaten Paniai yang diwakili Sekretaris KPA, Agustinus Muyapa, S.H., menyampaikan apresiasi kepada panitia dan jajaran pengurus Mudika yang telah mengundang KPA untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan HIV/AIDS kepada generasi muda.
“Kami hadir di tempat ini bukan secara kebetulan, tetapi karena diundang untuk memberikan edukasi tentang pencegahan HIV/AIDS kepada umat Mudika. Kami menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh pengurus Mudika yang telah memberikan kesempatan kepada KPA untuk berbagi pengetahuan,” ujar Agustinus.

Ia menegaskan, kehadiran KPA merupakan bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan dan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai bahaya HIV/AIDS serta pentingnya langkah-langkah pencegahan.
Menurutnya, informasi yang telah diterima peserta diharapkan tidak berhenti di ruang sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan diteruskan kepada keluarga maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Kami berharap seluruh peserta menjadi agen edukasi di tengah masyarakat. Apa yang telah dipelajari hari ini dapat dibagikan kepada keluarga, teman, dan kerabat sehingga semakin banyak masyarakat yang memahami cara mencegah HIV/AIDS,” katanya.
Dalam sesi penyampaian materi, Yosua Yogi, S.Kep., Ners, menjelaskan secara komprehensif mengenai HIV/AIDS menggunakan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Mee agar lebih mudah dipahami peserta.
Materi yang disampaikan meliputi sejarah HIV/AIDS di dunia dan Indonesia, penyebab dan gejala penyakit, cara penularan, langkah-langkah pencegahan, pengobatan melalui terapi Antiretroviral (ARV), hingga pentingnya menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Yosua menekankan bahwa pemahaman yang benar menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan HIV/AIDS sekaligus membangun sikap peduli terhadap sesama.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, setiap individu harus memiliki kesadaran untuk menjaga diri dan keluarganya dari risiko penularan HIV/AIDS. Di sisi lain, kita juga tidak boleh memberikan stigma maupun diskriminasi kepada ODHA karena mereka berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan dukungan sosial yang sama,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh tenaga kesehatan berkewajiban memberikan pelayanan secara profesional, manusiawi, dan tanpa membedakan latar belakang setiap pasien.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Setelah pemaparan materi, peserta diberikan kesempatan mengikuti sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman mengenai HIV/AIDS. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan seputar pencegahan, penularan, hingga pengobatan HIV/AIDS.

Sementara itu, sesi berikutnya, Ketua Panitia penyelenggara kegiatan Mudika, Niko Bunai, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Paniai yang telah memenuhi undangan panitia untuk memberikan sosialisasi kepada para peserta.
Menurut Niko, kehadiran KPA memberikan nilai tambah bagi kegiatan pembinaan Muda Mudi Katolik (Mudika) karena para peserta memperoleh pengetahuan yang sangat penting mengenai pencegahan HIV/AIDS.
“Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih kepada KPA Kabupaten Paniai yang telah meluangkan waktu hadir bersama kami. Materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi seluruh peserta Mudika karena memberikan pemahaman tentang bahaya HIV/AIDS, cara pencegahannya, serta pentingnya menghilangkan stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA),” ujar Niko Bunai.
Sebagai Ketua Panitia sekaligus penanggung jawab kebutuhan penyelenggaraan kegiatan Mudika, Niko berharap kerja sama seperti ini dapat terus terjalin pada kegiatan-kegiatan pembinaan generasi muda di masa mendatang.
“Kami berharap sinergi antara Gereja dan KPA Kabupaten Paniai dapat terus dibangun sehingga semakin banyak generasi muda yang memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian terhadap kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan HIV/AIDS,” tutupnya.
Melalui sosialisasi ini, Agustinus Muyapa mengatakan atas nama KPA Kabupaten Paniai berharap generasi muda semakin memahami pentingnya menjaga perilaku hidup sehat, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta menjadi pelopor dalam menyebarkan informasi yang benar mengenai pencegahan HIV/AIDS di tengah masyarakat dan sampaikan pesan ini kepada kerabat kita. [*]